Kepala BKKBN: Cegah Stunting Mulai Dari Remaja Putri

  • Bagikan
Kepala BKKBN DR (HC) dr Hasto Wardoyo

JAKARTA (Waspada): Remaja dinilai sebagai salah satu kelompok potensial yang perlu dilibatkan dalam berbagai program pencegahan stunting. Hal itu disebabkan stunting atau berhenti tumbuh pada anak-anak bukan terjadi tiba-tiba. Stunting adalah sebuah siklus dan dimulai dari kondisi remaja putri sebagai calon ibu.

“Jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaja, akan berisiko punya anak kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya dan terus berputar. Siklusnya dimulai dengan kondisi kesehatan remaja putri. Maka masalah stunting harus jadi perhatian sejak remaja. Harapannya agar mereka menjaga asupan gizi, karena remaja adalah calon orang tua,” ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), DR (HC) dr Hasto Wardoyo dalam acara imbuh dokter Hasto dalam virtual Webinar Hari Keluarga Nasional Ke-28 dengan tema ‘Sobat Milenial, Yuks Cegah Stunting’, Kamis (24/6).

Data Riskesdas 2018 menunjukkan, 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus. Hasil Global Health Survey 2015 menunjukkan, penyebab tingginya angka stunting antara lain karena remaja jarang sarapan, dan 93 persen kurang makan serat sayur buah.

Kondisi itu makin memprihatinkan jika ditambah angka pernikahan remaja di Indonesia yang tinggi. Pernikahan usia muda ini juga berkontribusi besar pada padahal kejadian stunting.

“Remaja belum paham tentang pentingnya gizi dan stimulasi yang tepat. Pengetahuan mereka sangat terbatas tapi mereka harus menikah, hamil dan menjadi ibu. Oleh karena itu melibatkan remaja dalam penanggulangan stunting menjadi penting dikarenakan remaja berada di garis depan dalam inovasi dan sebagai agen perubahan,” imbuh Hasto.

Upaya mencegah stunting sejak calon pengantin sebagai kelompok usia subur dapat menjadi sasaran paling strategis untuk program intervensi gizi prakonseps. Karena mereka adalah kelompok yang siap untuk hamil. Oleh karena itu, akan lebih efektif jika program intervensi untuk mencegah stunting dilakukan pada kelompok ini.

“Program intervensi gizi prakonsepsi sesungguhnya dapat dilakukan melalui layanan pranikah,” ujar Hasto.

Ditambahkannya, bayi lahir yang sehat merupakan modal awal untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang unggul di masa depan serta terbebas dari masalah stunting. Stunting yang terjadi pada masa balita merupakan kantong dari berbagai masalah kesehatan, terutama timbulnya berbagai penyakit kronis yang berkaitan dengan gizi yang timbul kelak ketika mereka dewasa, sehingga menjadi beban pembiayaan bagi negara.

“Oleh karena itu, mari bersama-sama mencegah stunting melalui pendampingan calon pengantin, ibu hamil maupun keluarga demi lahirnya bayi yang sehat,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Muhammad Rizal Martua Damanik menambahkan, stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang tidak hanya sel tulangnya saja yang terganggu tapi juga sel otaknya yang paling sensitif mengalami gangguan dan hambatan pertumbuhan sel otaknya itu dan tidak mampu bekerja 3 sampai 4 jam, tapi setengah jam saja sudah gagal fokus.

“Selain itu juga akan mengganggu organ tubuh yang paling penting dan akan mudah terserang penyakit”, tambah Rizal.

Berdasarkan Laporan Global Nutrition Report 2016 mencatat bahwa prevalensi stunting di Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara. Target penurunan prevalensi stunting di Indonesia diselaraskan dengan target global, yaitu target World Health Assembly (WHA) untuk menurunkan prevalensi stunting sebanyak 40 persen pada tahun 2025 dari kondisi tahun 2013. Sebagaimana diketahui dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 bahwa penurunan prevalensi Stunting Balita di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018). Selain itu, target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) adalah menghapuskan semua bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030.

Sedangkan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, saat ini telah terjadi penurunan prevalensi stunting dari 30,8% pada tahun 2018 (Riskesdas 2018) menjadi 27,67% tahun 2019.(J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *