Cegah Stunting dan Perkuat Pola Asuh, BKKBN Gandeng Tanoto Foundation

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Tanoto Foundation bersepakat menandatangani perjanjian kerja sama dalam upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Head of Early Childhood Education and Development (ECED), Tanoto Foundation, Eddy Henry bersama Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Rabu (19/5).

Kapasitas Tanoto Foundation sebagai organisasi filantropi independen melalui program Pengembangan dan Pendidikan Anak Usia Dini _(Early Childhood Education and Development (ECED) sejalan dengan program-program BKKBN yang menyasar keluarga.

Kepala BKKBN, DR (HC) dr Hasto Wardoyo mengatakan, langkah kerja sama sejalan dengan keinginan kuat Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Presiden Joko Widodo lantas menunjuk Kepala BKKBN sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting.

Diantara 5 juta kelahiran bayi setiap tahun, sebanyak 1,2 juta bayi lahir dengan kondisi stunting. Stunting itu merupakan produk yang dihasilkan dari kehamilan, ibu hamil yang menghasilkan bayi stunting. Saat ini, bayi lahir saja sudah 23% prevalensi stunting. Kemudian setelah lahir, banyak yang lahirnya normal tapi kemudian jadi stunting hingga angkanya menjadi 27,6%. Artinya dari angka 23% muncul dari kelahiran yang sudah tidak sesuai.

“Sebagai lembaga pemerintah, BKKBN mendapat mandat langsung dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk menjalankan upaya-upaya pencegahan stunting dalam skala nasional. Tanoto Foundation mewujudkan kerja sama dengan BKKBN sebagai dukungan untuk mengurangi jumlah stunting di Indonesia dan demi tercapainya pendekatan multigenerasi pencegahan stunting,” tambah dokter Hasto.

Stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya.

Masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019. Walaupun angka stunting ini menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, mengingat WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen. Angka stunting disebabkan berbagai faktor kekurangan gizi pada bayi.

Pada kesempatan yang sama _Head of Early Childhood Education and Development (ECED)_, Tanoto Foundation, Eddy Henry mengatakan, dengan komitmen untuk meningkatkan kualitas manusia sedini mungkin, sebagai salah satu tujuan program ECED dari Tanoto Foundation, yang dijalankan melalui intervensi pencegahan stunting, maka kerja sama dengan BKKBN menjadi sesuatu yang sangat penting dan semoga dapat berdampak positif bagi masyarakat Indonesia di masa depan.

Sumber daya manusia BKKBN yang berjumlah kurang lebih 32.400 Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan lebih dari 400.000 Kader Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan garda terdepan yang dapat memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang pencegahan stunting dan pengasuhan anak. Dengan dukungan program dan modul parenting, pengembangan dan implementasi modul digital parenting, serta situs web untuk remaja yang berencana menikah (siapnikah.org) peran BKKBN sangat strategis untuk pengurangan stunting di Indonesia.

Pendekatan yang dilakukan oleh BKKBN sejalan dengan strategi program penurunan prevalensi stunting dari Tanoto Foundation. Sejak 2019, Tanoto Foundation telah melakukan beberapa program di tingkat nasional, daerah maupun komunitas, untuk membantu pemerintah menurunkan prevalensi stunting di Indonesia. Dengan kerja sama dengan Bank Dunia (World Bank) dan TP2AK, Tanoto Foundation mendukung pelaksanaan program percepatan penurunan stunting dan implementasi program _Investing in Nutrition and Early Years (INEY) yang mencakup program Human Development Worker (HDW)_ dan penyusunan petunjuk teknis penyusunan strategi komunikasi perubahan perilaku. Bekerja sama dengan Kementerian Sosial, Tanoto Foundation juga telah membantu penyusunan modul Pencegahan dan Penanganan Stunting yang akan digunakan oleh para Pendamping PKH untuk meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku keluarga penerima manfaat PKH untuk mencegah stunting. Selain itu, untuk membantu pemerintah tingkat kabupaten atau kota dalam percepatan pencegahan stunting, Tanoto Foundation di tahun 2021 juga melakukan pendampingan teknis ke tujuh kabupaten untuk menyusun, mendalami, memetakan dan menerapkan strategi komunikasi perubahan perilaku pencegahan stunting. Melihat adanya kesamaan visi dalam penurunan angka stunting di Indonesia, Tanoto Foundation dan BKKBN bersepakat untuk bekerja beriringan. (J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *