BKKBN dan Nestle Bersinergi Turunkan Angka Stunting

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Persentasi anak di bawah usia lima tahun (balita) yang mengalami gagal tumbuh atau populer disebut stunting mencapai 27,7 persen dari 23 juta balita yang ada di Indonesia. Itu artinya ada sedikitnya 6,3 juta anak Indonesia mengalami stunting.

Sampai 2024, Pemerintah Indonesia menargerkan penurunan stunting dari 27,7 persen menjadi 14 persen. Mencapai target tersebut, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr Sapto Wardoyo mengatakan perlunya inovasi dan sinergi luar biasa.

“Tentu penurunan stunting yang signifikan itu bukan upaya yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Strategi yang dijalankan adalah terus berinovasi dan bersinergi,” ujar Sapto Wardoyo usai penandatanganan kerja sama program penurunan angka stunting di Indonesia dengan PT Nestlé Indonesia, Selasa (14/12). Penandatangan dilakukan Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dan Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia Ganesan Ampalavanar.

Hasto menyambut baik inisiatif Nestlé untuk terlibat secara konkret dalam penanggulangan stunting di Indonesia. Dia meyakini langkah yang dilakukan Nestle akan berdampak baik tidak hanya bagi masyarakat konsumen, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia Ganesan Ampalavanar mengatakan, kerja sama akan mulai berjalan di awal 2022.

Program kerja sama dengan BKKBN ini diberi nama Nestlé Dukung Anak Lebih Sehat (Nestlé For Healthier Kids). Tujuannya membantu anak Indonesia untuk hidup lebih sehat melalui pemberian edukasi gizi dan tumbuh kembang kepada orang tua dan individu di sekitar anak.

Cara yang dilakukan adalah fortifikasi atau menambahkan asupan gizi dalam sejumlah produksi Nestle. Produksi pangan bergizi yang diproduksi nantinya akan diberikan kepada program dapur sehat (dahsat) yang menjadi andalan BKKBN untuk upaya penurunan stunting.

“Langkah pertama akan dilakukan di empat provinsi yakni  program penurunan stunting kepada masyarakat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Rencananya kami akan mulai bergerak pada 2022.

Stunting adalah kondisi kekurangan asupan gizi yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, anak stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi anak seumurnya. Stunting dapat dicegah, antara lain melalui pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil dan anak-anak khususnya pada usia dini. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 27,7 persen. Sedangkan bila mengacu pada  Badan Kesehatan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting mencapai lebih dari 20 persen.(J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.