Kafilah Se Aceh, Selamat Bertanding Di Pidie

SIGLI (Waspada): Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Aceh ke XXXIV tahun 2019 resmi dibuka oleh Plt Gubenur Aceh Nova Iriansyah. Sabtu (21/9) malam, bertempat di gedung Pidie Convention Center (PCC) Gampong (desa) Lampeudeu Baroh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie.

Kafilah Se Aceh, Selamat Bertanding Di Pidie
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyerahkan piala bergelir kepada bupati Pidie Roni Ahmad pada acara malam pembukaan MTQ Aceh ke XXXIV di gedung Pidie Convention Center (PCC), sabtu (21/9) malam. Waspada/Muhammad Riza

Sebanyak 2.238 orang kafilah, yang datang dari 23 kabupaten/kota se Provinsi Aceh di Kabupaten Pidie daerah berjuluk Pang Ulee Buet Ibadat, Pang Ulee Hareukat Meugoe. Mereka siap berjuang merebut juara umum untuk daerahnya masing-masing. Bagi Kabupaten Pidie, ini merupakan kepercayaan kedua dari Pemerintah Provinsi Aceh sebagai tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Aceh.

Dimana, pada tahun 1987 atau 32 tahun silam, daerah ini sukses menjadi tuan rumah MTQ Aceh yang dipusatkan di Komplek Universitas Jabal Ghafur (Unigha). Sebelum MTQ tingkat Provinsi Aceh, ini dibuka secara resmi oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, sabtu (21/9) malam.

Sejumlah rangkain serimonial telah dilakukan sejak pagi. Diantaranya pawai ta’aruf, pengukuhan dewan hakim serta kegiatan-kegiatan lainnya. Pada malam puncak rangkaian acara dibuka dengan tari-tarian yang dibawakan oleh 100-an lebih para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam sanggar seni Pusaka Nanggroe.

Pembukaan acara ini berlangsung meriah. Namun acara ini sempat ternoda, karena adanya kabar sejumlah Kafilah putra asal Kabupaten Aceh Jaya mengaku kehilangan Handphone (telepohone genggam), saat mereka berada di Masjid Al-Ikhlas Perumnas Lhok Keutapang, Kecamatan Pidie. Kejadian itu berlangsung saat handphone milik mereka sedang mengisi daya.

Kendati begitu secara umum pelaksanaan pembukaan MTQ Aceh ke XXXIV berlangsung sukses. Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, dalam sambutannya mengatakan  Al-Qur’an adalah kitab suci yang keberadaannya sangat berbeda dengan kitab-kitab suci agama samawi lainnya.

Hal ini, karena Al-Qur’an merupakan sebuah kitab lisan yang diucapkan secara terang. “Tentu Al-Qur’an yang dibaca secara terang dengan menggunakan nada seni akan lebih baik dari pada diucap secara diam-diam” katanya. Nova juga menyebutkan, bahwa Rasullullah SAW adalah seorang qari yang mampu mendengungkan suaranya tatkala membaca Al-Qur’an.

“Suatu ketika Beliau membaca salah satu ayat yang terdapat dalam surat “Al-Fath”, lantunan suara beliau yang merdu sempat membuat para sahabat Beliau terpukau, malah Unta yang ditunggangi beliau pun terperanjat” cerita Nova Iriansyah. Kata Nova, sejak zaman Rasulullah membaca Al-Qur’an dengan lisan dan suara yang merdu sangat digalakkan bahkan dianjurkan Nabi Muhammad SAW.

Hal ini karena bacaan dengan lengkingan dan suara merdu akan menggetarkan jiwa dan menambah keimanan kepada Allah SWT. Sehubungan dengan itu, maka penyelenggaraan event MTQ menjadi salah satu sarana menjaga kemurnian Al-Qur’an, dan melalui tradisi lisan para pembaca dan penghafal, sehingga Al-Qur’an tetap terjaga eksistensinya dari satu generasi ke generasi yang lain.

Upaya menjaga kemurnian Al-Qur’an inilah yang menjadi salah satu misi dan tujuan penting Pemerintah mengadakan berbagai perlombaaan dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an. Disamping itu sebut Plt Nova Iriansyah, MTQ juga menjadi sarana dakwah dengan upaya memperkenalkan Al-Qur’an kepada masyarakat. MTQ menjadi salah satu media yang sangat efektif dalam menyebarkan syiar Islam karena unsur seni 2,3 dalam MTQ dianggap sebagai salah satu daya tarik tersendiri yang dapat mendorong minat masyarakat dalam mempelajari Al-Qur’an.

“Pada kesempatan yang mulia ini, saya mengajak agar kita tidak memandang MTQ sebagai sebuah acara rutinitas pemerintah saja, juga bukan hanya sebagai ajang kompetisi dalam seni membaca Al-Qur’an. Melainkan kita mesti melihat bahwa esensi pergelaran event MTQ sebagai sarana menyebarkan syiar Islam, ajang memperkuat ukhuwah, dan mempererat silaturahim, yang pada akhirnya akan melahirkan kesadaran umat Islam mencintai dan memuliakan Al-Qur’an” katanya.

Karenanya lanjut Nova Iriansyah, event MTQ ini diharapkan dapat memambah minat masyarakat dalam membaca dan belajar Al-Qur’an serta mengupayakan agar Al-Qur’an benar-benar tertanam dalam hati masyarakat, menghadirkan suasana Islami, dan dapat membawa pengaruh positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bupati Pidie Roni Ahmad selaku ketua panitia pelaksana, dalam kesempatan itu melaporkan Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Aceh Ke-XXXIV, ini dikuti oleh semua Kabupaten/Kota di Aceh dengan jumlah Kafilah sebanyak 2.238 Orang. Dia merincikan, 584 peserta putra, 566 peserta putri, dan 1.105 Official.

“Jumlah tamu undangan yang hadir sejumlah 1.331orang” kata Roni Ahmad yang biasa disapa Abusyik. Abusyik juga melaporkan jumlah kegiatan yang diperlombakan tujuh cabang yang terbagi dalam 26 golongan. Diantaranya cabang Tilawah Al-Qur’an, cabang HifzilAl-Qur’an, cabang Tahfiz Al-Qur’an, cabang Fahmil Al-Qur’an, cabang Syarhil Al-Qur’an, cabang Khathil Al-Qur’an, dan cabang Musabaqah Makalah Al-Qur’an (MMQ).

Bupati Roni, juga melaporkan dalam mensukseskan kegiatan tersebut dibangun 10 mimbar tersebar dalam kecamatan Kota Sigli, dan Kecamatan Pidie. Roni Ahmad, mengajak mengajak semua masyarakat Aceh untuk jadikan MTQ tingkat Provinsi Aceh ini sebagai salah satu media untuk menebarkan syiar Islam di tengah derasnya arus perubahan sosial dan budaya masyarakat dewasa ini.

“Mari kita jadikan setiap penyelenggaraan MTQ sebagai momen untuk mendorong meningkatkan pengetahuan, penghayatan dan pengamalan Al-Qur'an di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa kita pada umumnya sehingga kegiatan musabaqah ini tidak sekedar dianggap rutinitas dan seremonial yang kehilangan makna dan ruh dari MTQ itu sendiri” katanya. (b10)