Waspada
Waspada » Warga Malaysia Banyak Yang Menolak Muhyiddin Menjabat PM
Internasional

Warga Malaysia Banyak Yang Menolak Muhyiddin Menjabat PM

Muhyiddin Yassin (tengah) diiringi oleh keluarganya bersiap menuju Istana untuk diangkat sumpahnye sebagai perdana menteri Malaysia, Minggu (1/3/2020). AP

KUALA LUMPUR, Malaysia (Waspada): Tanda pagar (tagar) #NotMyPM segera menjadi trending di Twitter setelah Muhyiddin Yassin dilantik sebagai Perdana Menteri kedelapan Malaysia pada Minggu.

Dia ditunjuk Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah karena dianggap mampu untuk memimpin mayoritas di parlemen. Penunjukan itu tak pelak menimbulkan kecaman baik dari politisi yang tergabung dalam koalisi Pakatan Harapan, maupun netizen.

Seperti dilansir AFP, Senin (2/3/2020), tagar #NotMyPM pun trending di Twitter. Seorang netizen bernama Sharifah Hani Yasmin, melampirkan unggahan dari kantor berita Malaysia, Bernama, yang memberitakan pelantikan Muhyiddin.

Dalam unggahan tersebut Yasmin menulis, “Pemerintah yang tidak dipilih oleh rakyatnya sendiri. Suatu hari nanti, rakyat akan bangkit. NotMyPM.” Berikutnya ada sekelompok orang yang menggelar aksi unjuk rasa di pusat kota Kuala Lumpur.

“Ini bukanlah orang yang kami beri mandat dua tahun lalu. Orang-orang ini bukanlah yang kami pilih,” ujar salah satu demonstran bernama Soon. Ia juga meneriakkan “Hidup rakyat!”

Kemudian Mahathir Mohamad juga menyerukan agar diadakan sidang istimewa Parlemen untuk membuktikan klaim bahwa Muhyiddin memegang mayoritas. “Dia (Muhyiddin) tentunya akan dilantik sebagai perdana menteri. Langkah selanjutnya adalah kami bisa mengajukan mosi tak percaya kepadanya,” jelasnya.

Dia menuturkan jika pemerintah baru tidak segera dibentuk dalam waktu cepat, bisa dikatakan PM tidak mendapat dukungan penuh. Merujuk kepada Konstitusi Malaysia, seorang PM harus mendapat dukungan dari mayoritas parlemen, tanpa perlu memandang dari mana partai politiknya.

Jika Parlemen tidak diizinkan untuk menggelar sidang luar biasa, maka PM berusia 72 tahun tersebut tidak bisa mendapat dukungan yang cukup. Mahathir Mohamad mengatakan, dia sangat terpukul dan kecewa karena Muhyiddin Yassin sampai mendongkelnya dari jabatan orang nomor satu Negeri “Jiran”. “Saya dikhianati terutama oleh Muhyiddin. Dia ternyata sudah merencanakan ini untuk waktu yang lama, dan dia sukses,” keluhnya.

Krisis berawal ketika Mahathir Mohamad mengundurkan diri sebagai PM Malaysia pada Senin (24/2/2020). Hal itu membuatnya jadi PM dengan masa jabatan tercepat.

Politisi berjuluk Dr M tersebut mundur setelah Bersatu yang dipimpin Muhyiddin Yasmin menggelar pertemuan rahasia sehari sebelumnya. Pertemuan itu antara lain dihadiri oleh oposisi seperti Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) serta Partai Islam se-Malaysia (PAS).

Mahathir menyatakan, dia memutuskan mengundurkan diri karena tidak ingin bekerja sama dengan UMNO, partai yang dikalahkannya dalam Pemilu 2018. (afp/And)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2