Waspada
Waspada » Warga Desa Miskin Di Venezuela Panen Harta Karun ‘Dari Tuhan’
Internasional

Warga Desa Miskin Di Venezuela Panen Harta Karun ‘Dari Tuhan’

Sejumlah harta karun yang ditemukan oleh para warga desa nelayan miskin di pesisir pantai Venezuela. New York Times

CARACAS, Venezuela (Waspada): Para warga desa nelayan miskin di pesisir pantai Venezuela dalam beberapa bulan terakhir menjadi kaya mendadak setelah menemukan perhiasan dan bongkahan emas, perak serta beberapa ornamen berharga lainnya di pantai.

Dilansir laman New York Post, Minggu (13/12/2020), pria bernama Yolman Lares (25) adalah yang pertama menemukan ‘harta karun’ itu di pesisir pantai Guaca pada September lalu.

Ketika Lares hendak kembali ke gubuknya, dia melihat sesuatu yang berkilauan di sepanjang pantai. Dia menggaruk pasir dengan jemarinya dan tangannya menarik sebuah medali emas bergambar Bunda Maria.

“Saya lalu gemetar dan menangis saking senangnya,” ujar Lares kepada New York Times (NYT). Menurutnya itu adalah hal istimewa pertama yang dia alami dalam hidupnya.

Benda itu langsung dijual olehnya dan dia mendapatkan US$125, atau setara dengan Rp1,7 juta.  Uang itu dibuatnya untuk membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar.

Dia juga memperbaiki televisi yang rusak dan memberikan hiburan bagi keluarganya di rumah mereka yang berlantaikan tanah dan beratap seng yang bocor.

Sejak penemuan pertama itu, puluhan warga desa nelayan lainnya mulai mencari “harta karun” mereka masing-masing di pesisir pantai. Tidak sedikit yang menemukan cincin emas.

Seorang nelayan bernama Ciro Quijada mengatakan kepada NYT bahwa penemuan emas- emas di pesisir pantai itu adalah ‘agenda Tuhan’. “Ini adalah campur tangan Tuhan, ini adalah agendanya,” ujar Quijada.

Yolman Lares (kedua kanan), salah satu nelayan miskin yang menemukan harta karun, bersama keluarganya di dalam gubuk mereka yang sangat memprihatinkan. New York Times

Semenanjung Christopher Columbus

Tak ada yang tahu dari mana asal emas dan perhiasan lainnya itu. Peristiwa itu menjadi buah bibir di desa nelayan tempat Lares dan Quijada tinggal. Misteri itu bercampur dengan folklor dan legenda tentang bajak laut Karibia.

Jika sedikit membuka sejarah semenanjung Paria di Venezuela itu, pantai dengan teluk dan pulau yang indah memang sudah menjadi perlindungan bagi para pelancong.

Di semenanjung itulah pada 1498, Christopher Columbus menjadi orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di benua Amerika Selatan, dia mengira menemukan pintu masuk ke Taman Surgawi. Belakangan ini garis pantai yang sudah tak dipertahankan itu sering “digerebek” oleh bajak laut Belanda dan Perancis.

Kini, wilayah itu menjadi surga bagi para penyelundup narkoba dan bahan bakar, serta bajak laut modern yang memangsa para nelayan yang kesusahan. Selama berminggu-minggu, warga desa nelayan Guaca itu diliputi spekulasi.

Mungkinkah emas-emas itu adalah harta karun kolonial yang tenggelam dan mencuat ke permukaan? Apakah itu adalah harta karun milik penyelundup modern yang hendak menuju ke Trinidad terdekat?

Yang jelas, para penduduk desa Guaca segera menjual semua temuan mereka untuk membeli makanan. “Apapun yang kami temukan, langsung masuk ke mulut,” kata Hernan Frontado, seorang nelayan sekaligus mertua dari Lares.

Sebelum krisis ekonomi Venezuela dimulai pada 2014, Guaca dan desa-desa di sekitarnya adalah pemasok ikan sarden dan tuna kalengan ke Amerika Latin. Namun kini, hanya 8 dari 30 pabrik sarden yang beroperasi di daerah itu, adapun pengalengan tuna di dekatnya yang dimiliki pemerintah Venezuela telah bangkrut.

“Pemerintah sama sekali tak peduli dengan kami,” kata Jose Campos, seorang nelayan pencari ikan sarden. “Kami terus memberi mereka ikan, namun kami tidak mendapat imbalan apapun.”

Tahun ini, bahan bakar sangat langka sehingga para nelayan harus mendayung sampai ke tengah laut lepas atau tinggal di perahu kecil mereka selama beberapa hari, berjuang tanpa bensin, melawan badai, kehausan dan melawan bajak laut. (new York times/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2