UU Pembatasan Sipil Picu Kerusuhan Di Prancis - Waspada

UU Pembatasan Sipil Picu Kerusuhan Di Prancis

  • Bagikan
Polisi antihuru-hara di Paris, Prancis, Sabtu, bersiap menghadapi para demonstran yang menentang undang-undang keamanan baru karena dinilai akan membatasi kebebasan warga sipil. AP

PARIS, Prancis (Waspada): Kerusuhan pecah di Paris, Prancis, pada Sabtu (5/12/2020) waktu setempat, yang dipicu oleh undang-undang keamanan baru karena dinilai akan membatasi kebebasan warga sipil.

Dari laporan AFP disebutkan para demonstran bentrok dengan polisi, kendaraan dibakar, dan jendela tok-toko dipecahkan. Ini adalah satu dari hampir 100 demo yang rencananya digelar di seantero Prancis untuk menentang UU keamanan baru

Ribuan orang berkumpul di kota-kota seperti Montpellier, Marseille, dan Nantes di mana dua polisi terluka akibat lemparan bom Molotov.

Kelompok hak asasi manusia dan kebebasan media memimpin aksi protes ini, untuk menuntut pemerintah membatalkan atau merevisi UU yang akan melarang warga merekam polisi.

Menurut warga, aturan itu akan membuat penuntutan kekerasan yang dilakukan polisi jadi lebih sulit.

Setelah empat polisi didakwa pada 30 November atas pemukulan terhadap produser musik berkulit hitam, Michel Zecler, para anggota parlemen dari partai Presiden Emmanuel Macron berjanji akan menulis ulang sebagian draf UU itu.

“Tiada hari tanpa mendengar kebrutalan polisi,” kata Amal Bentounsi yang mendirikan badan penampung korban kekerasa aparat.

“UU keamanan ini menyasar mereka yang telah mengalami penindasan selama bertahun-tahun, terutama kalangan kelas pekerja,” tambah wanita itu.

Pemukulan terhadap Zecler menjadi pemicu awal demo menentang rasialisme yang mengakar di tubuh kepolisian Prancis. Para aktivis menuding perlakuan polisi beda jika memeriksa orang Arab dan kulit hitam.

Namun jumlah orang yang berdemo kali ini menurun dibandingkan pekan lalu. Minggu lalu ada 133.000 orang yang berdemo dalam seminggu, sedangkan pekan ini turun jadi 52.350.

Sementara itu di Paris sendiri jumlah demonstran sekarang sekitar 5.000 orang, jauh turun dibandingkan 46.000 pedemo minggu lalu. (afp/m11)

 

  • Bagikan