Waspada
Waspada » Trump Tak Akan Balas Serangan Iran
Internasional

Trump Tak Akan Balas Serangan Iran

Presiden AS Donald Trump. Palmer Report

WASHINGTON, AS (Waspada): Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik diri dari peluang perang dengan Iran, setelah markas pasukannya di Irak diserang rudal, Rabu dini hari.

Teheran membombardir Pangkalan Udara Ain al-Assad dan Irbil, markas bagi koalisi internasional. Garda Revolusi Iran menyatakan, mereka menghantam markas itu setelah AS membunuh jenderal top mereka, Qasem Soleimani.

Dalam konferensi pers Rabu petang waktu setempat, Presiden Trump mundur dari kemungkinan terjadinya perang dengan tak mengumumkan operasi balasan. Presiden 73 tahun itu mengatakan, tidak ada pasukan AS yang terluka akibat hantaman rudal balistik di Ain al-Assad dan Irbil.

“Iran nampaknya memilih untuk mundur, di mana hal itu bagus bagi semua pihak,” katanya. Dia kemudian menambahkan, konfrontasi kedua belah pihak bisa dicegah dengan kekuatan ekonomi dan militer yang dipunyai AS.

“Fakta bahwa kami mempunyai peralatan militer yang mumpuni, bukan berarti kami harus menggunakannya,” ujar Trump. Dia menjelaskan bakal segera memberi sanksi tambahan di sektor ekonomi dan finansial, hingga rezim Teheran ‘mengubah perilakunya’.

Dia juga meminta aliansi Atlantik Utara (NATO) untuk lebih aktif berpartisipasi dalam mengawasi proses di Timur Tengah. Presiden dari Partai Republik itu kemudian mengakhiri konferensi pers dengan menyatakan, dia ingin masa depan yang baik rakyat Iran.

“Amerika Serikat siap untuk mengumandangkan perdamaian dengan semua pihak yang menginginkannya,” jelas Trump. Sebelumnya, Divisi Dirgantara Garda Revolusi Iran menamai operasi itu “Martir Soleimani”, sesuai dengan Qasem Soleimani.

Komandan Pasukan Quds itu tewas bersama dengan wakil pemimpin jaringan milisi pro-Teheran Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis. Keduanya terbunuh pada 3 Januari setelah mobil yang mereka tumpangi dihantam rudal oleh drone AS di Baghdad, Irak.

Pentagon menyatakan, mereka harus melenyapkan jenderal 62 tahun itu. Sebab, dia dianggap aktif merencanakan serangan terhadap kepentingan AS di Timur Tengah.

Serangan Simbolis

Sementara itu, kalangan pakar mengatakan, serangan yang dilakukan Iran ke markas militer AS di Irak sengaja dibuat untuk tidak mengenai tentara AS. Tindakan itu juga untuk menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan serangan balasan dengan presisi, namun sengaja tidak ingin lebih memperuncing situasi.

“Propaganda Iran menggambarkan serangan ini sebagai kemenangan telak untuk memenuhi seruan balas dendam atas terbunuhnya Soleimani. Dan mereka memberi selamat kepada warga Iran atas kemenangannya melawan AS,” kata Ali Fathollah-Nejad, pakar Iran di organisasi Brookings Doha Centre.

Pengamat Iran lain, Direktur Eksekutif Forum Demokrasi Asia Selatan di Uni Eropa, Paolo Casaca mengatakan, serangan rudal Iran lebih merupakan serangan simbolis dan bukan serangan strategis.

“Itu sangat simbolis, mereka menyerang di jam yang sama ketika AS membunuh Soleimani,” ujar Casaca. “Serangan ini adalah aksi resmi, bukan lagi dengan proksi (perwakilan), bukan serangan teroris terhadap warga sipil, namun berupa aksi militer.”

Casaca mengatakan, menurut laporan yang ia baca, rudal itu tidak ditargetkan untuk mengenai fasilitas di pangkalan militer AS secara langsung. Selain itu, militer Iran tidak menggunakan teknologi rudal terbaiknya dalam serangan itu. “Saya pikir, mereka tidak mencoba membunuh atau melukai tentara Amerika. Saya pikir itu lebih merupakan operasi teatrikal,” lanjutnya.

Para pakar mengutarakan, keputusan Teheran mengklaim secara langsung serangan di markas pasukan AS adalah hal baru. Sebab sebelumnya, mereka dianggap menyamarkan operasi militer menggunakan kelompok milisi yang mendapat sokongan dari mereka. (bbc/afp/cbs/And)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2