Waspada
Waspada » Teror Islamofobia, Kepala Babi Diletakkan Di Masjid Agung Prancis
Headlines Internasional

Teror Islamofobia, Kepala Babi Diletakkan Di Masjid Agung Prancis

Masjid Agung di kota Compiegne mendapat serangan Islamofobia berupa kepala babi yang diletakkan di sekitar area masjid. Foto di atas merupakan terror serupa yang terjadi di Masjid Fatih kota Vaihingen, Jerman, Mei tahun ini. Daily Sabah

PARIS, Prancis (Waspada): Masjid Agung di kota Compiegne, Oise, Prancis utara, mendapat serangan Islamofobia berupa kepala babi yang ditinggalkan begitu saja di masjid.

Dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Selasa (3/11/2020) kepala babi itu ditemukan saat pekerjaan restorasi sedang dilakukan di sana. Hal ini disampaikan oleh kelompok payung bagi Muslim-Turki, DITIB di Compiegne dalam sebuah pernyataan Senin (2/11) waktu setempat.

Pengelola masjid mengutuk aksi tersebut dan membuat pengaduan atas insiden ini. Dewan Kepercayaan Muslim Prancis, French Council of the Muslim Faith juga mengecam insiden tersebut, dan menyatakan solidaritas dengan manajemen masjid dan komunitas.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya retorika anti-Islam di Prancis menyusul pernyataan kontroversial oleh Presiden Emmanuel Macron. Sebelumnya, Macron mengklaim Islam adalah “agama yang mengalami krisis,”.

Macron juga membela publikasi kartun yang melecehkan Nabi Muhammad. Akibatnya muncul kecaman internasional, aksi-aksi protes, dan seruan untuk memboikot produk buatan Prancis.

Teror serupa sebelumnya juga pernah terjadi pada 2019 lalu. seorang pekerja yang sedang membangun masjid di barat daya Prancis menemukan kepala babi dan darah hewan di pintu masuk ke tempat tersebut.

Pembangunan masjid di kota kecil Bergerac itu telah diperdebatkan sejak pertama kali diusulkan pada tahun 2017 dan akhirnya disetujui pada Oktober 2018.

“Para pelaku mengolesi dinding dengan darah hewan dan meletakkan potongan kepala babi di gerbang depan area konstruksi,” kata wakil jaksa penuntut umum Bergerac, Charles Charollois kepada AFP.

Vandalisme itu terjadi saat malam hari dan tidak ketahuan sampai para pekerja tiba di pagi hari. Untuk diketahui, di Prancis, menodai fasilitas keagamaan adalah tidak kejahatan yang dapat dikenai hukuman hingga tujuh tahun penjara. (afp/anadolu/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2