Waspada
Waspada » Sebut Islam Agama ‘Krisis’, Al Azhar Kecam Presiden Prancis
Internasional

Sebut Islam Agama ‘Krisis’, Al Azhar Kecam Presiden Prancis

KAIRO, Mesir (Waspada): Para akademisi di lembaga Islam Sunni bergengsi Mesir, Al-Azhar, pada Minggu (4/10/2020) waktu setempat, mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang Islam sebagai agama yang rasis dan menyebarkan pidato kebencian.

Untuk diketahui, Macron pada Jumat mengumumkan rencana untuk membela nilai-nilai sekuler Prancis melawan Islam radikal. Lalu dia menggambarkan Islam sebagai agama dalam krisis di seluruh dunia.

“Dia membuat tuduhan palsu terhadap Islam, yang tidak ada hubungannya dengan esensi sejati dari agama ini,” kata Akademi Riset Islam Al-Azhar dalam pernyataannya. “Pernyataan rasis seperti itu akan mengobarkan perasaan dua miliar pengikut Muslim” lanjutnya.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkap rencana mempertahankan nilai-nilai sekuler di negara itu dari radikalisme Islam. Macron menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini.

Macron dalam pidato terbarunya Jumat pekan lalu menegaskan ‘tidak ada konsesi’ yang akan dibuat dalam upaya baru untuk mendorong agama keluar dari sektor pendidikan dan sektor publik di Prancis.”Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kita tidak hanya melihat ini di negara kita,” ucap Macron.

Dia mengumumkan bahwa pemerintah akan mengajukan sebuah rancangan undang-undang (RUU) pada Desember mendatang untuk memperkuat undang-undang (UU) tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Langkah-langkah tersebut, kata Macron, ditujukan untuk mengatasi persoalan tumbuhnya radikalisasi Islam di Prancis dan meningkatkan ‘kemampuan kita untuk hidup bersama’.

Disebutkan Macron bahwa UU itu mengizinkan orang-orang untuk menganut agama dan keyakinan apapun yang mereka pilih, namun menampilkan afiliasi agama di luar dalam keadaan apapun tidak diizinkan di sekolah atau layanan publik.

Sementara itu Turki mengritik RUU Prancis itu. Turki mengatakan apa yang dilakukan Prancis ini justru akan menimbulkan masalah serius bukan menyelesaikan masalah di Prancis.

“Kami yakin pola pikir di balik RUU ini akan mengarah pada konsekuensi serius daripada menyelesaikan masalah Prancis,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan, dilansir dari AFP, Senin (5/10/2020).

Dikatakan akan lebih tepat untuk “mengadopsi wacana konstruktif … daripada perspektif berorientasi keamanan terhadap masalah agama,”. Kemenlu Turki juga mencatat kekhawatiran yang meluas akan hal tersebut. Upaya itu disebut malah akan memicu meningkatnya xenofobia, rasisme, dan Islamofobia di Eropa. (afp/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2