Waspada
Waspada » Rusia Senang Fatah-Hamas Bersatu Lawan Aneksasi Israel
Internasional

Rusia Senang Fatah-Hamas Bersatu Lawan Aneksasi Israel

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov

MOSKOW, Rusia (Waspada): Rusia menyambut baik ikrar persatuan yang dicapai antara dua entitas politik terbesar di Palestina, Fatah dan Hamas.

Kedua kelompok itu telah satu suara dalam memerangi rencana aneksasi Israel yang bakal berlangsung dalam waktu dekat di Tepi Barat.

“Kami sangat senang atas keputusan Fatah dan Hamas yang akhirnya bersama-sama membela kepentingan Negara Palestina berdasarkan platform Organisasi Pembebasan Palestina (PLO),” kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, seperti dikutip Russia Today, akhir pekan ini.

“Salah satu masalah utama yang perlu diselesaikan untuk upaya bersama kita adalah mengembalikan persatuan Palestina,” ujarnya. Dia mengatakan, Rusia mengandalkan semua perwakilan negara Arab untuk secara aktif mendukung upaya Palestina.

Sebelumnya, Gerakan Hamas dan Partai Politik Fatah akhirnya bersatu dan memiliki satu suara dalam memerangi rencana aneksasi Israel terhadap Tepi Barat.

Dalam konferensi pers bersama pada Kamis (2/7/2020) waktu setempat, anggota Komite Sentral Fatah, Jibril Rjoub, yang berbicara di Ramallah, dan; Wakil Ketua Hamas, Saleh Arouri, yang berbicara melalui konferensi video dari Beirut, Lebanon, mengatakan bahwa Fatah dan Hamas satu suara dalam memerangi rencana aneksasi Israel.

“Tahap saat ini adalah yang paling berbahaya bagi rakyat Palestina, yang mengharuskan kita semua untuk menghadapi tantangan saat ini. Kami ingin datang dengan visi strategis dengan semua faksi dari kekuatan nasionalis untuk menghadapi tantangan saat ini,” kata Rjoub.

Dia menekankan, Fatah dan Hamas sekarang dituntut untuk menyatukan barisan mereka setelah bertahun-tahun berpisah.

Sementara itu para mantan pemimpin dunia mendesak negara-negara Eropa agar menghentikan rencana Israel mencaplok Tepi Barat. Kelompok mantan pemimpin dunia yang tergabung dalam The Elders menyatakan, pencaplokan tersebut akan berdampak negatif kepada stabilitas politik dan perekonomian di kawasan.

Dalam surat yang diberikan kepada pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa, Elders menjelaskan, pencaplokan juga bertentangan dengan kepentingan jangka panjang Israel dan rakyat Palestina.

Kelompok yang dipimpin mantan Presiden Irlandia Mary Robinson serta ketua bersama yakni istri Nelson Mandela Graca Machel dan mantan Sekjen PBB Ban Ki Moon itu juga mendesak negara-negara Eropa menangguhkan Perjanjian Asosiasi 27 negara dengan Israel jika pencaplokan dilanjutkan dalam bentuk apapun.

Mereka juga mengingatkan Inggris terkait tanggung jawab historis negara itu sebagai penjajah Palestina sebelum 1948. Selain menentang pencaplokan, Elders menegaskan kembali dukungan kepada para pembela HAM Israel maupun Palestina serta aktivis masyarakat sipil.

“(Pencaplokan) Tidak akan meredam tuntutan Palestina di masa depan mengenai hak dalam menentukan nasib sendiri, juga menghancurkan harapan kompromi dua negara dengan meningkatkan risiko kekerasan di salah satu daerah paling mudah tersulut di dunia itu di masa depan,” bunyi pernyataan Elders. (russia today/ap/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2