Waspada
Waspada » Pimpin Shalat Jumat, Khamenei sebut Trump ‘Badut’ Pengkhianat
Internasional

Pimpin Shalat Jumat, Khamenei sebut Trump ‘Badut’ Pengkhianat

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memberikan khotbah dalam sidang Jumat di Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran, Jumat (17/1/2020). AP

TEHERAN, Iran (Waspada): Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut Presiden Amerika Serikat Donald trump sebagai ‘badut’ yang berpura-pura mendukung rakyat Iran melawan pemerintah, tapi ia akan ‘menusukkan belati beracun’ ke punggung mereka.

Hal itu disampaikannya saat memimpin shalat Jumat (17/1/2020) di Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran. Ini merupakan pertamakalinya bagi Khamenei memimpin shalat Jumat dalam 8 tahun terakhir. Khamenei tercatat terakhir kali memimpin salat Jumat di Masjid Mosalla, Teheran, pada Februari 2012 lalu saat peringatan 33 tahun revolusi Islam di Iran.

Kemunculan Khamenei dalam shalat Jumat ini berlangsung ketika Iran tengah menghadapi tekanan setelah pasukan Garda Revolusi secara tak sengaja menembak pesawat Ukraine International Airlines dua kali dengan rudal hingga menewaskan seluruh 176 penumpang.

Kecelakaan itu memicu amarah publik Iran hingga mendorong demonstrasi anti-pemerintah di Teheran. Iran mengerahkan ratusan aparat keamanan ke pelosok ibu kota untuk mengamankan unjuk rasa..

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjadi imam pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran, Jumat (17/1/2020). AP

Presiden Donald Trump melalui akun Twitter-nya sempat memberikan dukungan kepada rakyat Iran untuk melawan pemerintah. “Untuk para pemimpin Iran – JANGAN BUNUH DEMONSTRAN KALIAN. Ribuan orang tewas atau dipenjarakan oleh kalian dan dunia mengawasi,” tulis Trump di Twitter.

“Yang lebih penting, AS mengawasi,” tegasnya. “Aktifkan kembali internet Anda dan biarkan wartawan bebas berkeliaran! Hentikan pembunuhan rakyat Iran yang hebat!” lanjutnya.

Komentar Trump itu diunggah beberapa jam setelah ia menyampaikan dukungan pemerintah AS untuk para demonstran Iran. Dalam pernyataan dukungannya, Trump mengklaim dirinya telah ‘berdiri’ bersama rakyat Iran sejak dia menjabat presiden sekitar tiga tahun lalu.

Insiden penembakan pesawat Ukraina juga terjadi ketika Iran tengah berada di ambang perang dengan AS setelah Negeri Paman Sam meluncurkan serangan drone yang menewaskan salah satu jenderal Iran, Qasem Soleimani, pada 3 Januari lalu.

Sementara, sebelumnya, Presiden Hassan Rouhani mengakui publik Iran tengah menghadapi krisis kepercayaan terhadap pihak berwenang. Meski begitu, ia menekankan persatuan nasional, pemerintahan yang lebih baik, dan pluralisme yang lebih luas.

Rouhani membela kebijakan terbuka yang ia terapkan sejak terpilih menjadi presiden pada 2013 lalu dan dikritik pihak konservatif Iran. Selama Rouhani menjabat, Iran memang menerapkan kebijakan politik luar negeri yang lebih terbuka terhadap dunia internasional. (AP/And)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2