Waspada
Waspada » Perang Armenia-Azerbaijan Masuki Hari Ketiga, Korban Tewas Terus Bertambah
Internasional

Perang Armenia-Azerbaijan Masuki Hari Ketiga, Korban Tewas Terus Bertambah

Seorang pria menemani anaknya yang terluka akibat bombardir serangan di Stepanakert, wilayah sengketa Nagorny Karabakh yang diklaim oleh Armenia dan Azerbaijan, Senin (28/9/2020). AP

YEREVAN, Armenia (Waspada): Memasuki hari ketiga, korban tewas dalam pertempuran antara pasukan Armenia dengan Azerbaijan hingga Selasa (29/9/2020) di Nagorny Karabakh terus bertambah.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan pada Senin waktu setempat mengatakan, pasukan Azerbaijan melancarkan serangan besar-besaran di sektor selatan dan timur laut garis depan Karabakh.

Kementerian Pertahanan Armenia menyatakan sekitar 200 tentara terluka. Namun banyak di antara mereka yang mengalami luka ringan dan beraksi kembali. Pejabat di wilayah separatis Nagorny Karabakh mengatakan bahwa lebih dari 26 personel mereka tewas pada Senin malam.

Sehingga total korban tewas dari kelompok separatis tersebut menjadi 84 orang. Kini, korban tewas secara keseluruhan kini mencapai 95 orang, dengan 11 warga sipil tewas sejak bentrok meletus pada hari Minggu.

Insiden tersebut merupakan konflik terburuk sejak 2016 dan meningkatkan kemungkinan perang baru di wilayah yang telah mendidih selama beberapa dekade tersebut.

Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) akan bertemu untuk membahas bentrokan pada Selasa waktu setempat menurut para diplomat sebagaimaana dilaporkan AFP.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan gencatan senjata dalam pembicaraan dengan para pemimpin kedua negara pada Senin. Juru Bicara Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan Guterres menekankan perlunya menghentikan segera pertempuran dan dimulainya kembali negosiasi di bawah payung OSCE Minsk Group.

Menahan diri

Kedua negara telah mengumumkan darurat militer. Presiden Azerbaijan mengumumkan mobilisasi militer parsial di negara itu pada Senin pagi. Sedangkan Armenia mengumumkan untuk memulai mobilisasi umum pada Minggu.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengumumkan di Twitter bahwa dia telah berbicara dengan perwakilan kedua negara dan menekankan perlunya kembali ke negosiasi di bawah naungan OSCE Minsk Group.

OSCE Minsk Group merupakan perantara damai yang terdiri atas Rusia, Amerika Serikat ( AS), dan Perancis. Borrel menambahkan bahwa di dalam pembicaraan damai itu tidak ada solusi militer untuk konflik tersebut.

Kementerian Luar Negeri Rusia meminta kedua belah pihak untuk menahan diri. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China juga mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. China berharap kedua negara dapat menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog sebagaimana diberitakan Reuters.

Klaim Keterlibatan Turki

Sementara banyak komunitas internasional mendesak untuk meredakan eskalasi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuntut Armenia mengakhiri “pendudukannya” di Karabakh.

“Waktunya telah tiba untuk krisis di wilayah yang dimulai dengan pendudukan Nagorny Karabakh akan diakhiri. Sekarang Azerbaijan harus menangani sendiri masalah ini,” kata Erdogan.

Armenia menuduh Turki ikut campur dalam konflik tersebut. Pada Senin, Duta Besar Armenia untuk Rusia mengklaim bahwa Turki telah mengirim milisi dari Suriah utara ke Azerbaijan untuk mendukung sekutu mereka.

Kementerian Luar Negeri Armenia juga menuduh Turki memberikan “kehadiran langsung di lapangan” dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh Reuters. Ajudan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dengan tegas menolak kedua klaim tersebut.

“Desas-desus tentang milisi dari Suriah yang diduga dikirim ke Azerbaijan adalah provokasi lain oleh pihak Armenia dan omong kosong,” kata ajudan tersebut. (reuters/Interfax/ap/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2