Waspada
Waspada » Orang Kepercayaan Suu Kyi Ditahan, Rakyat Terus Tolak Kudeta
Internasional

Orang Kepercayaan Suu Kyi Ditahan, Rakyat Terus Tolak Kudeta

Sejumlah guru dan dosen di Universitas Yangon memprotes kudeta militer di Myanmar, terlebih setelah penangkapan ajudan utama Suu Kyi, Win Htein, pada Jumat (5/2/2021). AP

NAYPYITAW, Myanmar (Waspada): Setelah pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi ditahan, kini ajudan utamanya juga ditahan pada hari kelima kudeta milter Myanmar.

Penangkapan ajudan utama Suu Kyi bernama Win Htein terjadi pada Jumat (5/2/2021). Diketahui militer Myanmar merebut kekuasaan setelah menangkap Suu Kyi dan sejumlah tokoh penting lainnya pada Senin lalu.

Aksi milter itu ditentang oleh warga dengan memukul panci dan membunyikan klakson mobil setiap malam setelah militer melakukan kudeta. Win Htein merupakan tangan kanan Suu Kyi. Dia ditangkap dari rumah putrinya di Yangon.

Kabar penangkapan Win Htein dilaporkan oleh pejabat pers untuk Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Win Htein adalah seorang pendukung NLD yang telah berulang kali keluar-masuk penjara berkampanye melawan kekuasaan militer.

Menjelang penangkapannya, Win Htein mengatakan kepada media lokal berbahasa Inggris, Frontier Myanmar, bahwa kudeta militer itu tidak bijaksana.

Dia juga menyebut bahwa para pemimpin militer yang melakukan kudeta telah membawa Myanmar ke arah yang salah.

“Setiap orang di negara ini harus menentang sebisa mungkin terhadap tindakan yang mereka (militer) upayakan untuk membawa kami kembali ke titik nol dengan menghancurkan pemerintah kami,” kata Win Htein kepada Frontier Myanmar setelah kudeta itu.

Assistance Association for Political Prisoners mengatakan, lebih dari 130 pejabat dan anggota parlemen telah ditahan sehubungan dengan kudeta tersebut.

Assistance Association for Political Prisoners merupakan lembaga yang berbasis di Yangon yang memantau penangkapan politik di Myanmar.

Penyedia layanan telekomunikasi di Myanmar juga telah diperintahkan untuk membatasi akses terhadap Facebook. Karena akses terhadap Facebook dibatasi, banyak orang Myanmar yang bermigrasi ke Twitter.

Sebagian di antara mereka menggunakan layanan VPN untuk menerobos pembatasan Facebook. Tagar yang menentang kudeta, termasuk #HearTheVoiceofMyanmar dan #RespectOurVotes, menjadi tren di Twitter di Myanmar pada Jumat dengan lebih dari 7 juta unggahan.

Gerakan yang dinamakan Gerakan Pembangkangan Sipil telah menguat dan menghimpun kekuatan di jagat maya. Gerakan itu menyerukan kepada publik agar menyuarakan penolakan kudeta setiap malam dengan membunyikan suara-suara untuk menunjukkan kemarahan mereka.

Pada Kamis (3/2/2021) pukul 20.00 waktu setempat, jalanan di Yangon dipenuhi dengan suara klakson mobil untuk menyerukan penolakan terhadap kudeta. “Saya tidak bisa tidur atau makan sejak kudeta,” kata penduduk Yangon Win Bo kepada AFP.

Aksi kudeta tersebut telah mengundang kecaman secara global. Pada Kamis, Presiden AS Joe Biden mengulangi seruannya kepada para jenderal di Myanmar untuk meletakkan senjata.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB mengambil langkah yang lebih lunak dengan menyuarakan keprihatinan mendalam atas kudeta militer di Myanmar. (afp/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2