Negaranya Menyerah, Pejuang Dan Rakyat Armenia Marah - Waspada

Negaranya Menyerah, Pejuang Dan Rakyat Armenia Marah

  • Bagikan
Tentara Rusia bergerak menuju kawasan sengketa Nagorno Karabakh guna menjaga perdamaian pasca penghentian perang total antara Azerbaijan dan Armenia. AP

YEREVAN, Armenia (Waspada): Keputusan Armenia menandatangani kesepakatan damai dengan Azerbaijan memicu kemarahan ribuan warga dan pejuang.

Langkah tersebut dianggap menempatkan Armenia sebagai pihak yang menyerah. Wartawan BBC Orla Guerin di ibu kota Azerbaijan, Baku, mengatakan perjanjian ini dianggap sebagai kemenangan bagi Azerbaijan dan kekalahan bagi Armenia.

Armenia dan Azerbaijan menyepakati penghentian perang secara total di wilayah Nagorno-Karabakah, Selasa (10/11/2020) pagi waktu setempat. Kesepakatan tersebut turut melibatkan Rusia dan Turki–sekutu Azerbaijan.

Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, menyebut Armenia tak punya pilihan selain menyerah dan menandatangani kesepakatan damai tersebut. “Sebuah tangan besi memaksanya untuk menandatangani dokumen ini. Pada dasarnya, ini adalah kapitulasi (pernyataan kalah perang),” kata Aliyev dikutip dari AFP.

Aliyev mengatakan kesepakatan itu memberi Armenia jangka waktu singkat untuk menarik pasukannya dari beberapa bagian Nagorno-Karabakh. Sebelumnya, separatis Armenia mengklaim berhasil merebut kembali kota strategis Shusa di wilayah Nagorno-Karabakh.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, mengatakan pihaknya telah mempertimbangkan secara matang mengikuti kesepakatan tersebut. Pashinyan menilai gencatan senjata penuh dengan Azerbaijan sebagai opsi terbaik bagi dua negara berkonflik.

“Saya telah menandatangani pernyataan dengan Presiden Rusia dan Azerbaijan untuk penghentian perang Nagorno-Karabakh,” kata Pashinyan dikutip dari AFP. “Secara pribadi, langkah ini menyakitkan bagi saya dan rakyat kami,” lanjutnya.

“Saya telah mengambil keputusan ini sebagai hasil dari analisis mendalam tentang situasi militer,” ucapnya.

Langkah PM Pashinyan menandatangani kesepakatan damai dengan Azerbaijan menuai kemarahan warga dan pejuang Armenia. Masa yang marah menyerbu markas pemerintah di ibu kota Yerevan dimana mereka menggeledah kantor dan memecahkan jendela.

Ribuan orang berkumpul di luar gedung, menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Nikol Pashinyan setelah dia mengumumkan kesepakatan “menyakitkan” untuk mengakhiri pertempuran.

Sementara itu, Ratusan personel penjaga perdamaian Rusia dikerahkan ke daerah kantong yang dipersengketakan Nagorno-Karabakh, menyusul kesepakatan untuk mengakhiri konflik di kawasan itu. (afp/m11)

 

  • Bagikan