Waspada
Waspada » Negara Kaya Timbun Vaksin, Negara Miskin Tak Kebagian
Internasional

Negara Kaya Timbun Vaksin, Negara Miskin Tak Kebagian

Vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech ini digunakan di Rumah Sakit Royal Victoria di Belfast. Diperkirakan 90 persen orang di lusinan negara miskin akan kehilangan vaksinasi terhadap Covid-19 tahun depan. Pasalnya negara-negara kaya telah menimbun lebih banyak dosis daripada yang mereka butuhkan. AP

LONDON, Inggris (Waspada): Diperkirakan 90 persen orang di puluhan negara miskin akan kehilangan vaksinasi terhadap Covid-19 tahun depan. Pasalnya negara-negara kaya telah menimbun lebih banyak dosis daripada yang mereka butuhkan.

“Negara-negara kaya yang menampung 14 persen populasi global telah membeli 53 persen dari total stok vaksin paling menjanjikan pada bulan lalu,” kata juru kampanye People’s Vaccine Alliance, sebuah koalisi termasuk Oxfam, Amnesty International dan Global Justice Now,

Dilansir Reuters, Kamis (10/12/2020), mereka mengatakan perusahaan farmasi yang mengerjakan vaksin Covid-19 harus secara terbuka membagikan teknologi dan kekayaan intelektual mereka melalui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga lebih banyak dosis dapat diproduksi.

“Ini seharusnya bukan pertarungan antar negara untuk mendapatkan dosis yang cukup,” Mohga Kamal-Yanni, penasihat Aliansi Vaksin Rakyat, mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation.

“Selama masa pandemi global yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, kehidupan dan mata pencaharian masyarakat harus diletakkan di atas keuntungan perusahaan farmasi,” tambahnya.

Kelompok berisiko tinggi di Inggris pada Selasa (9/12/2020) menerima suntikan vaksin pertama yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech. Namun kebanyakan orang di 67 negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah termasuk Bhutan, Ethiopia dan Haiti, berisiko tertinggal.

Laporan Aliansi mencatat hampir semua dosis yang tersedia dari Moderna dan Pfizer-BioNTech, telah diakuisisi oleh negara-negara kaya. Keduanya memproduksi dua dari tiga jenis vaksin Covid-19 yang hasil khasiatnya telah diumumkan.

Sementara AstraZeneca dan Universitas Oxford telah berjanji untuk memberikan 64 persen dari dosis mereka kepada orang-orang di negara berkembang. Jumlah itu paling banyak hanya akan mencapai 18 persen dari populasi dunia tahun depan.

Para juru kampanye itu menggunakan data dari perusahaan analisis dan informasi sains, Airfinity.

Mereka menganalisis kesepakatan yang dilakukan antara negara dan delapan kandidat vaksin terkemuka, termasuk Sinovac China dan Sputnik V Rusia.

Uni Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jepang, Swiss, Australia, Hong Kong, Makau, Selandia Baru, Israel dan Kuwait telah memperoleh 53 persen dari dosis potensial ini.

“Kanada membeli cukup untuk memvaksinasi lima kali lipat populasinya, kata Oxfam, Dengan membeli sebagian besar pasokan vaksin dunia, negara-negara kaya melanggar kewajiban hak asasi manusia mereka,” kata Steve Cockburn, Kepala Keadilan Ekonomi dan Sosial Amnesty International, dalam sebuah pernyataan. (reuters/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2