Waspada
Waspada » MV Rhosus, Kapal Pembawa Malapetaka Di Lebanon
Internasional

MV Rhosus, Kapal Pembawa Malapetaka Di Lebanon

Lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, terlihat tak ada satupun bangunan yang bertahan dengan puing-puing yang berserakan, Kamis (6/8/2020). BBC

BEIRUT, Lebanon (Waspada): Korban tewas dari ledakan besar yang mengguncang Beirut, Lebanon, bertambah menjadi 135 orang.

Menteri Kesehatan Lebanon Hamad Hassan mengatakan ada setidaknya 5.000 orang terluka akibat kejadian tersebut.

Dilansir CNN, Kamis (6/8/2020), puluhan orang masih dinyatakan hilang usai kejadian ledakan dahsyat tersebut. Upaya penyelamatan pun masih terus berlanjut.

“Sayangnya, jumlah korban meningkat. Mereka yang terluka telah mencapai 5.000 orang dan mereka menjalani perawatan di dalam dan di luar wilayah Ibu Kota,” kata Hasan dalam sebuah wawancara.

Sementara itu, laporan CNN menyebutkan 300.000 orang telah mengungsi akibat ledakan dahsyat yang terjadi pada Selasa (4/8) itu.

“Ada lebih dari 300.000 warga Lebanon tidak dapat tidur di rumah mereka sendiri,” kata Gubernur Beirut Marwan Abboud. “Setengah dari populasi Beirut tidak memiliki rumah yang layak di masa depan – untuk dua minggu ke depan,” ucapnya.

Sejumlah besar amonium nitrat yang diduga menjadi penyebab ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon, disimpan 6 tahun di gudang pelabuhan tanpa ada langkah keamanan tegas.

Penyimpanan zat kimia berbahaya itu telah beberapa kali mendapatkan peringatan dari pihak Bea Cukai Lebanon, namun tidak pernah didengarkan.

Dari dokumen-dokumen yang diamati CNN mengungkapkan bahwa 2.750 ton amonium nitrat itu dibawa sebuah kapal milik Rusia, MV Rhosus, yang berlabuh di Beirut tahun 2013 lalu.

Kapal tersebut hendak berlayar ke Mozambik, namun berhenti di Beirut karena kesulitan finansial yang memicu protes di kalangan awak kapal asal Rusia dan Ukraina.

Oleh otoritas pelabuhan Beirut, MV Rhosus kemudian ditahan karena ‘pelanggaran berat dalam operasional kapal’, tidak membayar biaya kepada otoritas pelabuhan dan karena ada pengaduan dari awak kapal yang tidak pernah dibayar upahnya.

Kapal itu tidak pernah melanjutkan pelayarannya ke Mozambik dan tertahan di Beirut selama berbulan-bulan, hingga para awak kapal dipulangkan ke negara asal mereka.

Kapal MV Rhosus

Otoritas pelabuhan Beirut tidak mengizinkan muatan amonium nitrat di dalam MV Rhosus untuk diturunkan dari kapal atau dipindahkan ke kapal lain. Tahun 2014, Mikhail Voytenko, yang mengelola publikasi online yang melacak aktivitas maritim, bahkan sempat menyebut MV Rhosus sebagai ‘bom terapung’.

Namun menurut percakapan email antara kapten kapal MV Rhosus, Boris Prokoshev, dengan seorang pengacara berbasis di Beirut, Charbel Dagher, yang mewakili para awak kapal, muatan amonium nitrat dalam kapal diturunkan di pelabuhan Beirut pada November 2014 dan disimpan di sebuah hanggar di pelabuhan.

Muatan berbahaya itu tetap disimpan di hanggar selama enam tahun, meskipun ada peringatan dari Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, soal ‘bahaya ekstrem’ muatan itu.

Dokumen pengadilan yang didapatkan CNN melalui pengacara HAM Lebanon, Wadih Al-Asmar, mengungkapkan bahwa Daher dan pejabat pendahulunya, Chafic Merhi, berulang kali, sejak tahun 2014, meminta bantuan pengadilan Beirut untuk memindahkan amonium nitrat itu.

“Dalam memo kami 19320/2014 tertanggal 5/12/2014 dan 5/6/2015 … kami meminta agar Yang Mulia memerintahkan Otoritas Pelabuhan yang bertanggung jawab untuk mengekspor kembali Amonium Nitrat yang disita dari kapal Rhosus dan ditempatkan di dalam hanggar Bea Cukai nomor 12 di pelabuhan Beirut,” tulis Daher tahun 2017 lalu. (cnn/afp/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2