Mengenal Joe Biden, Calon Presiden Tertua AS - Waspada

Mengenal Joe Biden, Calon Presiden Tertua AS

  • Bagikan
Tanggal 20 Januari 2021 akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi Amerika Serikat, karena negara itu akan memiliki presiden tertua. Joe Biden dari Partai Demokrat akan dilantik di usia 78 tahun. AP

Waspada – Tanggal 20 Januari 2021 akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi Amerika Serikat, karena negara itu akan memiliki presiden tertua. Joe Biden dari Partai Demokrat akan dilantik di usia 78 tahun.

Kemenangan Biden dan wakilnya, Kamala Harris, dalam perebutan kursi kepresidenan menjadi hadiah ulang tahun termanis baginya pada 20 November mendatang. Hingga Minggu (8/11/2020) WIB, Senator asal Delaware itu berhasil mengalahkan petahana Donald Trump dengan 290 suara electoral berbanding 214.

Keberhasilan Biden menuju Gedung Putih pada Pilpres AS 2020 seolah mengulangi sejarah George HW Bush yang pernah menjadi presiden setelah sebelumnya pernah menjadi wapres.

Bush -memimpin AS pada 1989-1993- sebelumnya adalah wapres di era kepresidenan Ronald Reagan. Biden juga akan memegang rekor sebagai presiden tertua.

Sebelumnya presiden tertua AS ialah Ronald Reagan. Pada 1989, mantan bintang film itu lengser dari jabatan Presiden AS pada usia 77.

Pada Pilpres AS 2020, Biden menggandeng Kamala Devi Harris sebagai mitranya atau running mate. Ahli hukum yang pernah menjadi Jaksa Agung California itu juga bakal menyandang rekor perempuan pertama dari kulit berwarna yang menjadi Wapres AS.

Joseph Robinette Biden Jr. atau biasa disebut Joe Biden adalah seorang politikus yang sempat menjabat sebagai wakil presiden ke-47 AS dalam pemerintahan presiden ke-44 Barack Hussein Obama II dari 2009 hingga 2017.

Pria kelahiran Kota Scranton, Pennsylvania pada 20 November 1942 ini juga seorang anggota Partai Demokrat, yang sempat menjabat sebagai Senator Amerika Serikat untuk Delaware dari tahun 1973 hingga 2009. Sebagai catatan, di Pennsylvania, Biden juga menang tipis atas Trump.

Tak hanya menjadi nominasi presiden tahun 2020, Biden yang kini berusia 77 tahun juga sempat mewakili Partai Demokrat untuk presiden pada tahun 1988 dan 2008 lalu.

Dilansir New York Times, Biden telah mengabdi dalam kehidupan publik selama sekitar setengah abad, menekankan pengalaman pemerintahannya, dan selalu berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai seseorang yang berpengalaman dalam dunia yang berbahaya dan tidak pasti.

Ketika wabah virus corona (Covid-19) terjadi, Biden dengan cepat merumuskan rekomendasi berdasarkan pada saran dari para ahli kesehatan dan ekonomi. Saran tersebut termasuk membuat tes virus corona dapat diakses secara luas dan gratis.

Ia mengatakan seharusnya tidak ada biaya yang dikeluarkan sendiri bagi pasien untuk menerima vaksin. Ia juga sangat kritis terhadap tanggapan dan mengatakan Trump bereaksi terlalu lambat atas krisis tersebut.

Biden juga menjabat sebagai wakil presiden dalam pemerintahan Obama selama pengesahan Undang-Undang Perawatan Terjangkau, dan perawatan kesehatan tetap menjadi prioritas utama baginya, sebagaimana dilaporkan The New York Times.

Ada alasan pribadi mengapa ia sangat mengutamakan kesehatan masyarakat: Biden sempat kehilangan istri pertama Neilia Hunter dan bayi perempuannya, Naomi, dalam kecelakaan mobil pada tahun 1972, dan pada tahun 2015, putranya Beau Biden meninggal karena kanker otak.

Pada 1977, Biden menikahi Jill Tracy Jacobs yang berprofesi sebagai dosen. Rumah tangga Biden dengan Jill pun langgeng sampai sekarang.

Perawatan kesehatan, katanya dalam iklan televisi, adalah “pribadi” baginya. Dia mendukung penambahan opsi publik ke Affordable Care Act, tetapi menentang “Medicare for all” yakni ukuran pembayar tunggal yang dianjurkan oleh beberapa progresif di partainya, termasuk Senator Bernie Sanders.

Biden, yang bertugas selama beberapa dekade di Senat, sangat percaya pada nilai bipartisan dan bersikeras memperluas tawaran kepada Partai Republik bahkan di saat banyak di partainya sendiri tidak melihat mitra negosiasi di sisi lain.

Sebagai mantan ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dia juga berbicara dengan penuh semangat tentang menegaskan dan mempertahankan peran Amerika sebagai pemimpin di panggung global. (new York times/anadolu/m11)

 

  • Bagikan