Waspada
Waspada » Maskapai Terpuruk, Jumbojet Singapore Airlines Dialihfungsikan Sebagai Restoran
Internasional

Maskapai Terpuruk, Jumbojet Singapore Airlines Dialihfungsikan Sebagai Restoran

Singapore Airlines dengan cerdik menyulap pesawat jumbojet Airbus A380 sebagai restoran yang bisa digunakan siapa saja untuk makan di tempat. Bloomberg

SINGAPURA (Waspada): Semua maskapai penerbangan dunia terpuruk akibat pandemi Covid-19. Mereka tak bisa beroperasi optimal karena pembatasan pergerakan yang memicu perumahan bahkan pemecatan karyawan.

Namun di sisi lain kondisi ini bisa memancing kreativitas maskapai, seperti dilakukan Singapore Airlines. Mereka menyulap pesawat jumbojet Airbus A380 sebagai restoran yang bisa digunakan siapa saja untuk makan di tempat.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/10/2020), ratusan “penumpang” rela membayar setara harga tiket untuk bisa merasakan makan di kabin pesawat bertingkat itu.

Dengan harga bervariasi, yakni paling mahal 642 dolar Singapura atau sekitar Rp6,9 juta yakni di kelas 1, para peminat bisa merasakan menu ala pesawat terbang. Sedangkan tiket termurah 53 dolar Singapura (sekitar Rp570.000) di kelas ekonomi untuk tiga macam menu yang disediakan.

Ada satu pesawat A380 Singapore Airlines yang diparkir di Bandara Changi dijadikan restoran dadakan.

Kesempatan untuk menyajikan menu pesawat terbukti sangat populer terbukti seluruh kursi, yakni 900, telah habis dipesan untuk makan siang pada 2 hari, 24 dan 25 Oktober.

Tak tanggung-tanggung, tiket ludes dalah waktu 30 menit sejak pemesanan dibuka pada Senin (12/10/2020). Sekitar setengah dari kapasitas kursi dibiarkan kosong sesuai pedoman jarak sosial.

Karena peminat membeludak, Singapore Airlines mengumumkan penambahan waktu 2 hari lagi. Bukan hanya itu, maskapai membuka kesempatan untuk makan siang dan makan malam.

Singapore Airlines terpaksa memangkas ribuan karyawan dan menghentikan hampir semua perjalanan tahun ini akibat pandemi Covid-19.

Sebenarnya maskapai punya cara lain untuk mengurangi kerugian yakni membuka penerbangan ke mana saja di mana pesawat lepas landas dan mendarat di bandara yang sama untuk waktu singkat. Namun ide itu ditolak karena kekhawatiran dampak lingkungan. (Bloomberg/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2