Waspada
Waspada » Makkah Bebaskan 13 Terdakwa Kasus Crane Ambruk Yang Menewaskan 108 Orang
Internasional

Makkah Bebaskan 13 Terdakwa Kasus Crane Ambruk Yang Menewaskan 108 Orang

Pengadilan Kriminal Makkah, Arab Saudi, pada Rabu (9/12/2020), membebaskan 13 terdakwa dalam kasus runtuhnya crane di Masjidil Haram pada 2015 yang menewaskan ratusan orang itu. CWO

MAKKAH, Arab Saudi (Waspada): Pengadilan Kriminal Makkah, Arab Saudi, pada Rabu (9/12/2020), membebaskan 13 terdakwa, termasuk perusahaan konstruksi Bin Ladin Group, dalam kasus runtuhnya crane di Masjidil Haram pada 2015 yang menewaskan ratusan orang itu.

Seperti dilansir Saudi Gazette, Kamis (10/12/2020), dalam putusan ini, pengadilan tidak menemukan bukti baru selain yang telah dikeluarkan sebelumnya.

Pengadilan Makkah akan mengirim salinan putusan ke Pengadilan Banding untuk memutuskan masalah tersebut.

Dalam putusan sebelumnya pada 1 Oktober 2017, Pengadilan Kriminal Makkah membebaskan 13 terdakwa dari tuduhan kelalaian.

Pengadilan menyatakan para terdakwa tidak bertanggung jawab secara pidana atas insiden yang merenggut 108 nyawa dan melukai 238 lainnya saat crane proyek perluasan Masjidil Haram ambruk pada 11 September 2015.

Crane ambruk disebabkan oleh hujan lebat dan badai petir, bukan kesalahan atau kelalaian manusia.

“Crane itu dalam posisi tegak, benar, dan aman. Tidak ada kesalahan yang dilakukan terdakwa yang telah mengambil semua tindakan pencegahan keamanan yang diperlukan,” kata pengadilan, dalam putusan pada 2017.

Namun putusan pada 2017 itu ditentang Kejaksaan Agung dan mengajukan banding. Pada Desember 2017, Pengadilan Banding menguatkan putusan sebelumnya dari Pengadilan Kriminal Makkah.

Pengadilan Banding menyatakan, crane, ambruk akibat angin kencang dan badai petir walaupun sudah ditempatkan dalam posisi aman.

Pengadilan Banding lalu meminta Pengadilan Kriminal Makkah untuk memeriksan kembali kasus tersebut.

Pengadilan Kirminal mengeluarkan putusan terbaru pada Rabu setelah melakukan pemeriksaan semua aspek kecelakaan crane.

Pengadilan menggunakan catatan Badan Meteorologi dan Perlindungan Lingkungan soal kondisi cuaca pada saat kecelakaan dan sehari sebelumnya.

Peringatan tersebut menunjukkan kecepatan angin di Laut Merah berkisar antara 1 hingga 38 kilometer per jam, sehingga tidak mengeluarkan peringatan badai.

Pengadilan mencatat, dalam gugatan tidak disebutkan peringatan dari Badan Meteorologi dan Perlindungan Lingkungan bahwa bencana akan terjadi atau terprediksi.

Pengadilan mengindikasikan apa yang terjadi di Makkah saat itu dikaitkan dengan fenomena alam yang sulit diprediksi. Dengan demikian, para terdakwa tidak bisa dimintai pertanggungjawabannya. (Saudi gazette/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2