Waspada
Waspada » Lockdown Perburuk Kehidupan Anak-anak Warga Miskin India
Internasional

Lockdown Perburuk Kehidupan Anak-anak Warga Miskin India

Seorang anak jalanan di India. BM

NEW DELHI, India (Waspada): Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi memperpanjang kebijakan lockdown. Kebijakan itu diambil usai perbincangan dengan para menteri negara India yang mendesak perpanjangan itu.

Dilansir BBC, Minggu (12/4/2020), perpanjangan itu disampaikan Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal. Dia mengatakan PM Modi telah setuju memperpanjang penutupan. Sejatinya, lockdown India akan berakhir pada Selasa depan.

Aturan karantina wilayah itu semakin memperburuk dan mengacaukan kehidupan jutaan anak di negara. Saat ini setidaknya 10 ribu anak di India membutuhkan bantuan setiap hari dan ribuan lainnya, diyakini setiap malam tidur dalam kondisi kelaparan.

Dengan total populasi anak yang mencapai 472 juta orang, India adalah negara dengan jumlah anak terbanyak di dunia. Aktivis pemerhati anak menyebut, karantina wilayah demi memutus penyebaran Covid-19, berdampak pada sekitar 40 juta anak dari keluarga miskin di negara itu.

Anak-anak yang terdampak, termasuk mereka yang orang tuanya bekerja di sawah dan perkebunan di perkampungan India. Selain itu, anak-anak dari keluarga pengumpul baju bekas di perkotaan, serta mereka yang orangtuanya berjualan balon, pulpen, serta pernak-pernik kecil di jalanan juga terdampak karantina wilayah ini.

Sanjay Gupta, direktur Chetna, sebuah badan amal di New Delhi yang fokus menangani pekerja anak dan anak jalanan, menyebut karantina ini sangat dirasakan jutaan anak yang hidup di jalanan, di bawah jembatan, dan gang-gang sempit perkotaan. “Selama karantina, setiap orang diminta tinggal di rumah. Tapi bagaimana dengan anak-anak jalanan? Ke mana mereka harus berlindung?” kata Gupta.

Saat ini diperkirakan lebih dari 70 ribu anak hidup di jalanan kota New Delhi. Namun Gupta yakin, angka sebenarnya lebih tinggi dari itu. Menurut Gupta, anak jalanan sudah terbiasa hidup mandiri. “Mereka terbiasa bertahan hidup dengan kemampuan mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka membutuhkan bantuan,” tuturnya.

“Namun mereka tidak termasuk dalam sistem dan tidak mudah ditemukan, terutama dalam situasi seperti sekarang ini. Para pekerja amal kami tidak bisa berkeliling kota kecuali mereka memiliki izin melanggar jam malam,” kata Gupta.

Izin itu sulit didapatkan karena badan amal seperti Chetna, tidak dianggap sebagai lembaga yang menyelenggarakan layanan dasar oleh pemerintah. Gupta berkata, mereka harus memutar otak agar tetap bisa berkomunikasi dengan anak-anak jalanan.

“Banyak dari anak jalanan itu memiliki ponsel dan karena mereka biasanya berkelompok, kami mengirim pesan singkat atau video TikTok kepada mereka tentang cara tetap aman dan memperhatikan hal-hal penting,” ujar Gupta.

Sebaliknya, Gupta juga menerima pesan video dari anak-anak jalanan. Mereka menunjukkan rasa ketakutan serta ketidakpastian yang menyerang kehidupan mereka. Terdapat beberapa testimoni dari anak-anak jalanan yang cemas karena orang tua mereka bakal kehilangan pekerjaan. Mereka bertanya-tanya bagaimana mereka dapat membayar uang sewa tempat tinggal dan membeli ransum.

Preeti Verma, anggota Komisi Negara Bagian Uttar Pradesh untuk Perlindungan Hak Anak, menyebut anak-anak mendengar dan membaca berita tentang virus Corona setiap waktu. Imbasnya, meski anak-anak itu hanya mengalami batuk atau demam ringan, mereka khawatir terpapar virus itu. (bbc/And0

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2