Waspada
Waspada » Korban Tewas Topan Goni Di Filipina Bertambah
Internasional

Korban Tewas Topan Goni Di Filipina Bertambah

Seorang pria di Daraga, Filipina, mengamati rumahnya yang terendam banjir akibat hantaman topan Goni yang melanda negeri itu sejak Minggu. AP

MANILA, Filipina (Waspada): Korban akibat topan Goni di Filipina bertambah. Hingga Senin (2/11/2020), sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas oleh topan yang melanda sejak Minggu itu

Topan tersebut menerbangkan atap rumah, menjatuhkan kabel listrik, dan memicu banjir. Di daerah yang paling parah terkena dampak, ratusan ribu orang telah meninggalkan rumah mereka.

Topan itu disebut sebagai topan terkuat di dunia tahun ini dan memicu tanah longsor yang mengubur sejumlah rumah di wilayah selatan Pulau Luzon, Filipina.

Topan tersebut mulanya dilaporkan menghantam Pulau Catanduanes pada Minggu sebelum fajar waktu setempat dengan perkiraan kecepatan angin 225 kilometer per jam.

Setelah itu kecepatannya menurun dan menyapu wilayah selatan Pulau Luzon lalu menuju Laut China Selatan Selatan di mana diperkirakan akan melemah menjadi badai tropis yang cukup parah.

Provinsi Catanduanes dan Albay merupakan wilayah yang palin parah terdampak Topan Goni. Sebelumnya, wilayah tersebut telah diperingatkan oleh ahli cuaca negara bagian bahwa kemungkinan akan datang topan ganas yang menyapu wilayah tersebut.

Bencana tersebut terjadi sepekan setelah Topan Molave menghantam wilayah yang sama di Filipina, menewaskan 22 orang. Pertahanan Sipil Filipina dalam sebuah pernyataan mengatakan setidaknya sembilan orang tewas di Albay dan satu orang tewas di Catanduanes.

Sebanyak tiga korban tewas yang dilaporkan tersebut adalah korban tewas dalam longsoran material vulkanik yang dipicu oleh hujan lebat. Banyak rumah di dua desa yang dekat dengan Gunung Mayon di Albay terkubur material vulkanik.

“Kami telah menemukan tiga mayat dan sedang mencari tiga lagi,” kata Mayor Domingo Tapel, kepala polisi kota Guinobatan. Hujan lebat juga membanjiri jalan dan kota Guinobatan.

“Angin sangat kencang. Kami bisa mendengar pohon-pohon ditabrak. Sangat kuat,” kata Francia Mae Borras (21) kepada AFP dari rumahnya di kota pantai dekat Legazpi.

Pertahanan Sipil Filipina menambahkan hampir 400.000 orang meninggalkan rumah mereka, kebanyakan dari mereka ke pusat-pusat evakuasi. Berbagai pejabat di daerah yang terdampak melaporkan pemadaman listrik, yang mengganggu layanan telekomunikasi dan menghambat upaya untuk menilai tingkat kerusakan.

“Jalan-jalan kami banyak dipenuhi puing-puing dari pegunungan seperti ranting dan pasir, beberapa di antaranya berasal dari (Gunung) Mayon. Beberapa jalan tidak bisa dilewati,” kata Carlos Irwin Baldo, Wali Kota Camalig, dekat Legazpi.

Di Manila, bandara ditutup dan penduduk dari daerah kumuh dataran rendah yang berisiko tergenang banjir dievakuasi. “Lebih baik aman,” kata Arman Atuel (33) kepada AFP saat dia duduk bersama istrinya di dalam kendaraan membawa orang ke tempat penampungan.

Ribuan tentara dan polisi bersiaga untuk membantu evakuasi dan upaya penyelamatan. Foto yang dibagikan oleh Palang Merah Filipina di Twitter menunjukkan personelnya menyelamatkan orang-orang yang terjebak di rumah mereka. (afp/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2