Kisah Di Balik Staf Medis Muslim dan Yahudi Ibadah Bersama - Waspada

Kisah Di Balik Staf Medis Muslim dan Yahudi Ibadah Bersama

  • Bagikan
Avraham Mintz (kiri) dan Zoher Abu Jama menyempatkan beribadah di tengah-tengah kesibukan mereka sebagai garda terdepan penanganan virus corona di Israel. Reuters

Pemandangan langka muncul di Israel, kala seorang staf medis Muslim dan Yahudi beribadah bersama di tengah tugas mereka menangani wabah Covid-19.

Ketika nyaris tidak ada waktu istirahat, Avraham Mintz dan Zoher Abu Jama menyempatkan beribadah sesuai agama masing-masing dengan menghadap kiblat yang berlawanan di pinggir jalan.

Saat itu keduanya baru saja selesai memeriksa seorang wanita 41 tahun yang mengalami masalah pernapasan di kota Be’er Sheva, Israel selatan. Sebelumnya mereka telah memeriksa seorang pria 77 tahun, dan akan ada lebih banyak lagi panggilan pemeriksaan berikutnya.

Ketika waktu mendekati pukul 18.00, Mintz dan Abu Jama menyadari mungkin itu satu-satunya waktu istirahat di shift mereka. Kedua anggota Magen David Adom (MDA), yang merupakan layanan tanggap darurat Israel, itu berhenti sejenak untuk beribadah.

Mintz yang beragama Yahudi berdiri menghadap Yerusalem, dengan selendang putih dan hitam menggantung di pundaknya. Zoher yang beragama Islam berlutut menghadap Ka’bah di Makkah, dengan sajadah diletakkan di atas aspal. Keduanya beribadah sekitar 15 menit, sebelum beranjak kembali ke ambulans untuk melanjutkan pekerjaan.

CNN mengabarkan, bagi kedua paramedis yang secara rutin bekerja bersama 2-3 kali seminggu itu, beribadah bersama bukanlah hal baru. Namun bagi orang lain, foto Muslim dan Yahudi ibadah bersama adalah inspirasi tersendiri di tengah situasi pandemi virus corona saat ini.

Foto tersebut diambil oleh seorang rekan kerja mereka, dan langsung jadi viral dengan ribuan likes di media sosial dan menjadi pemberitaan banyak media internasional.

Seorang warganet merespons foto Muslim dan Yahudi ibadah bersama ini di Instagram: “Saya bangga dengan semua upaya penyelamatan, tidak masalah dari komunitas atau agama apa.” Lalu seorang warganet di Twitter menuliskan, “Satu perjuangan! Satu kemenangan! Mari kita bersatu.”

“Faktanya itu sangat sederhana yang membuatnya sangat bermakna. Aku percaya bahwa Zoher dan diriku serta sebagian besar dunia mengerti bahwa kita harus tetap semangat dan berdoa. Hanya itu yang bisa dilakukan,” kata Mintz, 42 kepada CNN.

Avraham Mintz (kanan) dan Zoher Abu Jama merupakan anggota Magen David Adom (MDA), layanan tanggap darurat Israel. CNN

Ayah 9 anak ini adalah pekerja MDA full-time yang juga melatih sukarelawan. Sementara Zoher, ayah 7 anak dari kota Bedahat dekat Rahat, adalah salah satu sukarelawan itu.

Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai instruktur mengemudi untuk membantu sebanyak mungkin dalam wabah Covid-19 di Israel. “Dalam hal kepercayaan dan kepribadian, kami percaya pada hal yang sama dan kami memiliki kesamaan,” kata pria 39 tahun itu.

Menurut Zaki Heller juru bicara MDA, di seluruh Israel tim MDA bisa memenuhi 100.000 panggilan medis di hari-hari tersibuk, 10 kali lipat melebihi kapasitas normal mereka.

Selain pekerjaan normal paramedis dan EMT, tim MDA bertugas membawa pasien Covid-19 ke rumah sakit atau ke hotel karantina yang ditunjuk, melakukan tes, mengumpulkan donor darah, dan banyak hal lainnya.

Awal bulan ini, mereka bahkan menyediakan tempat pemungutan suara bagi warga yang melakukan karantina mandiri. Direktur Jenderal MDA Eli Bin dengan bangga menyebut timnya adalah pahlawan Israel. MDA terdiri dari 2.500 karyawan tetap dan 25.000 sukarelawan.

Mintz dan Zoher tetap merendah, dan menekankan untuk tetap percaya kepada Tuhan di tengah situasi ini. “Saya percaya bahwa Tuhan akan membantu kita dan kita akan melewati ini. Kita semua harus berdoa kepada Tuhan untuk membuat kita melalui ini, dan kita akan melewati krisis dunia ini,” kata Zoher. (CNN/And)

 

  • Bagikan