Waspada
Waspada » Kamala Harris, Wanita Pertama Yang Menjadi Wapres AS
Internasional

Kamala Harris, Wanita Pertama Yang Menjadi Wapres AS

Kamala Harris yang akan dilantik menjadi wakil presiden pada Januari 2021 mendatang membuatnya menorehkan banyak rekor serbapertama, seperti wanita pertama, wanita keturunan Asia pertama, serta wanita berkulit hitam pertama yang menduduki jabatan wapres di Amerika Serikat. Fox News

Waspada – Kamala Harris akhirnya akan dilantik menjadi wakil presiden pada Januari 2021 mendatang. Hal itu membuatnya menorehkan banyak rekor serbapertama, seperti wanita pertama, wanita keturunan Asia pertama, serta wanita berkulit hitam pertama yang menduduki jabatan wapres di Amerika Serikat.

Kamala akan mendampingi Joe Biden menggantikan posisi Donald Trump di Gedung Putih. Untuk mengenalnya lebih jauh, simak profil wanita keturunan India-Jamaika itu.

Kamala Haris lahir pada tahun 1964, Ia merupakan anak dari dua orang tua yang sejak lama telah aktif dalam gerakan hak-hak sipil di Amerika.

Orang tua Kamala Harris adalah Shyamala Gopalan dari India dan Donald Harris dari Jamaika. Keduanya bertemu di University of California, Berkeley, yang ketika itu menjadi basis aktivisme mahasiswa di tahun 1960-an.

Sayangnya keduanya memutuskan untuk bercerai pada saat Kamala Harris dan saudara perempuannya masih belia. Setelah bercerai, Kamala kemudian dibesarkan oleh almarhum ibundanya. Sang ibunda lah yang dianggap memiliki pengaruh paling besar dalam hidupnya.

Nama Kamala sendiri di ambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “bunga teratai”. Warisan tradisi India-nya pun terasa kental selama dirinya melakukan kampanye, termasuk dengan bentuk panggilan terhadapnya.

Sebagai lawan politik, Kamala Harris tak luput dari ejekan Partai Republik, termasuk yang pernah dikeluarkan oleh Trump. Trump dan sekutunya berusaha melabeli Kamala Harris sebagai sosok yang radikal dan sosialis.

Hal tersebut merupakan sebuah upaya yang bertujuan untuk membuat publik merasa tak nyaman soal prospek seorang perempuan kulit hitam dalam kepemimpinan politik.

Dirinya juga menjadi sasaran disinformasi di dunia maya yang bercampur aduk dengan isu-isu rasisme dan seksisme terkait kualifikasi performanya dalam pelayanan publik sebagai presiden.

Kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris justru membuktikan hal sebaliknya. Anggota Kongres, Pramila Jayapal dari Washington mengatakan bahwa kekuatan Harris tak sekadar datang dari pengalaman di dunia politik, melainkan juga dari dukungan orang-orang yang telah ia wakili selama menjadi Senator California.

California sendiri merupakan negara bagian terpadat di Amerika dan salah satu negara bagian yang paling beragam. Terlihat dari persentasi demografinya dengan hampir 40% orang adalah Latino dan 15% adalah orang Asia.

Dalam Kongres, Harris dan Jayapal bekerja sama untuk merancang undang-undang yang ditujukan demi memastikan perwakilan hukum bagi Muslim yang menjadi sasaran kebijakan pelarangan perjalanan oleh Trump di tahun 2017.

Selain itu, peraturan tersebut juga ditujukan untuk memberikan hak kepada para pekerja rumah tangga. “Itu jenis kebijakan yang juga terjadi ketika Anda memiliki suara seperti kami di meja,” kata Jayapal.

Seturut pengakuan Kamala Harris, Sang Ibunda merawat dan membesarkannya dengan menanamkan pemahaman bahwa dunia akan melihat mereka sebagai wanita kulit hitam. Pemahaman itu dipegang erat-erat olehnya hingga begitulah cara ia menggambarkan sosok pribadinya saat ini.

Soal latar pendidikannya, Kamala berkuliah di Howard University, salah satu perguruan tinggi yang bersejarah soal perjuangan kulit hitam. Selama kuliah, dirinya menggabungkan diri ke dalam Alpha Kappa Alpha, perkumpulan mahasiswa pertama yang dibuat oleh dan untuk perempuan kulit hitam.

Kamala muda getol berkampanye secara teratur di HBCUs dan mencoba untuk mengkolaborasikan perjuangan pria dan wanita kulit hitam muda yang bersemangat membongkar rasisme yang telah sistemik di Amerika.

Kamala kemudian memutuskan untuk melabuhkan cintanya dan menikah dengan seorang pria Yahudi, Doug Emhoff, anak-anaknya memanggilnya sebagai “Momala”. Kabar tentang pencalonannya sangat menggembirakan bagi wanita dari berbagai ras di Amerika Serikat. (ap/afp/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2