Waspada
Waspada » Jika Terpilih, Joe Biden Tak Akan Pindahkan Kedubes AS Dari Yerusalem
Internasional

Jika Terpilih, Joe Biden Tak Akan Pindahkan Kedubes AS Dari Yerusalem

Joe Biden

WASHINGTON, AS (Waspada): Kandidat calon presiden (Capres) Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden, menyatakan dirinya akan membiarkan Kedutaan Besar (Kedubes) AS untuk Israel berada di Yerusalem jika dia terpilih nanti.

Seperti dilansir AFP, Kamis (30/4/2020), Biden sebelumnya menyatakan tidak setuju dengan keputusan kontroversial Presiden Donald Trump untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 2017 lalu.

Biden yang mantan Wakil Presiden AS era Barack Obama ini menyatakan bahwa lokasi Kedubes AS untuk Israel tidak seharusnya dipindahkan, tanpa adanya kesepakatan lebih luas dalam perjanjian damai antara Israel dan Palestina.

“Tapi sekarang itu sudah terjadi, saya tidak akan memindahkan kedutaan kembali ke Tel Aviv,” ucap Biden dalam acara penggalangan dana secara virtual, Rabu (29/4) waktu setempat.

Lokasi Kedubes AS menjadi isu panas terkait konflik Israel dan Palestina. Status kota Yerusalem juga menjadi salah satu isu yang paling diperdebatkan. Israel menduduki Yerusalem Timur tahun 1967 lalu dan kemudian menganeksasinya dalam langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota yang tak terbagi. Namun Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota untuk negara mereka di masa mendatang. Palestina meyakini Yerusalem Timur diduduki secara ilegal oleh Israel.

Trump menghancurkan status quo ketika dia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mengumumkan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem pada Desember 2017. Dia berulang kali membanggakan diri sebagai Presiden AS yang paling pro-Israel dalam sejarah.

Dalam pernyataan terbaru, Biden menyatakan dirinya akan membuka kembali Konsulat AS di Yerusalem ‘untuk melibatkan Palestina’. “Pemerintahan saya akan mendesak kedua pihak untuk mengambil langkah-langkah dalam menjaga prospek solusi dua negara tetap hidup,” sebutnya.

Pada Januari lalu, menantu Trump yang juga penasihat senior Gedung Putih, Jared Kushner, mengungkapkan rencana perdamaian Timur Tengah yang disusunnya.

Rencana itu mengajukan agar ibu kota Palestina ditetapkan di Abu Dis, pinggiran Yerusalem dan memberikan persetujuan untuk aneksasi permukiman Israel juga Lembah Yordan — wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak tahun 1967. Palestina, yang didukung Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam dan Uni Afrika, menolak rencana yang diajukan Kushner itu. (afp/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2