Waspada
Waspada » Israel Buka Pariwisata Di Yerusalem, Palestina Tercabik
Internasional

Israel Buka Pariwisata Di Yerusalem, Palestina Tercabik

Seorang wanita berselfie di sekitar Masjid Kubah Batu yang ikonik di kompleks Al-Aqsa, kota tua Yerusalem. Para pemimpin Palestina dengan tajam menolak keputusan baru-baru ini oleh UEA, Bahrain, dan Sudan untuk menjalin hubungan dengan Israel. Normalisasi itu melemahkan konsensus Liga Arab lama tentang hubungan Israel dan Palestina. AP

YERUSALEM, Palestina (Waspada): Ketika Uni Emirat Arab setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, salah satu dampaknya adalah sektor pariwisata di Yerusalem timur akan menjadi lebih ramai.

Dilansir kantor berita Associated Press, Rabu (18/11/2020), setelah warga Palestina di kota Yerusalem timur berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian akibat wabah virus corona, kini mereka akan segera melihat keuntungan di sektor pariwisata dari normalisasi UEA-Israel.

Seorang pengusaha Palestina di Yerusalem Timur, Sami Abu Dayyeh, mengatakan bahwa akan ada beberapa keuntungan di sektor pariwisata Palestina, “…dan inilah yang saya harapkan,” ujar Abu Dayyeh kepada Associated Press. “Lupakan politik, kita harus bertahan hidup,” ujarnya.

Para pemimpin Palestina dengan tajam menolak keputusan baru-baru ini oleh UEA, Bahrain, dan Sudan untuk menjalin hubungan dengan Israel. Normalisasi itu melemahkan konsensus Liga Arab lama tentang hubungan Israel dan Palestina.

Palestina berharap bisa mendirikan negara termasuk Yerusalem timur dan Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel dalam perang 1967.

Dukungan Arab, yang dilihat sebagai bentuk kunci dari pengaruh dalam beberapa dekade negosiasi perdamaian yang terus-menerus dan tidak aktif, sekarang tampaknya menurun, membuat Palestina bisa dibilang lebih lemah dan lebih terisolasi daripada titik mana pun dalam sejarah belakangan ini.

Orang-orang Palestina memandang permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem timur sebagai penghalang utama perdamaian. Dan sebagian besar komunitas internasional menganggapnya ilegal.

Tetapi prospek pariwisata religi yang diperluas pada akhirnya dapat menguntungkan orang Israel dan Palestina, karena turis Teluk yang kaya dan peziarah Muslim dari tempat yang lebih jauh memanfaatkan adanya jalur udara baru dan hubungan yang lebih baik untuk mengunjungi Masjid Al Aqsa serta situs suci lainnya.

Sementara Palestina berharap Yerusalem timur dan Tepi Barat menjadi bagian dari negara mereka kelak, Israel menganggap seluruh Yerusalem sebagai ibu kota negara Yahudi.

“Saya sangat senang karena saya pikir ini membuka kita ke era baru pariwisata Muslim yang tidak pernah benar-benar kita miliki,” kata Fleur Hassan Nahoum, wakil wali kota Yerusalem.

“Meskipun kami memiliki perdamaian dengan Yordania dan Mesir, saya tidak pernah benar-benar melihat turis Mesir atau turis Yordania karena kedamaian bukanlah kedamaian yang hangat [perdamaian yang jauh lebih kooperatif].”

Sementara itu, warga Palestina lainnya tampak lebih skeptis. Lebih dari belasan pemilik toko Palestina di Kota Tua Yerusalem, yang sebagian besar ditutup karena virus corona, menolak mengomentari potensi pariwisata Teluk, dengan mengatakan bahwa hal itu terlalu sensitif secara politik.

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa dorongan Israel untuk mempromosikan pariwisata di kompleks Haram Asy-Syarif akan meningkatkan ketegangan.

Kompleks Haram Asy-Syarif dengan masjid Al Aqsa dan Masjid Kubah Batu yang ikonik adalah bangunan suci dalam agama Islam.

Namun, bangunan Kubah Batu juga menjadi tempat suci bagi umat Yahudi yang menyebutnya sebagai Dome of The Rock dan kompleksnya disebut Temple Mount (atau Palestina menyebutnya juga dengan Haram Asy-Syarif). (ap/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2