Waspada
Waspada » India Dituding Pisahkan Pasien Hindu Dan Muslim
Internasional

India Dituding Pisahkan Pasien Hindu Dan Muslim

Pekerja migran harian di New Delhi, India, pulang ke kampung halaman dengan berjalan kaki karena system transportasi di negara itu tak beroperasi karena lockdown yang diterapkan pemerintah. AP

NEW DELHI, India (Waspada): Rumah sakit milik pemerintah di Ahmedabad, negara bagian Gujarat, India, dituding telah memisahkan pasien virus corona berdasarkan agama mereka. Pihak RS mengklaim bahwa perintah itu datang dari pemerintah.

Dikutip dari The Indian Express terdapat 1.200 tempat tidur yang disiapkan untuk pasien Covid-19. “Secara umum, ada bangsal terpisah bagi pasien pria dan wanita. Tapi di sini, kami telah membuat bangsal terpisah untuk pasien Hindu dan Muslim.

Ini adalah keputusan pemerintah dan Anda dapat bertanya kepada mereka,” ujar Dr Gunvant H Rathod, pengawas medis dari Rumah Sakit Sipil Ahmedabad, kepada The Indian Express dalam laporannya Rabu lalu.

Menurut seorang dokter yang dikutip dalam laporan lain oleh surat kabar The Hindu, pasien-pasien tertentu dari komunitas mayoritas tidak nyaman berada di bangsal yang sama dengan pasien-pasien dari komunitas minoritas.

“Setelah beberapa pasien mengeluh, diputuskan untuk memisahkan mereka secara sementara,” kata dokter itu kepada surat kabar itu dengan syarat namanya tidak disebut.

Negara Bagian Gujarat dipimpin oleh golongan nasionalis Hindu, Partai Bharatiya Janata (BJP), yang juga memerintah negara itu.

Narendra Modi adalah menteri utama negara bagian itu selama hampir 13 tahun berturut-turut sejak 2001 sebelum ia menjabat sebagai menjadi perdana menteri India pada 2014, demikian dikutip dari Al-Jazeera.

Menanggapi berita itu, Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Gujarat, Nitin Patel membantah tuduhan tersebut. Departemen kesehatan negara bagian itu juga mengeluarkan pernyataan resmi, menyebut laporan bangsal terpisah untuk Muslim dan Hindu “tidak berdasar”.

“Pasien ditempatkan di bangsal yang berbeda berdasarkan kondisi medis mereka, keparahan gejala dan usia, murni berdasarkan saran dari dokter yang merawat. Oleh karena itu, laporan yang muncul di media tertentu sama sekali tidak berdasar dan menyesatkan,” kata Wakil Menteri Gujarat Nitin Patel kepada Al Jazeera.

Sosiolog di Ahmedabad, Ghanashyam Shah, mengatakan, Islamofobia yang dipicu virus corona tersebar luas di India. Terutama setelah Jamaah Tabligh, sebuah kelompok misionaris Muslim, mengorganisasi pertemuan di New Delhi pada bulan Maret.

Tablig itu kemudian dikaitkan dengan ratusan kasus positif COVID-19 di seluruh negeri, yang memicu perburuan nasional untuk melacak siapa saja yang hadir dalam pertemuan itu.

Awal bulan ini, Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah memperingatkan pemerintah di seluruh dunia: “Mengidap COVID-19 bukanlah kesalahan siapa pun.

Setiap kasus adalah korban. Sangat penting bahwa kita tidak memprofilkan kasus berdasarkan ras, agama dan etnis,” kata direktur program darurat WHO Mike Ryan.

Menurut laporan media, lebih dari setengah dari hampir 500 kasus corona di Ahmedabad berasal dari lingkungan Muslim. Kota ini telah lama menjadi sarang perpecahan komunal, dengan daerah-daerah terpisah yang ditandai untuk umat Hindu dan Muslim.

Dilansir dari Al Jazeera, pada tahun 2002, Ahmedabad adalah salah satu wilayah utama kekerasan agama di negara itu, di mana hampir 2.000 Muslim terbunuh, puluhan perempuan diperkosa, dan ribuan lainnya mengungsi. (Al Jazeera/The Indian Express/AP/And)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2