Waspada
Waspada » India Berusaha Ekstradisi Zakir Naik dari Malaysia
Internasional

India Berusaha Ekstradisi Zakir Naik dari Malaysia

Zakir Naik

NEW DELHI, India (Waspada): Pendakwah Muslim asal India yang kontroversial, Zakir Naik, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak berwenang India dalam penyelidikan mereka atas kerusuhan di New Delhi, Februari lalu.

Dilansir dari The Quint, Jumat (19/6/2020), dalam permohonan yang diajukan oleh kepolisian Delhi pada 15 Juni, polisi menuduh salah seorang terdakwa dalam kerusuhan itu, Khalid Saifi, telah bertemu dengan Zakir Naik di luar negeri dan meminta dukungannya untuk “menyebarkan agendanya.”

Sementara Zakir Naik, yang kini bermukim di Malaysia, membantah mengetahui atau telah bertemu Saifi, demikian laporan The Quint. Insiden itu telah memperbaharui perdebatan politik dan agama seputar pengkhotbah kontroversial itu.

Pada tanggal 14 Mei, India meminta Naik untuk diekstradisi. Tokoh fundamentalis tersebut telah tinggal di pengasingan di Malaysia selama lebih dari tiga tahun dan memiliki tempat tinggal permanen di negara Asia Tenggara tersebut.

Zakir Naik menghadapi tuduhan menyebarkan ujaran kebencian di India, serta pencucian uang. Dia dituduh memperoleh aset kriminal senilai US$28 juta untuk membeli properti di India dan membiayai acara-acara di mana dia menyampaikan “pidato provokatif”.

Zakir Naik telah berulang kali membantah tuduhan bahwa dia memprovokasi kekerasan agama dan mengatakan media telah “menggunakan klip video dan sejumlah skema tidak jujur” untuk menuduhnya melakukan terorisme.

Para ahli telah berkomentar bahwa karakter politik yang kompleks di sekitar kasus Naik – ditambah dengan meningkatnya ketegangan agama di wilayah tersebut – dapat membuat skema ekstradisi semakin sulit.

India melanjutkan perjuangannya dalam mengumpulkan dukungan internasional untuk mengekstradisi Naik. Interpol telah menolak untuk mengeluarkan Red Notice untuk memburu Zakir Naik di tiga kesempatan.

Di masa lalu, pengikut kelompok Al Qaeda yang ditahan dilaporkan mengatakan kepada para pejabat bahwa Naik adalah pengaruh yang signifikan terhadap mereka. Dia juga telah dikritik di India karena pandangannya tentang berbagai topik termasuk jihad, Hindu dan hak-hak perempuan.

Malaysia belum mengomentari ekstradisi Naik. Para analis mengatakan bahwa keputusan Malaysia tentang apakah akan mengekstradisi Naik tergantung pada faktor agama dan politik.

“Rezim Malaysia saat ini lebih Islami daripada rezim sebelumnya karena pengaruh Partai Islam Pan-Malaysia,” kata Chaulia, merujuk pada kepemimpinan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, yang naik ke tampuk kekuasaan Maret lalu, beraliansi dengan Perikatan Nasional.

“Naik dipandang sebagai pengkhotbah agama yang penting bagi pemilih Melayu yang konservatif – yang terdiri dari sebagian besar basis suara koalisi Perikatan Nasional saat ini. Menyetujui untuk mengekstradisi Zakir Naik bisa berisiko mengikis basis itu,” jelas Chye Shu Wen, seorang analis di London. (deutsche welle/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2