Waspada
Waspada » Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh Dengan Operasi Rumit Dan Canggih
Headlines Internasional

Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh Dengan Operasi Rumit Dan Canggih

Pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh diduga kuat dilakukan oleh pasukan khusus Israel, Mossad, dan oposisi dengan cara yang rumit dan canggih. AP

TEHERAN, Iran (Waspada): Iran menyatakan bahwa ilmuwan nuklir mereka, Mohsen Fakhrizadeh, dibunuh dalam sebuah “operasi yang baru dan rumit”, di mana Israel dan oposisi dituding bertanggung jawab.

Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Laksamana Muda Ali Shamkhani, sebagaimana dilansir AFP Selasa (1/12/2020).

Shamkhani menuturkan, operasi untuk membunuh Mohsen Fakhrizadeh dilakukan dengan begitu rumit dan melibatkan peralatan elektronik canggih. Dia mengatakan kelompok oposisi Rakyat Mujahidin Iran (MEK) bersama dengan pemerintah Israel dan badan rahasia mereka, Mossad, yang melakukannya.

“Musuh menggunakan metode profesional, baru, dan rumit demi mencapai tujuan mereka,” jelas Shamkhani. Sebanyak 62 personel, termasuk penembak jitu dan pengendara sepeda motor bersenjata api, ditambah dengan bom, dilaporkan terlibat dalam eksekusi yang terkoordinasi terhadap Fakhrizadeh.

Fakhrizadeh tewas pada Jumat (27/11/2020) saat dia menuju ke tempat peristirahatannya di daerah pegunungan yang disertai dengan konvoi tiga mobil anti-peluru.

Rincian pembunuhan Fakhrizadeh dibocorkan oleh jurnalis Iran, Mohamad Ahwaze, melalui Twitter. Awal tahun ini, dia juga mengungkap luasnya pandemi Covid-19 di negaranya.

Pejabat Intelijen Amerika Serikat (AS) juga mengatakan kepada surat kabar terkemuka The New York Times bahwa Israel berada di balik serangan itu, yang menjadi ciri-ciri Mossad.

Lokasi pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh yang diduga kuat dilakukan oleh pasukan khusus Israel, Mossad, dan oposisi. AP

Detik-detik penyerangan

Menurut Ahwaze, dari 62 orang yang terlibat dalam pembunuhan itu, sebanyak 12 anggota regu penembak dikerahkan ke Kota Absard, sekitar 80 kilometer di timur Teheran.

Sementara itu, 50 orang lainnya, membantu dengan dukungan logistik meski Ahwaze tidak merinci apakah mereka berbasis di Iran atau di luar negeri. Tim tersebut telah memata-matai Fakhrizadeh dan mengetahui bahwa Fakhrizadeh akan bertolak dari Teheran ke Absard pada Jumat.

Mereka menyusun rencana untuk melancarkan serangan di sebuah bundaran di Absard, yang dipenuhi dengan deretan pepohonan sebelum memasuki kota.

Sebuah mobil Hyundai Santa Fe dengan empat penumpang dan empat sepeda motor yang membawa penembak jitu sedang menunggu Fakhrizadeh di lokasi penyergapan.

Di sana juga terdapat Nissan pikap jebakan yang siap meledak saat konvoi Fakhrizadeh lewat. Setengah jam sebelum konvoi tiga mobil anti-peluru Fakhrizadeh tiba, daya listrik dipadamkan di daerah tersebut.

Ketika mobil ketiga lewat, Nissan tersebut meledak dan konvoi Fakhrizadeh berhenti. Setelah itu, 12 penembak, termasuk dua penembak jitu, menyerang mobil kedua yang ditempati Fakhrizadeh dengan hujan peluru.

“Menurut kabar yang dibocorkan Iran, pemimpin tim pembunuh membawa Fakhrizadeh keluar dari mobilnya dan menembaknya untuk memastikan dia terbunuh,” kata Ahwaze.

Pasukan pembunuh kemudian berpencar setelah selesai melaksanakan tugas mereka dan tidak ada korban jiwa dari pihak penyerang. Para warga mengatakan kepada saluran televisi pemerintah bahwa mereka mendengar ledakan besar diikuti oleh suara baku tembak yang intens.

Suara baku tembak itu berasal dari suara tembakan dari pengawal Fakhrizadeh yang mati-matian melawan para pembunuh. Sebuah helikopter polisi mendarat di daerah itu untuk mengangkut Fakhrizadeh dan lainnya ke rumah sakit terdekat.

Tetapi begitu sampai di rumah sakit terdekat, mereka terkejut karena listrik telah diputus sebelumnya. Para korban kemudian dilarikan menuju ibu kota Teheran.

Lokasi pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh yang diduga kuat dilakukan oleh pasukan khusus Israel, Mossad, dan oposisi. AP

Ketegangan di Teluk Arab meningkat

Pada Jumat pukul 19.30 waktu setempat, kematian Fakhrizadeh diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif. Kala itu, dia mengatakan bahwa seorang ilmuwan Iran terkemuka telah terbunuh dan menduga Israel ada di balik ini semua.

Jenazah Fakhrizadeh terbaring di peti mati, terbungkus bendera Iran di sebuah masjid di Teheran tengah. Ketua Pengadilan Iran, Ebrahim Raisi, berdoa di atas jenazah Fakhrizadeh dan menjadi tontonan oleh publik yang berkabung.

Kematian Fakhrizadeh membuat ketegangan di Teluk Arab semakin meroket ketika Iran menuduh Israel mencoba memprovokasi perang dengan membunuh ilmuwan tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyebut Fakhrizadeh dalam konferensi pers tentang program senjata nuklir Iran. “Ingat nama itu,” kata Netanyahu merujuk pada nama Fakhrizadeh.

Pembunuhan Fakhrizadeh dilakukan di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah antara Iran dengan AS, bersama dengan sekutunya Israel dan Arab Saudi, atas pencarian senjata nuklir Teheran.

Iran telah berjanji untuk melakukan serangan balasan pada siapa pun yang melakukan serangan itu. Sementara itu, kapal induk AS USS Nimitz dikerahkan ke Teluk Arab pekan ini berselang beberapa hari sebelum pembunuhan terjadi.

Namun pejabat Angkatan Laut AS berkeras bahwa pengerahan kapal induk seberat 101.000 ton itu tidak terkait dengan adanya ancaman khusus.

Sebelumnya, Presiden Hassan Rouhani menuduh musuh bebuyutan Iran, Israel, bertindak sebagai tentara bayaran bagi AS dan berusaha menciptakan kekacauan dengan melakukan pembunuhan.

“Bangsa Iran lebih pintar daripada jatuh ke dalam perangkap konspirasi yang dibuat oleh Zionis. Mereka berpikir untuk menciptakan kekacauan, tetapi mereka harus tahu bahwa kami telah membaca tangan mereka dan mereka tidak akan berhasil,” kata Rouhani.

Dia berjanji bahwa Iran tidak akan membiarkan tindakan kriminal begitu saja dan berjanji akan membalas ketika waktunya telah tiba. (afp/ap/the sun/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2