Waspada
Waspada » HRW: China akan Menyebabkan Bencana HAM Global
Internasional

HRW: China akan Menyebabkan Bencana HAM Global

Aksi solidaritas Uighur di Jakarta. Merdeka

NEW YOR, AS (Waspada): Pimpinan lembaga pengamat hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) Kenneth Roth bertolak ke Hong Kong untuk memperkenalkan laporan tahunan terbarunya, World Report 2020.

Setiap tahun, HRW mengeluarkan laporan situasi HAM di lebih dari 90 negara. Tahun ini, negara yang jadi sorotan adalah China. Tapi ‘Negeri Tirai Bambu’ menolak memberikan visa kepada Roth, tanpa menyebut apa alasannya.

Di akun Twitter-nya Roth mengritik keputusan otoritas China. “Beijing sebaiknya mendengar, bukannya menyensor,” serunya. Laporan HRW mengenai China memberikan gambaran yang suram. Negara itu melakukan “Serangan intensif terhadap sistem hak asasi global,” tulis Kennth Roth pada kata pengantar laporan itu.

Teknologi penindasan

Menurut laporan HRW, China punya strategi jelas untuk meredam tuntutan HAM, yaitu dengan hadir sebagai mitra dagang di berbagai bagian dunia dan bersamaan dengan itu melakukan sensor secara global.

Kombinasi strategi itu bisa melenyapkan standar-standar HAM yang selama ini diakui secara internasional. Karena China akan melarang mitra dagangnya mengritik situasi HAM di dalam negeri.

Contoh konkretnya adalah situasi di Provinsi Xinjiang. Minoritas Muslim Uighur di kawasan itu ditindas dan ditahan di kamp-kamp penampungan. China menggunakan teknologi canggih “sebagai instrumen utama” penindasan, kata HRW, dan menciptakan “pengawasan negara yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya”.

Sistem pengawasan menggunakan teknologi itu dilengkapi lagi dengan pengawasan oleh aparat. Ada satu juta petugas dan anggota Partai Komunis yang dikerahkan untuk mendatangi rumah-rumah keluarga Uighur, bahkan ‘untuk beberapa waktu tinggal bersama mereka’ dan mengawasi kegiatan mereka, misalnya ketika warga beribadah.

Beijing Ingin Ganti Sistem HAM Internasional

Pelanggaran HAM secara masif memang tidak hanya terjadi di China, melainkan juga di banyak tempat lain seperti di Suriah dan Yaman. Namun ada perbedaan besar: Beijing menggunakan kekuatan ekonominya sebagai instrumen.

Banyak perusahaan asing di China yang harus mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan Partai Komunis untuk bisa berinvestasi. Negara-negara yang mengritik China juga harus menghadapi risiko tidak mendapat akses lagi ke pasar domestik, yang merupakan 16 persen perekonomian dunia.

Dalam laporan tahunannya, HRW juga mengritik negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Negara-negara Uni Eropa sekarang cenderung bungkam terhadap China dan melaksanakan apa yang disebut “diplomasi senyap”.

Banyak pemimpin Barat yang berkunjung ke China dan mengatakan mereka menyinggung soal HAM di belakang pintu tertutup. Namun orientasi para pemimpin Barat yang utama adalah membuat kesepakatan dagang.

HRW mengimbau negara-negara Barat agar berhenti menerapkan standar ganda dalam isu hak asasi manusia. Standar-standar hak asasi harus dipertahankan, juga ketika berhadapan dengan adidaya ekonomi seperti China. “Yang harus disadari adalah, pemerintah China sedang bekerja untuk melenyapkan sistem hak asasi internasional dan menggantinya dengan sistem yang lain,” kata Roth. (DW/And)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2