Waspada
Waspada » Hiperinflasi, Modal Rp100.000 Bisa Jadi Jutawan Di Venezuela
Internasional

Hiperinflasi, Modal Rp100.000 Bisa Jadi Jutawan Di Venezuela

CARACAS, Venezuela (Waspada): Bank Sentral Venezuela (BCV) mengumumkan tiga pecahan uang kertas baru yakni 200.000 bolivar, 500.000 bolivar, dan 1 juta bolivar. Pengumuman itu disampaikan BCV pada Jumat sebagaimana dilansir Deutsch Welle.

Pecahan uang kertas baru tersebut akan beredar bersama pecahan uang kertas 10.000 bolivar, 20.000 bolivar, dan 50.000 bolivar yang saat ini digunakan. Faktanya, nilai tukar mata uang Venezuela sangatlah jauh dibandingkan mata uang lain di seluruh dunia, apalagi terhadap dollar AS.

Melansir exchange-rates.org pada Sabtu, 1 dollar AS setara dengan 1,8 juta bolivar Venezuela. Sedangkan Rp1 setara dengan 131 bolivar Venezuela. Itu artinya, jika ada yang menukar uang Rp100.000 ke bolivar, maka akan mendapat sekitar Rp13 juta bolivar.

Menurut BCV, pecahan uang kertas terbaru tersebut akan mulai beredar secara bertahap mulai Senin (8/3/2021). Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Venezuela telah beralih ke pencetakan uang kertas baru pada denominasi yang berbeda sebagai cara untuk mengatasi inflasi yang melonjak.

BCV melaporkan tingkat inflasi antar-tahun berjalan berada di angka 2.665 persen pada Januari. “Pecahan uang baru ini akan melengkapi dan mengoptimalkan denominasi saat ini, untuk memenuhi persyaratan ekonomi nasional,” kata BCV dalam sebuah pernyataan.

Venezuela dulunya merupakan negara makmur karena minyak buminya yang melimpah. Namun, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tersebut mengalami kejatuhan ekonomi selama tujuh tahun terakhir.

Hal itu didorong oleh jatuhnya harga minyak yang menyebabkan penurunan impor dan defisit fiskal yang menganga, mendorong bank sentral untuk mencetak lebih banyak bolivar Venezuela.

Hiperinflasi dan erosi nilai bolivar Venezuela selama bertahun-tahun telah menyebabkan rakyat Venezuela menggunakan dollar AS untuk banyak transaksi sehari-hari.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyebut penggunaan dollar AS secara informal tersebut adalah “katup pelarian” sambil menyalahkan sanksi AS atas kesengsaraan ekonomi.

Para kritikus mengatakan akar dari keruntuhan ekonomi Venezuela terletak pada kebijakan yang terlalu dianggap mengintervensi pasar oleh Maduro dan mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez. (reuters/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2