Waspada
Waspada » Gebrakan Baru, Arab Saudi Akhirnya Mengizinkan Perempuan Bekerja Sebagai Pramugari
Internasional

Gebrakan Baru, Arab Saudi Akhirnya Mengizinkan Perempuan Bekerja Sebagai Pramugari

Arab Saudi mulai memperbolehkan perempuan bekerja sebagai pramugari. Itu merupakan langkah bersejarah karena secara historis, masyarakat Saudi melarang perempuan untuk bekerja sebagai wiraniaga, apalagi pramugari yang dianggap sebagai pelayan. Business Traveller

RIYADH, Arab Saudi (Waspada): Maskapai penerbangan asal Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines (Saudia), secara resmi membuka lowongan pekerjaan bagi pramugari.

Dikutip dari The Jerusalem Post, Selasa (22/12/2020), itu merupakan pertama kalinya wanita Saudi diperbolehkan bekerja di bidang yang sebelumnya sama sekali dilarang.

Melalui sebuah pengumuman yang dikeluarkan pada Jumat pekan lalu, para pelamar minimal harus berijazah SMA dan berusia antara 20 hingga 30 tahun.

Saudia juga mensyaratkan para pelamar harus fasih berbahasai Inggris. Selain itu, tinggi dan berat badan pelamar harus sesuai dengan “standar” Saudia.

Saudia adalah maskapai penerbangan terbesar ketiga di Timur Tengah dalam hal pendapatan, di belakang Emirates dan Qatar Airways.

Seorang analis sekaligus akademisi, Karema Bokhary, mengatakan kepada The Media Line bahwa dalam lima tahun ke depan atau lebih, perempuan Arab mungkin memiliki hak yang sama dengan pria.

“Mengizinkan perempuan Arab Saudi bekerja sebagai pramugari merupakan topik yang sangat menarik. Saya akan memantau siapa yang akan mendaftar dan jumlahnya,” kata Bokhary.

Dia menjelaskan bahwa secara historis, masyarakat Saudi telah melarang perempuan untuk bekerja sebagai wiraniaga, apalagi pramugari yang dianggap sebagai pelayan.

“Mereka (Arab Saudi) mungkin menganggapnya sebagai penghinaan lebih lanjut bagi wanita Saudi karena mereka harus melayani, membersihkan, dan menangani permintaan apapun karena itu akan menjadi pekerjaan mereka,” imbuh Bokhary.

Ia menambahkan, keputusan untuk mengizinkan wanita bekerja sebagai pramugari merupakan titik balik yang baik di Kerajaan Arab Saudi.

“Selain itu, bayaran untuk pekerjaan itu sangat tinggi, terutama karena membuka jalan bagi perempuan yang bukan lulusan universitas untuk bekerja,” sambung Bokhary.

Dia mengindikasikan bahwa gerakan untuk mendukung hak-hak perempuan dimulai pada masa pemerintahan Raja Abdullah bin Abdulaziz (2005-2015).

Gerakan tersebut semakin berbuah di bawah pemerintahan Raja Arab Saudi saat ini, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.

“Dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah sepenuhnya membuka jalan bagi wanita dan mendukung penuh wanita Saudi, dan dia tidak mundur. Langit adalah batas mereka,” lanjutnya.

MBS mencanangkan program bernama Saudi Vision 2030 yang memungkinkan wanita bekerja di berbagai industri. Sedangkan di masa lalu, wanita hanya terbatas pada beberapa sektor seperti pendidikan.

Ahli sosiologi politik dari King Saud University, Profesor Widad al-Jarwan, mengatakan kepada The Media Line bahwa orang-orang harus ingat bahwa wanita Arab Saudi ingin menjalani kehidupan normal. 70 tahun lalu dan banyak wanita yang telah lulus sebagai guru dan dokter.

Jarwan menambahkan kendala yang dihadapi wanita dalam beberapa hal tidak hanya terjadi di Arab Saudi, namun terjadi di seluruh dunia, bahkan di negara-negara maju sekali pun.

“Sekarang ada perubahan dan transformasi baru yang meliputi reformasi hukum, sosial, dan urusan sipil perempuan secara radikal, di bawah Saudi Vision 2030,” tutur Jarwan.

“ Perempuan adalah separuh dari masyarakat, dan pilihan untuk memberdayakan perempuan semakin meningkat terkait jenis pekerjaan dan spesialisasi mereka, dan mendapatkan semua hak keluarga, sosial dan hukum mereka,” lanjut Jarwan. (jerusalem post/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2