Waspada
Waspada » Dianggap Merusak Reputasi Monarki, Raja Thailand Dituntut Kembalikan Aset Negara
Internasional

Dianggap Merusak Reputasi Monarki, Raja Thailand Dituntut Kembalikan Aset Negara

Parit Chiwarak, salah satu pemimpin pengunjuk rasa pro-demokrasi, berbicara kepada media tentang aksi dan tuntutannya. AP

BANGKOK, Thailand (Waspada): Kelompok pro-demokrasi kembali menuntut agar Raja Maha Vajiralongkorn melepas kekuasaan atas kekayaan monarki. Pengelolaan aset senilai US$40 miliar dollar (atau sekitar Rp 565 triliun) itu dialihkan ke kerajaan sejak dua tahun silam.

Ketika kepolisian Thailand memberlakukan pasal anti-penghinaan kerajaan, demonstran pro-demokrasi di Bangkok kembali menuntut agar kekuasaan Vajiralongkorn terhadap biro pengelola kekayaan kerajaan dicabut.

Tuntutan tersebut melanggar tabu di Thailand yang melarang kritik terhadap kerajaan. Kepolisian saat ini dikabarkan telah memanggil belasan pemimpin demonstran untuk dimintai keterangan. Jika terbukti melanggar, terdakwa bisa diancam hukuman penjara maksimal 15 tahun.

“Undang-undang ini kuno dan barbar. Setiap kali digunakan, dia merusak reputasi monarki dan negara,” kata Parit Chiwarak, yang terkena dakwaan penghinaan terhadap monarki.

Dia mengenakan kostum berwarna kuning, menyerupai boneka bebek raksasa yang menjadi simbol aksi protes. Para demonstran yang berjumlah ribuan orang awalnya ingin menyambangi kantor Biro Properti Kerajaan (CPB) yang mengelola aset monarki Thailand.

Lembaga ini belakangan menjadi sasaran protes karena dianggap menjadi dompet pribadi raja. Kekayaan monarki Thailand Menurut laporan majalah Fortune, Raja Maha pada 2017 menempatkan penasihat keuangannya sebagai kepala direksi CPB.

Langkah itu sekaligus menggeser menteri keuangan yang biasanya menduduki posisi tersebut. Pada tahun yang sama, Pemerintah Thailand mengesahkan amandemen UU Properti Kerajaan, yang memberikan hak atas portofolio CPB sepenuhnya kepada raja.

Tidak lama kemudian biro tersebut menyatakan telah mengembalikan semua aset kepada raja. Salah satu aset tersebut adalah kepemilikan saham di salah satu bank tertua di Thailand, Siam Commercial Bank.

Menurut laporan berbagai media, kerajaan menguasai 23 persen saham perusahaan dan merupakan investor terbesar bagi SCB.

“Saham SCB tidak seharusnya dimiliki raja, tetapi kementerian keuangan, jadi keuntungannya bisa digunakan untuk pembangunan,” kata Boss, seorang peserta demonstrasi yang berkumpul di depan kantor pusat SCB di Bangkok.

Aset kerajaan Thailand ditaksir berkisar antara US$30-40 miliar (Rp424 sampai Rp 565 triliun). Angka tersebut menempatkan Raja Maha sebagai penguasa monarki terkaya di dunia saat ini.

Meskipun begitu, Pemerintah Thailand setiap tahun menganggarkan dana hingga US$1 miliar dollar (Rp14 triliun) untuk membiayai kerajaan. Polisi Thailand Pihak kerajaan sejauh ini menolak berkomentar terkait gelombang demonstrasi di Bangkok.

Namun, belum lama ini Raja Maha mengaku mencintai semua warga Thailand saat ditanya tentang aksi protes terhadapnya. Awal Oktober lalu, dia memerintahkan untuk militer memindahkan dua unit pasukan ke bawah komando kerajaan.

Dekrit yang turut ditandatangani PM Prayuth Chan-o-cha itu mengutip Pasal 172 UUD yang menjamin hak raja mengoperasikan satuan tempur jika ada ancaman terhadap kerajaan. (deutsche welle/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2