Waspada
Waspada » Di Tengah Islamofobia, Jumlah Muslim Di Eropa Terus Berkembang Pesat
Internasional

Di Tengah Islamofobia, Jumlah Muslim Di Eropa Terus Berkembang Pesat

Masuknya imigran membuat membuat jumlah populasi Muslim di Eropa semakin berkembang pesat. Di sisi lain, ada pula orang asli Eropa yang memeluk Islam. Jerusalem Resources

LONDON, Inggris (Waspada): Islam sangat berkembang di Eropa. Kejayaan Islam pada masa lalu dapat dilihat di Spanyol. Kekhalifahan Islam membangun peradaban di Andalusia, baik melalui ilmu pengetahuan maupun budaya.

Dilansir dari BBC, Senin (30/11/2020), Islam dinilai sebagai agama yang paling cepat berkembang di Eropa. Islam juga masuk ke Eropa bersamaan dengan masuknya imigran.

Kian banyaknya jumlah imigran membuat jumlah populasi Muslim di sana pun ikut terkerek. Di sisi lain, ada pula orang asli Eropa yang memeluk Islam.

Komunitas Muslim Faith Matters mengungkapkan, tahun 2011 sebanyak 5.200 warga Inggris menjadi mualaf. Berdasarkan hasil survei, 56 persen mualaf itu merupakan warga kulit putih Inggris.

Dari warga asli Inggris yang memeluk Islam itu, sebanyak 62 persen adalah perempuan. Mereka berasal dari kalangan muda, yakni berusia 27 tahun.

Ajmal Masroor, seorang imam masjid di London, Inggris, mengungkapkan sekitar tiga perempat mualaf adalah perempuan.

Banyak orang mencari kedamaian spiritual. Mereka menemukan jawabannya dalam Islam. Perempuan, lebih mudah merenung dan mengambil langkah yang lebih serius, bahkan saat usia mereka masih muda.

Kondisi tersebut telah berlangsung sejak 20 tahun terakhir, terlebih lagi sejak peristiwa pengeboman menara kembar World Trade Center pada 11 September 2001 di NewYork, Amerika Serikat.

Seperti Muslim di benua lainnya, Muslim di Eropa juga menghadapi sejumlah tantangan yang harus mereka atasi. Di antaranya Islamofobia dan munculnya kebijakan-kebijakan yang dianggap berbau Islamofobia. Di dalamnya adalah soal cadar, pelarangan pembangunan masjid maupun menara masjid, dan diskriminasi.

Muslim di Eropa terus berupaya untuk membangun masjid sebagai sarana beribadah yang layak. Ini terjadi di Swedia, Prancis, Italia, Austria, Yunani, Jerman, dan Slovenia. Banyak juga yang menentang proyek pendirian masjid tersebut.

Di Athena, Yunani, Muslim harus menunggu puluhan tahun agar diizinkan mendirikan bangunan masjid. Selama ini, Muslim di Athena menunaikan ibadah sholat di ruangan basement gedung.

Selain soal masjid, isu lainnya adalah persoalan cadar. Sejumlah negara di Eropa menetapkan larangan cadar. Belgia dan Prancis, misalnya, meloloskan aturan yang melarang penggunaan cadar di tempat-tempat umum.

Amnesty International melayangkan kecaman terhadap pelarangan cadar sebab langkah itu merupakan serangan terhadap kebebasan beragama. Integrasi juga menjadi hal yang kini menjadi sorotan dari sejumlah kalangan di Eropa.

Mereka yang gencar mengusung tema ini adalah kelompok sayap kanan. Muslim, yang kebanyakan adalah imigran, dianggap tak bisa berbaur dengan masyarakat di mana mereka tinggal.

Pemerintah Jerman gencar mendorong lahirnya integrasi. Mereka melakukan pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam.

Tak hanya itu, mereka pun membina para imam masjid agar bisa berbahasa Jerman. Ada semacam kursus para imam yang kebanyakan menggunakan bahasa Turki itu.

Muslim juga mengupayakan berbaur dengan masyarakat di sekitarnya. Mereka membuka masjid dan melakukan dialog antariman untuk saling mengenal dan memahami.

Dengan demikian, masyarakat non-Muslim mengetahui apa sebenarnya Islam itu dan bagaimana Muslim menunaikan ibadahnya, misalnya shalat di masjid. (bbc/dw/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2