Waspada
Waspada » Demonstrasi Berlanjut, Yel-yel Arab Spring Berkumandang Di Lebanon
Headlines Internasional

Demonstrasi Berlanjut, Yel-yel Arab Spring Berkumandang Di Lebanon

Ribuan orang di ibu kota Beirut, Lebanon, berunjuk rasa menumtut reformasi pemerintah sembari meneriakkan yel-yel Arab Spring dalam demonstrasi buntut ledakan dipelabuhan kota yang menewaskan 150 orang dan melukai 5.000 lainnya itu. Reuters

BEIRUT, Lebanon (Waspada): Yel-yel gerakan Arab Spring bergema di Beirut, ibu kota Lebanon, buntut dari ledakan dahsyat di pelabuhan yang terjadi pada Selasa lalu. Para pengunjuk rasa Lebanon menyerbu kantor kementerian dan merusak kantor Asosiasi Bank Lebanon.

Dilansir Reuters, Senin (10/8/2020), mereka meneriakkan yel-yel “rakyat ingin rezim lengser”, yang identik dengan yel-yel saat gerakan Arab Spring 2011. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan, “Pergilah, kau pembunuh.”

Belasan pengunjuk rasa juga menerobos masuk ke gedung Kementerian Luar Negeri, di mana mereka membakar foto Presiden Michel Aoun yang menurut mereka harus disalahkan atas insiden ini.

“Kami tetap di sini. Kami menyerukan kepada rakyat Lebanon untuk menduduki semua gedung kementerian,” kata seorang demonstran. Para pengunjuk rasa mengatakan, politisi harus mengundurkan diri dan dihukum karena kelalaian yang mereka katakan menyebabkan ledakan terbesar yang pernah melanda Beirut.

Lebih dari 150 orang tewas dalam insiden itu, dan 6.000 lainnya luka-luka. Insiden tersebut menambah telak pukulan di dunia politik dan perekonomian Lebanon.

Sekitar 10.000 orang berkumpul di Martyrs Square, dan beberapa di antaranya melempar batu ke polisi. Polisi kemudian menangani massa dengan menembakkan gas air mata, ketika beberapa demonstran coba menerobos barikade menuju gedung parlemen.

Seorang polisi tewas akibat jatuh ke lorong lift di sebuah gedung usai dikejar pengunjuk rasa dalam bentrokan ini, kata seorang juru bicara. Palang Merah pada mengatakan, mereka merawat 117 orang karena luka-luka di lokasi demo, sedangkan 55 lainnya dilarikan ke rumah sakit.

Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Beirut mengatakan, pemerintah AS mendukung hak para demonstran untuk melakukan protes damai, dan mendesak semua yang terlibat untuk menahan diri dari kekerasan.

Kedubes AS juga berkicau di Twitter, bahwa rakyat Lebanon “berhak mendapat pemimpin yang mendengarkan mereka dan mengubah arah untuk menanggapi tuntutan masyarakat akan transparansi dan akuntabilitas.”

Sementara itu Perdana Menteri (PM) Lebanon Hassan Diab mengatakan, satu-satunya jalan keluar adalah pemilihan parlemen dini.

Aksi unjuk rasa ini adalah yang terbesar di Lebanon sejak Oktober 2019. Saat itu ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes kinerja pemerintah yang korup dan salah urus.

Ledakan pada Selasa pekan lalu itu adalah yang terbesar dalam sejarah Beirut. Pemerintah sudah berjanji akan bertanggung jawab, tetapi hanya sedikit warga Lebanon yang percaya pemerintah akan memenuhi janjinya.

PM Diab dan jajaran kepresidenan mengatakan, 2.750 ton amonium nitrat yang sangat eksplosif dan merupakan bahan pembuat pupuk serta peledak, telah disimpan selama 6 tahun tanpa pengamanan yang memadai.

Ledakan itu menghantam kota yang masih terbayang memori kelam perang saudara, dan terhuyung-huyung akibat krisis ekonomi di pandemi virus corona.

Perang saudara Lebanon terjadi pada 1975-1990 yang memakan sangat banyak korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar Beirut.

Kini Beirut telah dibangun lagi, tapi ledakan yang meluluhlantakkan pelabuhan diragukan bisa dipulihkan dengan pembangunan ulang.

Para pejabat mengatakan kerugian akibat ledakan itu bisa mencapai 15 miliar dollar AS (Rp221,4 triliun). Dana sebesar itu akan sangat berat dipenuhi Lebanon, yang utangnya sudah menggunung bahkan melebihi 150 persen dari hasil perekonomiannya. (reuters/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2