Capres Sayap Kanan Janji Usir Muslim Jika Menang Pemilu Prancis

  • Bagikan
Calon presiden (Capres) sayap kanan Prancis, Eric Zemmour, berjanji akan mengusir kaum Muslim dari negara itu jika menang Pemilu. The Economist

     PARIS, Prancis (Waspada): Calon presiden (Capres) sayap kanan Prancis, Eric Zemmour, berjanji akan mengusir kaum Muslim dari negara itu jika menang Pemilu.

     Hal itu dia ungkapkan lewat sebuah kampanye rasial pada akhir pekan lalu.  Dalam pidatonya, Zemmour mengatakan bahwa dia menamainya partainya “Reconquête” yang berarti “penaklukan kembali”, seperti dikutip Reuters, Senin (6/12/2021).

     Sementara, dari kacamata sejarah, nama itu merujuk pada periode yang dikenal sebagai “Reconquista”, ketika pasukan Nasrani mengusir kaum Muslim dari Semenanjung Iberia.

     “Jika saya memenangkan pemilihan ini, itu tidak akan menjadi rotasi kekuasaan lain tetapi penaklukan kembali negara terbesar di dunia,” kata Zemmour dalam pidatonya yang hampir berlangsung selama satu setengah jam di sebuah pusat pameran di Villepinte, pinggiran Kota Paris, Minggu.

     Zemmour juga berjanji untuk memangkas imigrasi dan pajak yang langsung disambut sorak-sorai para pendukungnya yang mengibarkan bendera Prancis di lokasi kampanye. Menurut hitungan Reuters, jumlah pendukungnya yang hadir di tempat itu sekitar 10.000 orang.

     Para pendukung Zemmour juga memukul dan melemparkan kursi terhadap sejumah pengunjuk rasa yang mengenakan kaos antirasialisme yang menggelar aksi protes saat Zemmour memberikan pidato pertama sejak menyatakan pencalonannya di Pilpres Prancis.

     Lima pengunjuk rasa terluka dalam bentrokan itu. Secara terpisah, ketika Zemmour bergerak melewati kerumunan menuju panggung untuk memberikan pidatonya, seorang pria menerjang dan mencengkeram lehernya sesaat sebelum dijegal oleh pihak keamanan dan kemudian ditahan polisi.

     Meski Zemmour tetap melanjutkan pidatonya, timnya mengklaim sang politikus terluka dalam insiden itu. Seorang dokter pun memerintahkan Zemmour agar beristirahat selama sembilan hari, menurut laporan surat kabar Le Monde.

     Sebelum kampanye dimulai, polisi menangkap puluhan pengunjuk rasa anti-Zemmour dan mengusir massa yang lain yang berdiri di dekat aula raksasa di utara ibu kota Prancis itu. Ratusan pengunjuk rasa juga menggelar aksi serupa di Paris. (reuters/m11)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *