Waspada
Waspada » Buntut Salah Tembak, Rakyat Menuntut Rezim Khamenei Mundur
Internasional

Buntut Salah Tembak, Rakyat Menuntut Rezim Khamenei Mundur

Rezim Khamenei Mundur
Ribuan rakyat Iran, Sabtu, turun ke jalan menuntut rezim Ayatollah Seyed Ali Khamenei mundur terkait insiden salah tembak pesawat Ukraina. Daily Mail

TEHERAN, Iran (Waspada): Ribuan rakyat Iran turun ke jalan menuntut rezim Ayatollah Seyed Ali Khamenei mundur terkait insiden salah tembak pesawat Ukraina.

Para demonstran meneriakkan “Matilah para pembohong” setelah pemerintah Iran mengakui kesalahan militer yang mengakibatkan jatuhnya pesawat Ukraine International Airlines.

Demonstrasi pada Sabtu (11/1/2020) malam itu digelar di berbagai universitas di ibu kota Teheran usai acara belasungkawa bagi para korban tewas.

Kerumunan demonstran terbesar berada di Universitas Sharif Industrial, Universitas Amir Kabir, dan Universitas Allameh.

Seperti dilansir Daily Mail, para pengunjuk rasa di Universitas Amir Kabir bahkan meneriakkan slogan-slogan seperti “Turunlah para diktator” dan “IRGC memalukan”.

IRGC merupakan singkatan dari pasukan Garda Revolusi Iran yang dinilai bertanggung jawab atas blunder militer yang menewaskan ratusan orang itu.

Di Universitas Sharif, para demonstran dengan tegas meneriakkan agar rezim Pemimpin Tertinggi (Khamenei) mundur.

Pengunjuk rasa menuntut agar seluruh pihak yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Boeing 737-800 itu diseret ke pengadilan.

Semakin malam, demonstrasi semakin panas. Polisi antihuru-hara dikerahkan untuk membubarkan massa dengan tembakan meriam air dan gas air mata.

Komandan Dirgantara Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh bertanggung jawab penuh dan meminta maaf atas kesalahannya. Daily Mail

Bertanggung Jawab dan Lebih Memilih Mati

Sementara itu, Komandan Dirgantara Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh menerima tanggung jawab penuh insiden tersebut.

“Saya menerima tanggung jawab penuh dan saya akan mematuhi keputusan apapun yang diambil,” kata Hajizadeh melalui stasiun televisi pemerintah Iran.

“Saya lebih memilih mati daripada menyaksikan kejadian seperti itu,” tambahnya.

Hajizadeh menyatakan bahwa sebuah rudal yang ditembakkan ke pesawat sipil Ukraina itu meledak di sebelah pesawat tersebut sebelum jatuh.

“Itu adalah rudal jarak pendek yang meledak di sebelah pesawat. Itu sebabnya pesawat itu bisa terus terbang untuk sementara waktu,” sesalnya.

Pesawat itu ditembak jatuh karena dikira sebagai ‘target musuh’ karena saat itu, militer Iran dalam ‘kesiapan level tertinggi’ di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS.

Militer Iran meminta maaf atas musibah itu dan menyatakan akan memperbaiki sistemnya untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa di masa mendatang.

Hajizadeh menyatakan bahwa operator rudal terpaksa menembakkan rudal itu secara independen karena adanya gangguan komunikasi.

Personel militer yang menjadi operator rudal itu keliru mengira pesawat milik maskapai Ukraina sebagai ‘rudal jelajah’ dan dia hanya punya waktu sepuluh detik untuk memutuskan apakah akan menembakkan rudal atau tidak.

Atas tragedi itu, militer Iran pun memastikan bahwa para personelnya yang bertanggung jawab atas tragedi itu akan diadili. Para pelaku akan segera dibawa ke pengadilan militer.

Puing pesawat Ukraine International Airlines yang tertembak jatuh. Reuters

Terbang Dua Menit sebelum Jatuh

Pesawat Ukraine Airlines jatuh pada Rabu (8/1.2020) pagi saat hendak bertolak menuju Kiev dari Teheran.

Pesawat berangkat beberapa jam usai Iran melancarkan serangan rudal terhadap dua pangkalan militer Irak yang menjadi markas tentara AS.

Serangan rudal ini dilakukan untuk membalas kematian Mayor Jenderal Qasem Soleimani yang dibunuh AS di Baghdad, Irak pada 3 Januari lalu.

Data penerbangan menunjukkan pesawat dengan nomor penerbangan PS752 itu lepas landas secara wajar.

Masalah serius muncul sekitar dua menit kemudian, saat pesawat berada di ketinggian 8 ribu kaki (2.400 meter) dan berhenti mengirimkan data.

Rekaman video yang muncul di internet menunjukkan pesawat terbakar sebelum jatuh ke darat dan memicu bola api serta ledakan.

Pesawat diketahui membawa 176 orang yang terdiri atas 167 penumpang dan 9 awak pesawat. Semuanya dipastikan tewas.

Data dari otoritas setempat menyebut pesawat itu membawa 82 warga Iran, 63 warga Kanada, 11 warga Ukraina, 10 warga Swedia, empat warga Afghanistan, tiga warga Jerman dan tiga warga Inggris. (Daily Mail/AP/And)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2