Waspada
Waspada » Bukti Adanya Pembantaian, Tentara Myanmar Mengaku Bunuh Etnis Rohingya
Internasional

Bukti Adanya Pembantaian, Tentara Myanmar Mengaku Bunuh Etnis Rohingya

Myo Win Tun (kiri) dan Zaw Naing Tun membuat pengakuan mengejutkan dengan melakukan pembantaian terhadap lebih dari 180 etnis Muslim Rohingya. DW

DEN HAAG, Belanda (Waspada): Saat ini dua tentara Myanmar tengah ditahan di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, dua bulan setelah mereka mengaku ikut dalam “pemusnahan” minoritas Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Dilansir Deutsche Welle, Kamis (17/9/2020), Juli lalu, kedua tentara tersebut melalui sebuah video mengaku terlibat dalam pembantaian sekitar 180 warga sipil selama operasi militer pada 2017, yang akhirnya memaksa sekitar 750.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Salah satu tentara bernama Myo Win Tun (33), mengatakan bahwa dirinya diperintah untuk “menembak semua yang Anda lihat dan dengar”, sembari menambahkan bahwa dia juga melakukan pemerkosaan selama operasi itu berlangsung.

Sementara tentara lainnya, Zaw Naing Tun (30), mengatakan dia bertugas berjaga-jaga ketika perwira seniornya memperkosa wanita Rohingya.

Keduanya juga turut menyebutkan nama dan pangkat 17 tentara lainnya yang menurut mereka terlibat dalam perilaku kejam itu, termasuk enam komandan senior yang memerintahkan mereka untuk “memusnahkan” semua warga Rohingya.

Video pengakuan mereka direkam oleh Arakan Army (AA), kelompok pemberontak Rakhine yang berjuang memerangi militer Myanmar. Dan video itu dirilis oleh LSM bernama Fortify Rights, yang mengklaim telah menganalisis rekaman tersebut dan menyebutnya kredibel.

Kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Muslim Rohingya yang tinggal di barat laut Myanmar itu telah didokumentasikan oleh penyidik PBB dan kelompok HAM.

ICC saat ini sedang menyelidiki apakah pemimpin militer Myanmar, Tatmadaw, terlibat melakukan kejahatan terhadap Rohingya.

Fortify Rights menyerukan agar kedua tentara itu dituntut di ICC. Mereka menyebut pengakuan keduanya sebagai “momen monumental” dalam perjuangan Rohingya atas keadilan.

“Kedua pria ini memiliki informasi yang dapat membantu menjatuhkan komandan senior tentara Myanmar yang bertanggung jawab atas kejahatan keji,” kata Smith. “Bukan hanya itu, kedua orang ini juga harus diadili atas kejahatan mereka,” tambahnya.

Myanmar saat ini tengah menghadapi dua tuntutan hukum yang berbeda, satu di ICC dan satu lagi di Pengadilan Internasional (ICJ), atas kampanye militer 2017 yang membuat banyak Rohingya pergi melintasi perbatasan ke Bangladesh.

Sementara itu, Kanada dan Belanda pada awal bulan ini mengumumkan niat mereka untuk secara resmi bergabung dengan Gambia untuk melawan Myanmar atas kasus genosida di ICJ. (dw/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2