Waspada
Waspada » Banjir Di Jepang Telan Lebih Banyak Korban Jiwa
Internasional

Banjir Di Jepang Telan Lebih Banyak Korban Jiwa

Seorang pria di Perfektur Kumamoto, Jepang, berjalan melewati sebuah jalan yang rusak berat akibat terjangan banjir yang melanda sejak akhir pekan lalu. AP

TOKYO, Jepang (Waspada): Otoritas darurat di Jepang bagian barat tengah ‘berpacu dengan waktu’ untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak banjir dan tanah longsor. Sedikitnya 50 orang dikhawatirkan tewas akibat bencana alam ini.

Seperti dilansir AFP, Selasa (7/7/2020), Badan Meteorologi Jepang (JMA) merilis peringatan level tertinggi untuk hujan deras dan tanah longsor bagi wilayah Pulau Kyushu.

Prakiraan cuaca menunjukkan hujan deras masih akan mengguyur wilayah tersebut hingga Kamis (9/7) mendatang.

Jumlah korban tewas akibat hujan deras yang mulai mengguyur sejak Sabtu (4/7) pagi waktu setempat, diperkirakan akan bertambah.

Seorang pejabat di wilayah Kumamoto, wilayah terdampak paling parah, menuturkan bahwa 49 orang dipastikan tewas, dengan satu orang lainnya dikhawatirkan telah meninggal akibat bencana alam ini.

“Kita berpacu dengan waktu,” ucap Yutaro Hamasaki, seorang pejabat di Kumamoto, kepada AFP. “Kita tidak menetapkan batas waktu untuk mengakhiri operasi, tapi kita sungguh perlu mempercepat pencarian karena waktu semakin habis. Kita tidak akan menyerah hingga akhir,” imbuhnya.

Lebih dari 40 ribu personel, termasuk polisi dan petugas pemadam juga penjaga pantai dan tentara militer, dikerahkan untuk membantu upaya penyelamatan. Sekitar belasan orang masih belum diketahui keberadaan.

Sungai-sungai yang meluap membuat beberapa jembatan hanyut dan jalanan terendam air. Situasi ini semakin mempersulit upaya penyelamatan, dengan para petugas penyelamat hanya bisa menggunakan perahu karet atau helikopter dalam tugas mereka.

Laporan menyebut 14 korban tewas di antaranya merupakan penghuni rumah jompo setempat, yang semuanya menggunakan kursi roda sehingga tidak mampu menyelamatkan diri ke dataran lebih tinggi saat banjir menerjang.

“Lantai dasar dipenuhi genangan air dan kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Beberapa orang berhasil dievakuasi ke lantai pertama. Saya tidak pernah mengalami apapun seperti ini dalam hidup saya,” ucap salah satu petugas penyelamat yang memeriksa rumah jompo itu kepada NHK.

Satu hal lainnya yang mempersulit upaya evakuasi adalah kekhawatiran penyebaran virus Corona (COVID-19). Keharusan mematuhi aturan social distancing secara tidak langsung mengurangi kapasitas kamp-kamp pengungsian. Padahal ribuan diperintahkan untuk mengungsi dari rumah masing-masing.

Di kota Yatsuhiro, otoritas setempat mengubah gedung olahraga menjadi kamp pengungsian, dengan keluarga-keluarga dipisahkan oleh dinding dari kardus untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Laporan media lokal menyebut bahwa beberapa orang memilih tidur di mobil mereka daripada berisiko tertular Corona di kamp pengungsian.

Bencana alam ini terjadi saat Jepang tengah dalam musim penghujan, yang kerap diwarnai oleh banjir dan tanah longsor.

Perubahan iklim juga memainkan peran karena atmosfer yang menghangat menahan lebih banyak air, sehingga meningkatkan risiko dan intensitas banjir akibat hujan deras ekstrem.

Tahun 2018, lebih dari 200 orang tewas akibat banjir yang menerjang kawasan yang sama di Jepang. (afp/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2