Waspada
Waspada » Azerbaijan Rebut Wilayah Penting Dari Armenia
Internasional

Azerbaijan Rebut Wilayah Penting Dari Armenia

Warga Azerbaijan merayakan keberhasilan militer mereka merebut kota Shusha dari Armenia, Minggu. AP

BAKU, Azerbaijan (Waspada): Azerbaijan pada Minggu (8/11/2020) waktu setempat telah merebut salah satu kota penting di wilayah separatis Nagorno-Karabakh. Hal itu disampaikan langsung oleh Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev melalui siaran televise.

Pasukan Azerbaijan telah merebut Shusha, atau dikenal sebagai Shushi dalam bahasa Armenia. Namun, Armenia membantah pengambil-alihan kota itu dan mengatakan pertempuran masih berlangsung.

Merebut kota yang penting secara strategis itu dapat menjadi kemenangan besar bagi Azerbaijan dalam konflik atas wilayah yang disengketakan itu. Nagorno-Karabakh secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, namun berada di bawah pengendalian etnis Armenia dan didukung pemerintah Armenia.

Perang antara kedua negara atas wilayah itu berakhir pada 1994 dengan gencatan senjata namun tanpa kesepakatan perdamaian. Pertempuran dimulai kembali pada bulan September lalu, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan atas pecahnya kekerasan.

Shusha terletak di daerah perbukitan di atas ibu kota wilayah itu, Stepanakert (dikenal sebagai Khankendi di Azerbaijan), dan berada di jalan yang menghubungkan kota dengan wilayah Armenia. Jika direbut, kota itu bisa berfungsi sebagai pos persiapan penyerangan ibu kota.

Presiden Aliyev mengatakan “pembebasan” Shusha akan “dicatat dalam sejarah rakyat Azerbaijan”. “Tidak ada kekuatan di dunia yang dapat menghentikan kami,” katanya, dan berjanji untuk merebut kembali Nagorno-Karabakh untuk negaranya.

Sebelum pengumuman Azerbaijan, juru bicara kementerian pertahanan Armenia, Shushan Stepanyan, menulis bahwa “pertempuran paling ganas” telah terjadi di sekitar Shusha semalam. Dia mengatakan sejumlah tentara Azerbaijan, tank, dan kendaraan lain hancur dalam pertempuran itu.

Shusha memiliki makna bagi kedua sisi. Penduduknya sebagian besar adalah orang Azerbaijan sebelum perang pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, yang memaksa ratusan ribu orang mengungsi.

Bagi orang Armenia, kota itu menampung Katedral Ghazanchetsots (Juruselamat Suci), sebuah situs ikonik untuk Gereja Apostolik Armenia. Armenia menuduh Azerbaijan menargetkan gedung itu bulan lalu.

Kedua belah pihak menyangkal menargetkan warga sipil tetapi saling menuduh pihak seberang melakukannya. Tidak jelas persis berapa banyak orang yang tewas. Otoritas Nagorno-Karabakh mengatakan hampir 1.200 pasukan pertahanannya tewas dalam pertempuran itu, dan warga sipil juga terbunuh atau terluka di sana.

Azerbaijan belum merilis angka korban militernya tetapi mengatakan lebih dari 80 warga sipil tewas dalam pertempuran itu – termasuk 21 orang dalam serangan rudal di kota Barda bulan lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu mengatakan bahwa hampir 5.000 orang tewas dalam pertempuran itu. (bbc/m11)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2