Waspada
Waspada » 600 Orang Tewas, Jenderal Myanmar Salahkan Demonstran
Internasional

600 Orang Tewas, Jenderal Myanmar Salahkan Demonstran

Juru bicara militer Myanmar Mayjen Zaw Min Tun menyebut, 600 orang yang tewas dibunuh di jalan-jalan Myanmar adalah kesalahan dari pengunjuk rasa dalam "kerusuhan". The Star

NAYPIYTAW, Myanmar (Waspada): Mayjen Zaw Min Tun menyebut apa yang dilakukan junta militer di Myanmar bukanlah kudeta, melainkan mereka hanya “menjaga” negara ketika sembari menyelidiki pemilihan umum yang “curang”

Hal itu disampaikannya di aula ibu kota, Naypiywtaw, kota tempat para jenderal Myanmar menggulingkan pemerintah terpilih, seperti yang dilansir dari CNN, Jumat (9/3/2021).

Dalam wawancara 1 jam dengan CNN, juru bicara junta militer itu mengatakan, 600 orang yang tewas dibunuh di jalan-jalan Myanmar disebutnya adalah kesalahan dari pengunjuk rasa dalam “kerusuhan”.

Dalam suatu pernyataan, Zaw Min Tun mengatakan, jika ayah pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, Aung San, yang mendirikan militer modern negara, dapat melihat situasinya sekarang, dia akan berkata, “Kamu benar-benar bodoh, anak perempuanku.”

Wawancara CNN ini berlangsung selama sepekan di kota terbesar Myanmar, Yangon dan Naypiydaw dari 31 Maret hingga 6 april, dengan pengawasan ketat militer.

Beberapa jam setelah panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing memerintahkan pasukannya untuk merebut ibu kota sebelum fajar terbit 1 Februari, ia mengumumkan keadaan darurat selama setahun.

Keadaan darurat setelah kudeta itu menyebabkan semua kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif dilimpahkan ke Min Aung Hlaing. Zaw Min Tun mengatakan keadaan darurat bisa diperpanjang “enam bulan atau lebih” selama “dua periode” dan “jika tugas belum selesai.”

Dia tidak memberikan tanggal pasti kapan pemilihan akan diadakan, tetapi mengatakan bahwa menurut konstitusi yang dirancang militer 2008, “kita harus menyelesaikan semuanya dalam 2 tahun. Kita harus mengadakan pemilihan yang bebas dan adil dalam 2 tahun ini. Kami berjanji akan mewujudkannya,” katanya.

Banyak pengamat mempertanyakan apakah militer, yang memerintah Myanmar selama setengah abad antara 1962 dan 2011, akan bersedia melepaskan kekuasaan lagi.

Apakah pemilu benar-benar akan “bebas dan adil”, dan apakah Suu Kyi, pemimpin yang digulingkan, dan partainya yang populer Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) diizinkan ikut lagi dalam pemilu.

Zaw Min Tun menyatakan dengan merujuk pada serangkaian reformasi yang dimulai oleh pemerintah sipil semu pada 2011, setelah militer menyerahkan pemerintahan langsung, yang membuka jalan bagi pemilu 2015

Saat itu, Suu Kyi memenangkan kemenangan penuh. “Kalau kita tidak menginginkannya sejak awal tidak akan ada proses seperti ini,” ujarnya. Namun, konstitusi 2008 dirancang agar militer tetap berkuasa, meskipun ada pemerintahan sipil.

Konstitusi tersebut mengamanatkan militer mengisi seperempat kursi di parlemen, memberikan mereka hak veto yang efektif atas amandemen konstitusi. Para jenderal Myanmar juga tetap mengontrol 3 kementerian utama, yaitu pertahanan, perbatasan dan urusan dalam negeri.

Selanjutnya, Zaw Min Tun menerangkan bahwa Suu Kyi saat ini berada dalam tahanan rumah, karena 5 dakwaan. Ia dituduh mengimpor radio walkie-talkie secara ilegal, melanggar peraturan Covid-19, melakukan korupsi dan penyuapan, serta yang paling serius adalah melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi negara, yang membawa ancaman 14 tahun penjara.

“Yang terjadi karena korupsi di tingkat nasional dan kesalahan prosedur di tingkat negara bagian dan kami menuduh dengan fakta,” kata Zaw Min Tun. “Daw Aung San Su Kyi adalah orang terkenal di Myanmar dan dunia, kami tidak akan menuduh orang itu tanpa alasan apapun,” tambahnya. (cnn/m11)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2