Induk Kitab, Lauhul Mahfudz

Kitab itu disebut Lauhul Mahfuzh Qalam. Dalam kitab ini telah tercatat tentang apa yang akan terjadi, bagaimana kehidupan manusia. Tidak ada yang tahu mengenai apa yang terjadi pada langit dan bumi melainkan telah ditulis dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfudz).

Induk Kitab, Lauhul Mahfudz

Lauhul Mahfudz adalah catatan di mana Allah menulis takdir seluruh makhluk sebelum mereka diciptakan oleh Allah SWT. Imam al-Qurtubi ra mengatakan: “(Yang dimaksud) kitab adalah lauh mahfudz.”

“Dahulu hanya ada Allah dan tidak ada sesuatu apa pun sebelum-Nya, dan ‘arsy-Nya di atas air, kemudian Dia menciptakan langit dan bumi, dan Dia menulis segala sesuatu dalam adz-dzikr.” Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentang hadits ini: “Makna adz-Dzikr di sini adalah lauh mahfudz.”Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diakses oleh para malaikat utama atau hamba Tuhan lainnya yang dianggap layak.

Lauh al-Mahfudz belum banyak dibahas orang. Kitab-kitab tafsir pun tidak menguraikan panjang lebar apa itu Lauh al-Mahfudz. Dalam literatur yang ada Lauh al-Mahfudz biasa diartikan dengan kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru terhadap segala peristiwa yang terjadi dari zaman azali sampai kiamat.

Dikatakan dalam hadis, bahwa tidak jatuh sehelai daun melainkan sudah tercatat di dalam kitab itu. Lauh al-Mahfudz (QS: al-Buruj: 22) sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS: ar-Ra'd: 39). Kitab Maknun (QS: al-Waaqi'ah:77), dan Kitab al-Mubin (QS: al-An'am:59).

Lauh al-Mahfudz dianggap wilayah rahasia yang hanya bisa diketahui oleh para malaikat utama dan manusia pilihan. Lauh al-Mahfudz dianggap gudang rahasia, karena itu kalangan jin dari golongan setan berusaha mencuri informasi itu untuk berbagai kepentingan memainkan akidah manusia.

Para malaikat penjaga Lauh al-Mahfudz sangat disiplin berjaga di sekitarnya. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang di langit dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syetan yang terkutuk, kecuali syetan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar dari malaikat lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS: al-Hijr:16-18).Ibnu Arabi menghubungkan antara Lauh Mahfuz dan perkawinan makrokosmos.

Seperti yang sering dikatakannya, semua makhluk diciptakan Tuhan idealnya berpasang-pasangan, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”. (QS: adz-Dzariyat:49).

Terakhir, segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari Qiyamat telah tertulis di Lauh Mahfudz, karena sejak permulaan menciptakan Qalam Allah telah berfirman kepadanya: “Tulislah”, Dia (Qalam) bertanya: “Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah segala sesuatu yang terjadi”. Kemudian dia (Qalam) menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat.

“Sesungguhnya janin yang ada dalam kandungan ibunya ketika telah melewati umur empat bulan, maka Allah mengutus Malaikat kepadanya yang meniupkan ruh dan menulis rizki, ajal, amal dan apakah dia celaka atau bahagia”.

Rezki juga telah tertulis dan ditakdirkan beserta sebab-sebabnya, tidak bertambah dan tidak berkurang. Sebagian dari sebab-sebab rezki adalah pekerjaan manusia untuk mencari rezqi,“Dia (Allah) adalah Tuhan yang telah menjadikan bumi tunduk kepadamu, maka berjalanlah dia atas pundaknya dan makanlah sebagian rezki-Nya dan kepada-nyalah tempat kembali” (QS: al-Mulk: 15).

Sebagian dari sebab-sebab rezki adalah menyambung persaudaraan, termasuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan menyambung hubungan keluarga.“Barangsiapa bertaqwa, maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dengan tanpa disangka-sangka.” (QS: ath-Thalaq: 2-3).  *** Dirja Hasibuan ***