Umar Zein Bersama Pekerja Seni Hingga Guru 'Bedah' Gelar Diskusi "Langkah Awal Menulis Pantun"

Umar Zein Bersama Pekerja Seni Hingga Guru ‘Bedah’ Gelar Diskusi “Langkah Awal Menulis Pantun”

  • Bagikan
Klinik Pantun Dr. Umar Zein, Medan bersama komunitas Rumah Sastra Subuh, Riau dan Zoom Alumni FKUSU 76-77, kembali menggelar diskusi dengan topik 'Langkah Awal Menulis Pantun'. Waspada/ist
Klinik Pantun Dr. Umar Zein, Medan bersama komunitas Rumah Sastra Subuh, Riau dan Zoom Alumni FKUSU 76-77, kembali menggelar diskusi dengan topik 'Langkah Awal Menulis Pantun'. Waspada/ist

MEDAN (Waspada) – Setelah menggelar virtual meeting memasyarakatkan pantun dan memantunkan masyarakat, kali ini Klinik Pantun Dr Umar Zein, Medan bersama komunitas Rumah Sastra Subuh, Riau dan Zoom Alumni FKUSU 76-77, kembali menggelar diskusi dengan topik ‘Langkah Awal Menulis Pantun’.

Melalui keterangan Dr Umar Zein pada Sabtu (13/2) bahwa  Di awal acara itu, Dokter Agusnadi Talah, Sp A sebagai moderator, membacakan pantun sebagai tanda dibukanya acara diskusi.
Manis rasanya rambutan Binjai
Buah dibelah anak dara
Majelis segera kita mulai
Awal Bismillah kata dibuka
Di sesi awal itu, Shafwan Hadi Umry, seorang sastrawan dan penyair Sumatera Utara mengupas tentang pemantun dan pepantun.
Pemantun adalah orang yang mengucapkan pantun, ditujukan pada seseorang agar pantunnya dijawab juga dengan pantun (“Penjual” pantun).
Adapun orang yang akan menjawab pantun dengan pantun (“Pembeli” pantun), disebut Pepantun.
Demikian uraian Shafwan Hadi Umry, pada sambutannya di awal acara.
Di sisi lain, Shafwan dengan lugas juga membahas tentang diksi pantun yang kelak akan dibuat menjadi Kamus Pantun.
Tak hanya itu, dia juga menyinggung tentang diksi pantun lama yang tidak dipahami oleh generasi milenial. Seperti, ‘sumur’, ‘ladang’, dan sebagainya.
“Saya berharap, penulis pantun saat ini dapat menggunakan diksi aktual sesuai perkembangan zaman dan teknologi. Begitu jeniusnya pencipta pantun zaman dahulu, sehingga sampirannya lebih dulu dibuat dan mencerminkan isi pantun,” lanjut Shafwan.
Namun dengan santun, narasumber Tarmizi Rumahitam, Batam mengatakan, kejeniusan pencipta pantun lama sulit diikuti saat ini.
Sehingga dia masih harus mencari isi pantun, kemudian memikirkan diksi dan kalimat sampiran.
Begitupun, Alamsyah, telangkai senior di Sumut juga turut memberi masukan. Dia menyampaikan, pantun dan pengucapannya harus ada dinamika, estetika, logika, dan etika.
Dengan demikian, pantun menjadi hiburan, disenangi para pengundang dan undangan acara pernikahan dan resepsi.
Selanjutnya, Dokter Agusnadi membuat contoh pantun dengan sampiran kekinian.
Melalui HP mengirim whatsapp
Ketikan huruf, pagar dan bintang
Selalu sering kita menguap
Tandanya ngantuk sudah datang 

Masukan

Peserta diskusi kali juga sudah semakin bertambah. Dari berbagai daerah, turut hadir mengikuti diskusi seperti Dumai, Batu Sangkar, Padang, Jakarta, Selat Panjang, Tanjung Pinang, dan Kuala Lumpur (Prof. Piko). Peserta mayoritas adalah akademisi dan guru.
Semua peserta juga aktif memberi masukan dan bertanya, sehingga tidak terasa dua jam diskusi berlalu hingga pukul 22.30.
Sebelum mengakhiri diskusi, peserta yang hadir juga sepakat bahwa sebagai narasumber pertemuan berikutnya adalah Alamsyah. (cbud)
  • Bagikan