Waspada
Waspada » Tradisi Dan Kekinian Racikan Khas MUKAMURKA
Hiburan

Tradisi Dan Kekinian Racikan Khas MUKAMURKA

MUKAMURKA
MUKAMURKA

SEKELOMPOK mantan mahasiswa Etnomusikologi USU tergabung dalam Grup musik MUKAMURKA (MKMRK) menyuguhkan tontonan menarik saat tampil di acara PAPPRICA Live digelar belum lama berselang di INBOX Griya Medan.

Dalam konser itu, mereka menggarap musik tradisional terdengar menjadi keren dengan mengeksplorasi alat musik tradisi seperti Djembe (gendang tradisi asal Afrika), Bandurria (alat petik 14 senar, mirip mandolin, asal Spanyol dan Filipina), Irish Whistle (alat tiup tradisi seperti suling, asal Irlandia) serta Gambus (Riau) dipadu dengan instrumen musik modern.

Band dengan konsep mengharmonikan instrumen tradisional dengan modern ini bagi yang tak biasa memainkannya pasti terasa sulit, apalagi sebagian besar alat musik tradisi memiliki nada minor.

Namun tidak demikian bagi Beng Handoko, Horas Panjaitan, Muhammad Amin, Syaif Putra dan Sainul Irwan, karena mereka ini telah lama bergelut di kawah candradimuka musik tradisi melalui serangkaian perjalanan serta pengalaman musik hingga penguasaan akademis.

Di konser itu, MUKAMURKA terlihat memadukan beragam jenis instrumen modern dengan tradisi menjadikan warna nada yang dihasilkan lebih kaya ornamentasi karena dibalut semua idiom musik tradisi dari seluruh dunia menjadi inspirasi MKMRK sebut saja pada lagu Sang Guru, Ghazal Asyik, Awan Menanti Fajar dan Jalan Pintas Potong Kompas yang kerap bersinggungan dengan modal tradisi yang kuat.

Perpaduan musik tradisional dan modern menjadi tontonan sangat menarik dan mengasyikkan serta menjadi akulturasi budaya yang ditampilkan MUKAMURKA ke hadapan para penikmat seni yang menyaksikan penampilan mereka sore itu.

Selain itu, beragam panggung pertunjukan “world music” telah mereka singgahi, juga musik kekinian yang tak luput dari perhatian anak MUKAMURKA dalam upaya mereka melestarikan dan meramu kekayaan idiom musik tradisi Indonesia dan Dunia ke dalam komposisi musik modern kontemporer ala MUKAMURKA.

Kehadiran mereka boleh dibilang membawa angin segar buat perkembangan musik kota Medan khususnya Sumatera Utara yang diharapkan bisa menjadi referensi bagi musisi generasi berikutnya agar tidak melupakan kekayaan musik tradisional.

Lewat konser semacam ini sepertinya MUKAMURKA berharap semakin banyak seniman muda terinspirasi untuk menyisipkan unsur budaya dalam setiap karya seni yang mereka ciptakan.

Di Panggung PAPPRICA Live, komposisi lagu dibawakan MUKAMURKA terasa tidak ketinggalan jaman karena memang enak didengar dan dinikmati juga memiliki muatan edukasi dan apresiasi yang bermanfaat untuk membuka fikiran dan referensi bagi musisi lain agar tidak melupakan kekayaan musik tradisional juga tentunya menjadi pilihan menu baru dalam dunia musik masa kini yang justru mulai terdengar ‘seragam’ dan terkesan kekurangan kekuatan karakter musikal yang seharusnya.

MUKAMURKA sendiri tidaklah seperti yang dibayangkan secara harfiah; wajah penuh kemarahan dan memendam pitam.

MUKAMURKA adalah akronim MusikKamiMusikmeRdeKa dan wajah pengharapan atas penghadiran bunyi tradisi pada tatanan musik kebaruan “kontemporer” mulai berproses sejak 2018 yang lalu.

Mereka terbentuk, berangkat dari rasa kegelisahan juga ungkapan terima kasih terhadap proses pengalaman yang telah membentuk jatidiri MUKAMURKA tercermin dari karya mereka.

Celah pertemuan dua arus; tradisi dan kekinian adalah racikan khas MUKAMURKA dalam bermusik seperti dituturkan Beng Handoko dan diaminkan personal lainnya.

“Kalau musik populer banyak pengikutnya dan banyak pula jebakan di dalamnya, di kita (Sumatera Utara) punya banyak khasanah musik tradisi yang belum dijamah, selain itu musik populer (dalam industri mainstream) dirasa tidak memiliki masa depan dan tempat bagi orang di usia tak muda” begitu penjelasan MUKAMURKA mengenai idiom tradisi dan kontemporer yang kerap mereka usung.

Lewat konser ini juga MUKAMURKA sepertinya ingin memperlihatkan bahwa instrumen tradisi bisa digubah untuk kalangan anak muda serta mencoba mengubah pola pikir di kalangan anak muda bahwa instrumen tradisional bisa disandingkan dengan musik modern.

Musik tradisi, seperti penuturan Beng Handoko, sejatinya adalah roh kultural yang menghidupkan perjalanan bunyi hingga masa kini namun tergerus keberadaan musik populer, dengan kekayaan pengetahuan bebunyian dan idiom tradisi tentu akan menjadi hal estetis yang orisinal, terkesan tak dapat direplikasi secara utuh, begitupun MUKAMURKA selalu memandang eksotis keberadaan bunyi dan musik tradisi sebagai identitas penghadiran karya ditengah maraknya musik kekinian yang bertebaran di kanal sosial media.

Belajar dari pengalaman; carut-marut industri musik, konflik kepentingan hingga pemajuan kebudayaan, MUKAMURKA layak dijadikan referensi dalam bermusik yang “fresh”, “out of box,” istilahnya menjadi perspektif tradisi Nusantara dari sudut pandang yang berbeda dan juga musik MUKAMURKA adalah rangkaian bunyi yang layak didengar kedua telinga tanpa harus terjatuh dalam kompleksitas “njelimet” yang penuh spekulasi layaknya perlakuan terhadap world music, dan tradisi.

Kehadiran dan apresiasi terhadap musik tradisi yang diterima personal MUKAMURKA dalam perjalanan rangkaian bunyi “world music” menjadi basis kekuatan untuk dapat menarik hal lainnya agar turut ikut dalam pusaran tradisi kultural yang saling bertautan dan menyenangkan.

“Roots Music Lives Forever, idiom ini juga tidak terbantahkan, bahwa musik tradisional di seluruh dunia akan tetap hidup dan bertahan di segala jaman dan era yang mungkin terdengar tidak biasa, namun tetap asyik untuk dinikmati”, kata Beng Handoko. t junaidi

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2