Waspada
Waspada » Seni Dan Budaya Wajah Kita Di Mata Dunia
Features Headlines Hiburan Medan

Seni Dan Budaya Wajah Kita Di Mata Dunia

DEDE Hakim
DEDE Hakim

NAMA Dede Hakim bukanlah orang asing buat kalangan musisi kota Medan, Ia sekarang ini mulai mencoba hal baru di bidang pembuatan klip (sutradara) yang mulai direspon penyanyi Medan. Sebelum mengalihkan profesesinya sebagai sutradara klip, ia pernah menjadi anak Band menjadi musisi plagiat yang ngamen di beberapa event lokal dan cafe/hotel di seputaran kota Medan sekitar tahun 1993.

Tapi itu tak berlangsung lama, karena dirinya merasa jenuh, ia kemudian nekad hijrah ke Jakarta tahun 1999 untuk mempelajari ilmu desain grafis. Sempat bekerja sebagai graphic designer di beberapa kantor di Jakarta kurang lebih tiga tahun.

Namun kembali tak betah bekerja di kantor, iapun berhenti dan kembali lagi ingin bermain musik sambil belajar digital recording dengan komputer yang saat itu masih tergolong sebuah teknologi yang masih baru.

Berbekal pengetahuan itu, Dede kemudian menggaet IZI, sebuah band Medan yang telah menetap di Jakarta untuk melakukan rekaman. “Aku bertugas sebagai gitaris, arranger dan sound engineer (producer), akhirnya band IZI dengan Album ‘In Zillion Illussion’ dirilis Alpha Record pada tahun 2003,ungkapnya saat berbicang dengan Waspada lewat WhatApp belum lama berselang.

Dan tahun 2007 ia kembali hijrah ke Medan bekerjasama dengan adiknya menjadi pengusaha warnet dan home recording studio di daerah Johor, Medan sampai akhirnya menikah pada tahun 2009.

Kemudian bersama teman-teman membentuk band bernama Syafir. “Aku membantu proses aransemen, rekaman dan mixing”, katanya.

Hasil rekaman ini diminati major label, Aquarius Musikindo yang lantas membawa mereka kembali hijrah ke Jakarta. Dede sendiri ditunjuk menjadi co-producer mendampingi Pay Slank (producer) untuk mengerjakan album Syafir. Singel pertama Syafir dengan judul “Bukan Aku Tapi Kamu telah dirilis Aquarius Musikindo, Juni 2010.

Setelah kembali menetap di jakarta, Dede Hakim membuat recording studio di daerah Kalibata, Jaksel. “Aku menerima jasa recording, aransemen, mixing/mastering untuk segala genre musik mulai dari akustik sampai elektronik,” ungkapnya.

Selain mengerjakan musisi indie di Jakarta hingga Bandung, ada juga berperan membantu musisi mayor label Musica Studio untuk keperluan live seperti band Geisha dan Noah.

Salah satu hasil karyanya membuat remix sebuah lagu dangdut tradisional artis mayor label Nagaswara menjadi musik ber-genre EDM. Lagu yang berjudul “Pemberi Harapan Palsu” Devy Berlian dirilis Nagaswara pada Okt, 2015. Remix ini mendapatkan penghargaan dari NET TV dengan kategori Artis Pendatang Baru Terbaik 2015 mengalahkan Via Valen di posisi kedua dan sempat dua kali menjadi nominasi di SCTV Award

Dan di mata teman-temannya sendiri, Dede Hakim dikenal memiliki sosok yang sangat detail dalam menggarap suatu pekerjaan. “Orangnya itu perfectionist dalam hal produksi dan sangat teliti serta benar-benar mikirin hasil yang maksimal, gak bisa kerja buru-buru”, kata Hanna Pagiet yang pernah meminta jasanya membuat klip untuk single lagu-lagu.

Lain halnya dengan Jack Zie yang sudah beberapa kali bekerjasama dengannya dalam penggarapan klip lagu-lagunya menilai, Dedek Hakim itu seniman sejati. Ia memulai karirnya sebagai gitaris, pencipta lagu dan sekarang melompat menjadi sutradara, produser klip musik dan periklanan.

Jack mengaku mengenalnya lewat Ijal Arifin, owner studio musik Citra Buana Studio..dari situ kami bertiga (Jack,Dede dan Ijal ) menggarap vidio klip musik, dan sampai saat ini kami sudah menyelesaikan lima klip Jack Zie baik itu lagu ciptaan sendiri, maupun cover,ujarnya.

Jack Zie menyatakan, Selama bekerjasama dengan Dede Hakim, dia melihat kesungguhan yang luar biasa dari sosok Dede, mulai dari ide, jalan cerita sampai kepada detail dari tiap adegan dalam pembuatan klip, semua disusun secara tersistematis, sehingga masing-masing pemeran tau porsinya masing-masing.

Jack juga sangat mengagumi hasil klip yang dieditnya termasuk mixing, mastering sampai hasil klipnya sangat bagus, baik dari segi pencahayaan/lighting,lokasi sampai pemerannya benar-benar detail dia memperhitungkannya.

Menurut Jack Zie, insan seni Medan, sangat beruntung mempunyai seniman sejati seperti Dede,bisa buat lagu, mixing, mastering termasuk ahli dalam membuat vidio klip yang kualitasnya sudah menasional. “Aku sangat meromendasi Dede hakim, bila ada teman-teman musisi, profesi lain yang berminat untuk membuat video klip apakah musik,iklan ataupun lainnya”,ujarnya seraya menambahkan bahwa dirinya tahun ini akan merilis dua lagu lagi dan Insha Allah masih sama Dede hakim untuk menggarap klip nya dan berharap karya anak Medan nantinya bisa diapresiasi sampai di tingkat nasional

Dari kacamata Willy Erfan gitaris band Mahameru ini melihat Dede Hakim adalah seorang gitaris yang sangat berbakat, pernah menjadi teman satu grup di Mr.Tith dan Bad Radio, permainan gitar nya sangat dipengaruhi blues yang kental, dia juga seorang arranger yang bagus, sangat detil dalam memixing lagu.

Menurut aku, Dede Hakim standard nya sudah Nasional, karena ada beberapa penyanyi dari beberapa label besar lahir dari tangannya. Disamping itu Dede Hakim juga membidani beberapa video klip dari musisi-musisi Medan, namun bidang ini baru ditekuninya dua tahun terakhir, begitupun hasil dari video besutannya tak kalah dengan buatan PH-PH besar di Jakarta.

Dimata Willy Erfan , Dede Hakim ini dikenal memiliki sosok yang cool, terkesan cuek dan sombong, namun kalau sudah kenal dekat, maka pandangan kita terhadapnya akan berubah, orangnya asik dan enak diajak bicara, apalagi prihal musik, cuma agak cerewet kalau sedang bekerjasama dalam membuat sebuah proyek, karena dia orangnya sangat detil.

Berikut wawancara singkat Waspada dengan Dede Hakim:

Awalnya anda dikenal sebagai musisi ya?

Ya. Sampai sekarang juga masih aktif mengerjakan musik untuk orang lain.

Sejak kapan mulai tertarik jadi sutradara klip?

Tahun 2018 aku kembali hijrah ke Medan setelah diminta adikku seorang pengusaha event organizer untuk berkerjasama mengerjakan shooting dan editing video event/dokumenter. Saat itu secara otodidak aku langsung mempelajari penyutradaraan, video shooting dan editing. Aku merasa tertarik dengan dunia video yg ternyata pola teknisnya memiliki kemiripan dengan proses audio karena sama dalam media digital.

Bisa dijelaskan bagaimana Anda masuk ke ranah itu?

Dimulai dari bertemu lagi dengan seorang teman lama saat SMA bernama Jack Zie yang sekarang telah menjadi seorang pengusaha. Jack juga seorang penyanyi yang dulu hobi nge-band. Dia ingin dibuatkan videoklip untuk membangun chanel youtubenya. Berbekal pengalaman waktu bekerja di EO, aku menyanggupi.

Apa tantangan yang terbesarnya?

Kepuasan pribadi saya dalam menyampaikan pesan/cerita bagi yang melihat video itu. Kepuasan dan kepercayaan client, serta apresiasi orang lain juga pastinya.

Anda tergolong cukup produktif sebagai pembuat klip di Medan, bagaimana anda melihat reaksi publik?

Sejauh ini respon masih positif dan memberi semangat. Saya masih berharap apresiasi yang lebih banyak.

Siapa tokoh yang menginspirasi Anda selama ini?

Banyak sekali produser musik dan sutradara film barat yang saya kagumi karyanya. Untuk profesi khusus cinematography saya suka Bruce Dickinson.

Bagaimana respons Anda saat menanggapi kritikan?

Sangat welcome dengan kritik yang membangun. Karena pujian jarang yang membuat kita berfikir kearah yg lebih baik.

Sebagai sutradara, bagaimana Anda melihat perkembangan perfilman di Medan, baik kualitas, skenario, pemain, hingga sinematografi?

Jangan tanya aku tentang film Medan bang. Jujur aku belum memperhatikan. Geliatnya aku gak tau. Kita bahas videoclip aja ya. Videoclip artis di Medan rata-rata masih bergaya konvensional seperti jaman dulu dan malah kadang terkesan tidak mengerti secara estetika/keindahannya. Masih sedikit terlihat videoklip dengan garapan yang serius, apalagi sampai memikirkan skenario dan sinematografi. Nah karena itulah aku terpancing untuk menjadi sutradara videoclip. Aku malah melihat lebih banyak yang produksi video prewedding lebih mengarah kesana. Beberapa diantaranya sudah layak secara sinematografi.

Apa kendala penggarapan video klip di Medan?

Masih sedikit yang memahami pentingnya peran dan nilai visual dalam menyajikan hasil karya mereka, dalam hal ini musisi Medan. Hal ini mungkin juga disebabkan keterbatasan dana, karena rata-rata mereka bergerak secara pribadi.

Apakah Medan kekurangan sutradara atau pemain film?

Sutradara mungkin sudah banyak, tapi rata-rata hanya mengerjakan proyek-proyek dari instansi atau swasta saja, seperti company profile, video edukasi, atau event yang sifatnya dokumenter. Jarang yang idealis dan bekerjasama dengan musisi. Kalau untuk talent/pemain kita banyak.

Hubungan berkarya dengan pendanaan?

Segala sesuatu yang akan dikonsep dalam produksi tentulah harus mengacu pada ketersediaan dana yang ada.

Untuk penggarapan sebuah karya, berapa lama dibutuhkan risetnya?

Dua minggu hingga paling lama sebulan.

Dari sejumlah karya Anda, klip yang paling berkesan?

Vklip Jack-Cinta Palsu. Shootingnya melelahkan dan hasilnya kita puas.

Bagaimana cara anda membuat perencanaan dalam sebuah produksi?

Sama saja seperti mamagement pembuatan film pada umumnya. Untuk videoklip yang bercerita terlebih dulu saya harus membuat premis yang oke yang berhubungan dengan cerita/tema lagu. Setelah client menyetujui, dikembangkan menjadi storyboard/screenplay hingga shotlist, casting, survey lokasi dll. Pastinya aku mau semua yang ikut shooting harus jelas memiliki gambaran apa yang akan kita bikin.

Apakah ada riset khusus sebelum melakukan produksi?

Kalau untuk produksi story videoklip hanya riset standar aja. Seperti apa yg sedang jadi trend atau apa yang sedang dibicarakan anak muda saat ini.

Apa obsesi anda untuk industri kreatif di Medan khusus bidang film/klip?

Tentu saja berharap industri kreatif semakin hidup, dengan semakin banyaknya pelaku yang idealis hingga persaingan semakin dinamis, semakin dilihat orang, sehingga banyak investor yang ikut membangun industri kreatif di Medan. Seharusnya pemerintah juga mendukung penuh industri kreatif seperti di negara-negara maju tanpa birokrasi yang menyulitkan. Karena seni dan budaya adalah wajah kita di mata dunia.

t.junaidi

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2