Waspada
Waspada » Sedalanen Etnik, Transformasi Musik Tradisional Karo-Jawa
Hiburan

Sedalanen Etnik, Transformasi Musik Tradisional Karo-Jawa

PARA seniman yang tergabung dalam Sedalanen Etnik. Waspada/ist
PARA seniman yang tergabung dalam Sedalanen Etnik. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): SEDALANEN ETNIK terbentuk di Tahun 2017 tepat pada saat digelar pertunjukan budaya hiburan Rakyat di Simpang Tuntungan, Jalan Jamin Ginting Medan, dengan Tema Karoja.

Berangkat dari spirit Itu Sedalanen Etnik mulai berkomitmen untuk bergerak di dunia kesenian tradisional kolaborasi dengan musik modern.

Sepanjang kiprahnya menggeluti musik-musik tradisi, Sedalanen Etnik sudah meluncurkan Mini album berisikan empat lagu pop alternatif dan dua karya musik instrumental.

Saat ini sedang dalam proses pematangan Karya selanjutnya untuk album kedua.

Sedalanen Etnik memilih Pop Alternatif sebagai genre musiknya, tidak berkomitmen digawangi pemain tetap. Artinya, grup ini lebih memposisikan kegiatannya menyesuaikan waktu para seniman yang bergabung di komunitas ini.

Dengan kata lain, Sedalanen Etnik selain group musik sekaligus perkumpulan seni.

Semua komunitas kreatif bergerak di bidang seni dan kesenian tradisional Sumatera Utara boleh bergabung di sini.

Kelompok ini awalnya terbentuk berangkat dari diskusi tentang kegelisahan dan kerinduan tentang hiburan seni anak-anak muda Karo dan Jawa yang ada di Kelurahan Ladang Bambu 1, tepatnya di Jalan Bunga Kardiol No 86B, Kecamatan Medan Tuntungan.

Secara perlahan, Sedalanen Etnik menjadi komunitas setelah dipertemukan dengan orang-orang punya pemikiran yang sama dengan konsep memberikan kontribusi, dedikasi dan edukasi musik etnik melalui karya seni dan pertunjukan hiburan rakyat, dengan suguhan yang berbeda dalam memperkenalkan musik etnik.

Kesuksesan pagelaran di Simpang Tuntungan Jalan Jamin Ginting, dengan tema ‘Transformasi Musik Tradisional’ mengemas kolaborasi antardua etnis Karo dan Jawa, dengan konsep sederhana, yang semakin mengkokohkan semangat mereka dalam berkesenian.

Apalagi konser tersebut di luar dugaan yang mendapat apresiasi luar bisa, karena menjadi komunitas etnik pertama menggelar pertunjukan seni budaya di Simpang Tuntungan, yang dalam sejarahnya belum pernah dilakukan.

“Konser mengundang banyak perhatian masyarakat itu membuat kami terus berkomitmen serta konsisten mengembangkan potensi yang ada dengan mandiri dan melihat peluang yang ada untuk terus memperkenalkan musik tradisional dengan gaya kekinian,” kata Jacky Raju, salah seorang tokoh (dalang) di balik terbentuknya komunitas seni Sedalanen Etnik ini.

Kenapa etnik, karena dia merasa sekarang ini masih banyak orang belum peduli dan tidak mau tahu apa itu musik tradisional, dan merasa musik etnik itu kuno dan tak penting untuk digali.

Padahal musik etnik sangatlah berperan penting dalam aspek kehidupan, hanya saja sering dibaikan dan kurang menyadarinya.

Jacky menyebut makna dari nama ‘Sedalanen’ dalam bahasa Karo-nya Sejalan ‘Etnik’ yang artinya Kelompok, Etnis, Suku Ringkas, Artinya Sedalanen Etnik = Kelompok Etnis Yang Sejalan dengan sesamanya.”Kira-kira seperti itu,” katanya.

Akomodir Komunitas Kreatif

Jacky Raju berharap para tokoh publik dan pemerintah daerah maupun pemerhati budaya lainnya bisa melihat aset bangsa ini dengan kacamata yang relevan tanpa pandang bulu.

Serta mengakomodir komunitas kreatif yang berkontribusi serta mandiri untuk mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal, khususnya yang ada di Medan.

“Semoga ke depannya penggiat budaya di Sumatera Utara tetap solid serta mau membangun silaturahmi antarsuku/kelompok/komunitas serta menanamkan jiwa nasionalis kesatuan bangsa, No Etnosentris. Mari kita membangun ekosistem yang saling menghidupkan satu dengan yang lain saling merangkul walau berbeda-beda, bendera kita tetap satu Merah Putih,” katanya penuh semangat.

Jacky Raju Sembiring S.Sn musisi berdarah Karo menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, (ISI Yogyakarta) pada tahun 2016 jurusan seni pertunjukan.

Dalam penciptaan karyanya, ia mentransformasikan alat musik tradisional Karom yaitu Kulcapi 2 senar menjadi 4 senar serta keterampilan musiknya menggabungkan idiom tradisional dengan musik modren.

Pada awal tahun 2017 hingga tahun 2021 Jacky mendedikasikan dirinya untuk ambil bagian dalam mengembangkan kesenian tradisional kampung halamannya, yaitu kota Medan dan Kabupaten Karo, menjadi eksekutor beberapa pertunjukan seni hiburan rakyat.

Yakni; Karoja, Malam Satu Bendera, Sinabung Layak Tersenyum, dan Berapi (BeramalBersamaKulcapi).

Bersama teman-temannya di komunitas Sedalanen Entik, dia melahirkan karya berjudul “Kulcapi Surak” yang bisa dilihat melalui akun Instagram, Youtube miliknya  @JackysembiringofficialPecanduKulcapiOfficial.

Jacky tertarik masuk dalam dunia kesenian tradisional saat menimba ilmu di Yogyakarta — dianggapnya menjadi kota yang begitu istimewa, dengan suasana budaya Jawa yang erat selalu didengarnya saat berdiri, duduk dan sambil ngopi — selalu ada dentingan bunyi-bunyian tradisional Jawa, baik itu dimainkan seniman lokal maupun internasional.

Mereka saling berdampingan bersatu padu memberikan bunyi-bunyian tradisional Jawa yang membuat pendengarnya merasa damai dan nyaman.

“Kota Jogja banyak memberikan saya perubahan mental dan karakter, Jogja salah satu tempat yang paling bersejarah dalam hidup saya dan susah dijelaskan dengan kata-kata. “Artinya, Pokoke Jogja memang Istimewa,” katanya sambil tertawa. t junaidi

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2