Waspada
Waspada » PAPPRI Live Tampilkan Komposisi Tidak Biasa, Namun Tetap Asyik
Features Headlines Hiburan Medan

PAPPRI Live Tampilkan Komposisi Tidak Biasa, Namun Tetap Asyik

HANNA Pagiet
HANNA Pagiet

PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi dan Pemusik Indonesia) Medan menyambut Hari Musik Nasional diperingati setiap tanggal 9 Maret menggelar acara PAPPRICA Live menampilkan sejumlah musisi dari berbagai genre dan generasi di Inbox Griya Sabtu (13/3) sore.

Disaksikan pengunjung terbatas, acara ini seperti penuturan Sayed Faisal Hussein selaku Ketua PAPPRI Medan menjadi wadah bagi para musisi menyalurkan kreatifitasnya, mengenalkan lagunya.

Dia juga berharap para musisi tetap semangat menciptakan lagu, karena sekarang sudah ada PAPPRI yang akan melindungi karya para musisi.

Lewat acara seperti ini, PAPPRI juga berusaha membangun kembali kejayaan panggung musik kota Medan menjadi barometer musik, bukan hanya tingkat nasional bahkan tingkat dunia, karena sekarang PAPPRI sudah bekerjasama dengan WEM USA ASCAP yang berpusat di Amerika Serikat.

Sayed mengajak para musisi yang mempunyai karya cipta (Lagu) baik dalam format MP3, mendaftarkan karya ciptanya ke PAPPRI yang nantinya akan dikonsolidasikan dengan komisi cipta Indonesia dan WEM USA ASCAP.

“Jadi jangan takut lagi, karya cipta teman enggak lagu, karena dengan adanya kerjasama dengan WEM USA ASCAP karya musisi Medan bisa didengar di mancanegara”, ujarnya dengan nada penuh semangat.

MUKAMURKA
MUKAMURKA

PAPPRICA Live menampilkan Niesya, Hanna Pagiet, Elisa Nauli, B’Fass, Jack Zie, Mukamurka, Sedalanen Etnik dan Bingo dibuka penampilan Jacky Raju Sembiring memainkan alat musik tradisi Karo Kulcapi dibarengi atraksi kontemporer Ndiker seni bela diri ataupun tarian berasal dari Tanah Karo cukup menarik perhatian pengunjung.

Jacky menyumbang tiga lagu masing-masing ‘Sinabung’, ‘Keadilan’ dan ‘Berjuang’ melalui musik ia berdoa untuk Gunung Sinabung yang sejak 2010 terus saja memuntahkan laharnya.

Ada semacam kegelisahan masyarakat Karo melihat Gunung Sinabung yang masih belum bersahabat ia gambarkan lewat syair lagu maupun atraksi Ndiker.

JACKY Raju Sembiring
JACKY Raju Sembiring

Tak kalah dengan Jacky Raju Sembiring, penampil berikutnya Elisa Nauli mencomot puisi karya Teja Purnama “Akulah Medan” menjadi tembang andalannya di acara tersebut.

Ia juga membawakan lagu “Toba” dan “Biarlah Bumi Bernyanyi”.

Musik garapan Elisa Nauli terdengar seperti tidak terpaku atas nama genre atau jenis musik tertentu, karena baginya musik adalah universal dan kebebasan berekspressi adalah ciri khasnya.

Elisa Nauli memulai karir solonya sejak 2018, sebelumnya ia pernah mendirikan grup Filsafatian dan sekarang ini sedang melakukan project kompilasi album dengan Paguyuban Balada Utara serta merekam beberapa karya untuk menyiapkan album perdananya.

Ia juga berencana melakukan project Tour Keliling Sumatera.

Hana Pagiet dikenal sebagai penyanyi folk Medan juga turut meramaikan panggung PAPPRICA Live dengan menenteng gitar akustik andalannya ia mempersembahkan lagu “Rindu” dan “Perempuan” yang cukup menggetarkan panggung dengan desahannya bikin pengunjung terkesima.

Tak cuma itu, yang menariknya di acara PAPPRICA Live ini, muncul talen muda menamakan dirinya B’Fass digawangi Bill, Febrianto, Angel, Steffany dan Shane menyumbangkan tiga lagu ciptaan sendiri “Mengukir Cinta” yang baru seminggu mereka ciptakan menjelang tampil di acara PAPPRICA Live, “Aku Suka Kami” dan “Abadikan Cinta”.

Grup ini mulai berkarya sejak tahun 2014, saat itu Fanny dan Angel masih duduk dibangku SMP kelas 2, dan Shane masih SD kelas 6, Febrianto SMA kelas 1.

B'FASS
B’FASS

Sejak memproklamirkan B’Fass anak muda asal Titipapan ini sudah punya tujuh lagu ciptaan sendiri yang sekarang lagi proses rekording untuk di upload ke youtube.

Menjelang magrib, terlihat antusiasme pengunjung yang tinggi terhadap talen yang tampil membuat suasana menjadi semakin ramai, apalagi setelah Jack Zie penyanyi tergolong produktif ini naik panggung mengandalkan lagu ciptaan sendiri “Rasa”, “Perasaanku”, dan “Ambigu” dibalut format musik Pop Rock menjadi andalannya cukup menyentak pengunjung.

Dan suasana pertunjukan walaupun tidak begitu ramai mengingat kondisi masih suasana Pandemi, tapi tidak mengurangi antusias pengunjung memberikan aplus serta menikmati suguhan musik yang ditampilkan para musisi.

Seperti halnya solois Niesya yang memulai karir solonya sebagai cover singer dan vlogger lewat situs youtube “Niesya Official” menampilkan single hitnya “Gundah”, “Kepergianku” dan “Aku Melihat Indonesia” dengan alunan folk nan jazzy.

Dan antusiasme pengunjung terlihat semakin seru saat kelompok Etnik Mukamurka naik panggung sebagai penutup pagelaran ini menyanyikan lagu “Sang Guru” dan “Sang Guru 2” sebuah komposisi yang mereka persembahkan buat para guru bercerita tentang kehidupan guru serta semua pengalaman hidup mereka dalam mengajarkan muridnya sebagai pencerah dalam membuka pintu ilmu para siswa.

Penampilan Mukamurka ditutup lewat lagu “Mbok Los”, mencerminkan hati yang sedang gembira.

Penonton tampak mengikuti alunan masik lagu tersebut menjadi ajang mempererat persaudaraan sebagai anak bangsa maupun sesama musisi serta penonton setia musik Indonesia.

Mukamurka adalah akronim dari musik Merdeka terbentuk 13 Oktober 2018 digawangi mantan mahasiswa Etnomusikologi USU yang semuanya memiliki kesamaan dalam hal berupaya untuk menggunakan dan berekspressi melalui idiom musik tradisi Indonesia dan dunia menjadikan suatu karya komposisi yang mungkin terdengar tidak biasa, namun tetap asyik untuk dinikmati.

t.junaidi

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2