Pangeran Harry Bahagia Tapi Patah Hati Pisah Dari Kerajaan Inggris - Waspada
banner 325x300

Pangeran Harry Bahagia Tapi Patah Hati Pisah Dari Kerajaan Inggris

  • Bagikan

Waspada –  Pangeran Harry disebut merasa sedih dan patah hati atas perpisahannya dengan keluarganya di Kerajaan Inggris.

Tetapi dia dan istrinya, Meghan Markle, merasa bahagia dengan kehidupan baru mereka di Amerika Serikat.

Dilansir Reuters, Senin (18/1/2021), hal itu disampaikan oleh penyiar dan orang kepercayaan pasangan tersebut, Tom Bradby.

Harry dan Meghan, pemilik gelar bangsawan Duke dan Duchess of Sussex itu, pindah ke Los Angeles bersama bayi laki-laki mereka, Archie, pada tahun lalu setelah mereka melepaskan peran resmi kerajaan mereka.

Ini menyusul perselisihan dengan anggota keluarga lainnya dan telah menjadi perhatian besar media.

“Saya pikir dia patah hati dengan situasi dengan keluarganya,” kata Bradby dalam sebuah wawancara untuk acara Love Your Weekend with Alan Titchmarsh di ITV.

“Tapi apakah mereka tidak bahagia di luar sana? Tidak, menurut saya itu tidak benar, saya pikir mereka sebenarnya cukup bahagia, tapi saya pikir mereka bergumul dengan posisinya dalam hidup, saya pikir mereka semua begitu,” tambahnya.

Bradby mewawancarai pasangan tersebut selama tur Afrika pada 2019 dan memberikan informasi tentang meningkatnya ketegangan dalam keluarga kerajaan sejak pernikahan mereka pada 2018 dan kelahiran putra mereka.

Terlihat Meghan yang menangis menggambarkan kesulitan menjadi ibu baru dan menghadapi pengawasan yang tiada henti.

Harry juga mengaku tidak setuju dengan kakak laki-lakinya, Pangeran William, yang berada di urutan kedua tahta.

“Yah, situasi dengan keluarga jelas-jelas tidak ideal dan ini merupakan tahun yang sangat sulit bagi mereka semua. Masih banyak rasa sakit hati di semua sisi dan itu sangat sulit,” tambahnya.

Film dokumenter Bradby tentang pasangan itu menunjukkan keputusan mereka untuk mundur dari semua tugas resmi kerajaan pada 2020.

Sejak itu Harry dan Meghan terus bekerja amal dan menandatangani kontrak TV dan media lainnya, meluncurkan podcast debut mereka pada Desember lalu.

Mereka juga mengajukan beberapa tuntutan hukum terhadap pers di Inggris atas pemberitaan yang melanggar privasi. (reuters/m11)

  • Bagikan