"KUK”: Grunge Musik Perlawanan Blown To Atom Atas Perbudakan

“KUK”: Grunge Musik Perlawanan Blown To Atom Atas Perbudakan

  • Bagikan
Blown To Atom. Sumber foto: Snot Sound Management
Blown To Atom. Sumber foto: Snot Sound Management

MEDAN (Waspada): Tema perlawanan bukanlah hal yang baru lagi dalam dunia permusikan terutama bagi musisi musisi berdiri di jalur independen (indie).

Musik bukan hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai media komunikasi untuk kritik sosial kepada pemerintah. Sebagai komunikasi massa, musik dapat merekam realitas dan menjadi sarana opini publik tentang kenyataan yang terjadi pada masanya.

Hal ini karena lirik dalam lagu dan gubahan musik para musisi mengisahkan pengalaman sejarah memiliki kedekatan secara emosional maupun pengalaman dengan para pendengarnya.

Bila diusut lebih besar, sebenarnya banyak sekali musisi di Indonesia yang melakukan kritik sosial lewat musik seperti Iwan Fals, Slank, Navicula, Efek Rumah Kaca, dan lainnya.

Minggu lalu sebuah karya musik perlawanan kembali terlahir dari tangan-tangan musisi muda kota Medan. Tepatnya di hari selasa 21 September 2021 pukul sembilan malam, Blown To Atom melaunching single terbaru mereka berjudul

“Kuk” yang di daulat sebagai single kedua mereka setelah “Hell” (single pertama band ini).

Tidak mau tanggung-tanggung mereka juga meluncurkan video clip dalam rentang waktu 4 hari setelahnya di kanal youtube milik Snot Sound Management. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kita karena ternyata regenerasi permusikan masih berjalan dengan baik di kota Medan mengingat setiap harinya para musisi muda bermunculan dengan karya-karya barunya.

Eksistensi Blown To Atom membuktikan kepada bahwa generasi Z tidak hanya berpangku tangan sambil menarikan lagu-lagu tik-tok dengan minuman boba di tangannya. Mereka turut serta memperhatikan kondisi sekitarnya dan menyalurkan opini-opini kecil mereka melalui jalur yang tepat yakni dengan berkarya.

Blown to Atom adalah band terbentuk pada September 2018 di kota Medan, dan mengusung aliran grunge. Personil Blown to Atom yaitu Noufal (Voc+Gitar), Acahansha (Gitar), Yatta (Drum), dan Arief (Bass). Blown to Atom sebagai band grunge menjadikan Pearl Jam & Soundgarden sebagai influence utama dalam bermusik.

Komposisi yang dikembangkan Blown to Atom mengusung tema musik yang biasanya bergema di era-era 90s. Namun riff-riff stoner, heavy metal, hardrock, dan blues menjadi prioritas karakter yang menonjol dalam karya-karya mereka.

“Kenapa grunge?”

Entah bagaimana mengungkapkannya, tapi melalui musik grunge kami bisa menyalurkan emosi kami yang sering dianggap pecundang ini. Ungkap Noufal (vokalis). Semua keterbatasan yang kami miliki dalam usia terbilang cukup dini ini sering dianggap sebagai kebodohan oleh yang lebih dewasa.

Padahal menurut kami semua yang terjadi saat ini adalah normal secara biologis. Perasaan tidak ingin diremehkan inilah yang membakar semangat kami dalam memainkan musik grunge. Kami bersatu membuat sebuah pertahanan yang tidak seorangpun bisa menembus dan meruntuhkannya. Melalui karya kami buktikan. Sama halnya dengan pergerakan musik Seatle sound yang akhirnya mempopulerkan grunge sebagai identitas musik daerah mereka ke hadapan seluruh dunia.

Untungnya dalam skena musik grunge di Medan, memiliki abang-abangan yang supportif dalam mendukung terjadinya regenerasi sehingga yang masih bocah seperti kami bisa percaya diri dalam berekspresi tanpa tekanan apapun.

“Perlawanan sebagai tema bermusik”

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang pakem seperti itu dalam proses berkarya kami, semuanya mengalir apa adanya. Namun jika dikaitkan dengan semangat berkarya, aku rasa perlawanan adalah kata yang tepat untuk menjelaskan karya-karya kami saat ini mengingat usia kami yang masih dalam fase berkobar-kobarnya, pungkas Aca (gitaris). Baik itu single pertama (Hell) ataupun yang kedua (KUK), keduanya menceritakan tentang penolakan kami terhadap kebatilan.

Dimulai dari zaman film Batman Begins sampai sekarang kami masih percaya bahwa cepat atau lambat kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Dan kami harap akan benar demikian. Berbeda dengan single pertama Blown To Atom “Hell” yang mengkritisi orang-orang bermuka dua dalam keseharian, kali ini mereka memberanikan diri mengkritisi pemerintah dengan cara yang halus.

Bukan pemerintah, lebih tepatnya penguasa. Siapapun itu. Kami berbicara tentang “THE MAN”. Tentang dia yang berperan besar dalam memegang kendali atas keberlangsungan hidup seseorang dan memainkannya sesuka hati. Sahut Yatta (drummer). Penyelewengan kekuasaan tidak hanya terjadi di departemen negara, tapi juga terjadi di sekolah, lingkungan kerja, bahkan didalam rumah.

Terkadang seseorang merasa sudah banyak memberi, kemudian ia melewati batasan kemanusiaannya dan berpikir dia memiliki hak penuh dalam pengendalian orang yang sudah menerima pemberiannya tadi. Namun untuk visualisasi pintas, perbudakan dalam pemerintahan memang lebih menonjol sih hehehe. Peace.

“KUK (Kekuasaan Ujung Kerakusan)”

Kuk bukanlah sebuah singkatan, kuk memiliki arti tersendiri hanya saja bertepatan dengan lirik pada bagian reff di dalam lagu yakni “perbudakan abadi, kekuasaan di ujung kerakusan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kuk adalah kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati dan sebagainya).

Karya seni lukis digital milik Sheila Mahal (seorang seniman) menggambarkan lembu sedang menarik bajak dengan kuk pun dipilih sebagai artwork untuk cover single ke-2 Blown To Atom kali ini. Cover single ini pun mengundang banyak perhatian. Kehadiran lembu bertanduk dengan garis frame berwarna merah kerap kali dikaitkan dengan persoalan parpol oleh para penikmat seni.

Hal ini langsung dibantah oleh para personel Blown To Atom. Begini komentar mereka “itu lembu, bukan banteng, menurut seniman kami background biru kusam pada latar belakang merupakan lambang dari kesedihan orang-orang yang terjebak dalam perbudakan, sementara garis berwarna merah di tepi artwork sebagai bingkai itu adalah kemarahan mereka yang tertahan. Tolong jangan kaitkan kami dengan urusan partai”.

“Proses kreatif dalam penggarapan video clip KUK”

Dalam video clip ini Blown To Atom menyoroti sejumlah permasalahan mengenai ketenagakerjaan dan rentetan dampaknya di Indonesia pada masa kini dan bahkan sampai di masa penjajahan dulu.

Mungkin ini yang mereka sebut dengan “perbudakan abadi”. Proses kreatif pembuatan video clip ini tidak sampai 1 hari. Tepatnya (4 jam take, dan 8 jam untuk editing). Dalam penggarapan secara DIY (do it yourself) video ini berlokasikan di rooftop sama sisi coffee shop milik sahabat kami ryan yang sekarang juga merupakan basecamp dari snot sound.

Video ini di konsep oleh kak Sheila sebagai cameraman, sekaligus editor dan bang rully sebagai assisten sekaligus lightning designer. Berbagai adegan wujud perbudakan diperankan oleh kami sendiri. Dengan segala kesederhanaan dan kebersamaan selama proses penggarapan video, tanpa sadar telah membuat kami semakin kompak dan bersemangat untuk meluncurkan karya-karya berikutnya. Sambut Arief (bassist).

“Perjalanan Blown To Atom dalam skena musik grunge di Medan” Berawal dari hobi memainkan musik dalam studio sampai akhirnya terangsang karena melihat pergerakan dari Grunge Sumut menggelar konser grunge nite dengan menampilkan sejumlah band grunge lokal Medan di Pitu Room Medan pada tahun 2016.

Seperti ada yang bergejolak dari dalam diri setelah pulang dari sana. Akhirnya aku putuskan mengajak teman-teman buat bentuk band grunge. Namun sangkin underatednya genre grunge dikalangan anak Medan saat itu, Blown To Atom baru terbentuk menjadi sebuah band di tahun 2018.

Pasang surut pasti selalu ada dalam setiap kisah dunia musik terutama untuk group band. Blown To Atom sendiri telah melalui berbagai fase sejak tahun 2018 hingga saat ini. Dimulai dari masalah internal seperti keluar-masuknya personel band, hingga minimnya panggung yang bisa kami jajaki tidak membuat kami patah semangat. Ibarat kata “jika ditanganmu ada kutil, bukan berarti tangannya yang harus di potong”. Kata Noufal.

Akhirnya kami memutuskan untuk menciptakan panggung kami sendiri bersama Snot Sound dan Grunge Sumut (komunitas musik grunge di Medan) secara gotong-royong walaupun sulit harus terus dijalani. Untuk kedepannya kami berharap pemerintah menyediakan setidaknya satu ruangan saja untuk anak-anak seperti kami agar bisa menyalurkan ekspresi kami ke dalam jalur yang tepat. Sebab kami kesulitan mencari tempat untuk melaksanakan gigs (acara musik).
Youtube channel: Snot Sound Ig: blowntoato. (m12)

  • Bagikan