Rasanya tak berlebihan bila seorang Ahmad Dhani menyebutkan bahwa sosok Jan Djuhana sebagai ‘doktor’ bidang lagu hit. Karena telah terbukti lagu “Kangen” miliknya yang dia sendiri kurang suka, di tangan beliau menjadi hit sepanjang masa.
Tak cuma Ahmad Dhani, kelompok band Hijau Daun juga pernah mengalami hal yang sama karena lagu mereka berjudul “Suara” (Ku Berharap) semula mereka sodorkan ke label mayor, tetapi tidak diterima.
Kemudian dengan nalurinya, Jan menangkap daya jual lagu itu hingga dia berani mempublish, alasannya karena dalam industri musik, kita juga mengenal segmentasi pasar A,B,C dan D.
“Saya melihat Hijau Daun cukup bagus untuk pasar C dan D. Orang mungkin memperdebatkan kualitas musik, kemampuan vokal sebuah band, tetapi dalam industri musik, lagu yang berkarakter kuat adalah segalanya, tak peduli kualitas pembawanya”, begitu katanya saat bertemu dengannya sebelum konser Sheila On 7 berlangsung di Lanud Medan akhir pekan lalu ditemani Hansen Teo pemilik toko kaset dan CD ET-45.
Saat bertemu dengannya Jan juga memberikan buku berjudul ‘Di Balik Bintang’ ditulis Frans Sartono berisi perjalanannya mengulik industri musik Indonesia sebagai seorang perekam kaset amatiran lagu Barat yang ditransfer dari piringan hitam ke kaset hingga menjadi profesional di dunia produksi rekaman.
Tumbuh di lingkungan keluarga yang sering memutar lagu-lagu pop membuat Jan Djuhana memiliki kepekaan dalam menemukan bintang-bintang di jagat musik pop Indonesia. Melalui telinganya, kita kemudian mengenal lagu-lagu dari Kla Project, Dewa 19, Sheila On 7, Padi, /rif, Glenn Fredly, Changcuters, Superman Is Dead, Burgerkill, Cokelat, Audy, Bondan & Fade2Black, Yovie & Nuno, Gigi dan deretan artis lainnya.
Telinga Jan Djuhana diakui penulis buku ini Frans Sartono sangat peka ‘mengendus’ potensi artis yang dia proyeksikan daya jualnya, jauh sebelum karya artis tersebut terdengar.
Dewa 19 misalnya, sebelumnya pernah menawarkan diri ke perusahaan lain dan ditolak. Sebaliknya, telinga Jan menangkap kekuatan lagu-lagu Ahmad Dhani beserta kawan-kawannya dan kemudian kita mengenal lagu ‘Kangen’ yang meledak.
Keberhasilan sebuah lagu, kata Jan, selain pengolahan musik juga memerlukan karakter, karena sebuah lagu bisa terkenal, meski mungkin kemasan musik maupun vokal si penyanyi sebenarnya sederhana saja. Namun karena ada bagian yang berkarakter kuat, maka lagu tersebut singgah di telinga orang.
Jan juga mengaku dia sering mengubah judul lagu, karena dalam bisnis musik pop, judul lagu mempunyai peran penting sebagai daya tarik. Memang, materi utama sebuah lagu itu berupa melodi, lirik dan aransemen.
Namun judul yang menarik perhatian akan memberi nilai tersendiri, karena judul lagu itu mewakili isi dan makna yang terkandung dalam lirik lagu. Misalnya ia memberi contoh kelompok band /rif pernah memberi judul lagunya “Perang” lalu dia usulkan diganti menjadi ‘Fight”.
Judul ‘Perang’ pada lagu itu memang sebuah metafora tentang perjuangan hidup. Lagu itu bicara tentang kerja keras untuk mengais rezeki guna bertahan hidup. Akhirnya anggota /rif setuju menggunakan judul ‘Fight’ langsung merujuk pada esensi lirik, yaitu keberanian dan ketekunan dalam perjuangan hidup. “Jika judulnya ‘Perang’ kok rasanya bisa berkonotasi konfrontatif, ada lawan yang harus diperangi. Selain itu “Perang’ menurut saya kurang komersial”, ujarnya.
Dia juga katanya, menyukai judul yang ‘to the pont’, langsung menunjuk ke isi lagu. Selain itu, judul harus catchy, karena mampu merebut perhatian orang. “Judul yang menarik akan disimak liriknya oleh pendengar”, katanya.
Minimore contoh lain pernah membawakan lagu ‘Permintaan Hati’ ciptaan Ibni dan Willy, lagu itu disarankannya diganti judulnya dengan “Aku Cinta Dia”, karena judul ‘Permintaan Hati’ agak abstrak dan susah dicerna.
Disebutkannya, saat menentukan judul lagu, Jan Djuhana tidak terpikir bahwa ada lagu yang berjudul sama. Judul “Aku Cinta Dia” memang bisa dibilang klise, tetapi di dalam lagu pop, bukankah judul lagu berputar di antara kata cinta, begitu juga di ranah lagu pop dunia, ada puluhan judul lagu dengan kalimat ‘I Love You”, tetapi orang tetap suka, ujarnya.
Penghayat Lagu
Selain sebagai produser, Jan Djuhana juga menempatkan diri sebagai pendengar, penikmat dan penghayat lagu. Kalau dalam penikmatan itu ada sesuatu yang terasa mengusik telinga, dan sebagai pendengar akan berkomentar. Namun sebagai produser, dirinya harus bertindak yaitu perlu membuat semacam revisi atas lagu itu.
Katanya, merevisi demi hasil yang lebih optimal bukanlah tabu dalam industri musik. “Saya bahkan merevisi apa yang sudah kami rancang dan rekam, misalnya pada lagu “Bendera” ciptaan Eross dibawakan Cokelat. Semula kami merancang duet Kikan dan penyanyi cilik Kenny. Kebetulah lagu itu menjadi lagu tema film Bendera (2002) karya Nan Triveni Achnas melibatkan pemain anak-anak.
Kebetulah katanya, Kenny adalah artis di bawah Sony Wonder, khusus menangani lagu anak. “Kami ingin ‘Bendera’ dikenal luas oleh anak-anak, selain juga agar nama Kenny ikut berkibar, namun setelah saya dengar berulang-ulang, duet Kikan dan Kenny pada lagu itu terasa nyomplang. Karakter vokal mereka tidak matching, kami tidak ingin memaksakan diri sehingga terpaksa Cokelat membawakan lagu itu sendiri hasilnya sangat popular”.
Jan menyebutkan, sebagai penikmat juga produser, dirinya memang ingin ada hal baru, selain terpesona. “Saya pernah menangani ‘Aku Jatuh Cinta’nya Roulette yang akan dibawakan penyanyi Regina Ivanova. Saya ingin lagu itu dibuat dengan aransemen yang berbeda dari versi Roulette. Saya lalu meminta tolong Stephan Santono untuk membuatkan aransemen akustik yang berbeda dengan aransemen versi Roulette”.
Jan menyebutkan, dirinya mempunyai selera ideal, namun dia juga harus mengejar selera pasar. Dalam hal ini yang dilakukannya adalah menyeimbangkan selera standar dirinya dengan kebutuhan pasar.
Dalam industri musik katanya, dikenal istilah karakter, kira-kira ini adalah semacam sifat bawaan yang melekat pada si artis. Bisa juga karakter itu dibangun oleh artis, kemudian mempribadi dan menjadi ciri, karena dari ciri itu, mereka lalu dikenali publik.
Akhirnya sepak terjangnya setelah 25 tahun malang melintang di usaha perekaman musik, Jan Djuhana bergabung dengan Sony Music Indonesia pada 31 Maret 1997 dipercaya menduduki posisi direktur A&R. Kemudian 3 Maret 2014, bergabung dengan Universal Music Indonesia.
Jan bercerita bahwa dirinya memulai jalan hidup di dunia perekaman musik berawal dari sebuah toko berukuran 4 meter persegi di Pancoran Jakarta Barat. Itu adalah toko penjual peralatan rumah tangga. Di sanalah, pada 1968 dia mulai menjual kaset yang lagu-lagunya direkam sendiri dari piringan hitam ke pita kaset kemudian ikut membentuk Team Records memiliki katalog sangat luas mulai pop, rock, jazz, funk, soul sampai country.
Semasa remaja Jan juga tak bisa menahan gejolak remajanya ikut ngeband masa- masa di bangku SMA pada 1967-1970. Bermain musik untuk menyalurkan hobi yang penting bisa tampil, walaupun tidak dibayar, karena ada rasa puas dan bahagia serta bersenang-senang.
Dan tak berlebihan pula bila Tantowi Yahya-pembawa acara, penyanyi juga mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Selandia Baru menyebut bahwa Jan Djuhana menusia berselera emas, karena total hidupnya untuk musik.
Dia begitu mencintai industri musik, meski harus melalui banyak pasang surut. Hampir semua kisi dari musik pernah dia lakukan mulai dari pemain band, distributor, produser sampai peretail dilakoninya yang membuat dirinya menjadi figur paripurna. t.Junaidi
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.